Tampilkan postingan dengan label Tokoh NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh NTT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2011

Perspektif Pemerintahan Sony Libing


ZET Sony Libing meraih gelar doktor ilmu pemerintahan di Universitas Padjajaran Bandung, pada usia 39 tahun. Ia merupakan satu dari sedikit putra-putri NTT yang menggapai doktor pada usia yang masih tergolong muda. Disertasinya tentang perilaku pemerintahan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di NTT, studi kasus di beberapa kabupaten, diantaranya Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Alor dan Kabupaten Rote Ndao.

"Waktu kecil saya hanya bermimpi menjadi sarjana. Namun, Tuhan menuntun saya sampai doktor. Menjadi doktor adalah berkat Tuhan. Oleh karena itu, harus menjadi saluran bagi sesama," ujarnya.

Saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Liliba, Kota Kupang, pekan lalu, Sony menjelaskan tentang perilaku pemerintahan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Tentang aktivitasnya sebagai PNS, konsultan pemerintah daerah dan dosen. Ia menceritrakan mengenai keluarganya serta kegemarannya, membaca dan joging. Selain itu, ia juga mengutarakan tentang obsesinya. Berikut ini petikan wawancara wartawan Pos Kupang, Alfons Nedabang dengan DR. Zet Sony Libing, M.Si.


Mengapa tertarik dengan ilmu pemerintahan?

Pemerintahan itu suatu organisasi formal yang punya visi mulia. Ia satu-satunya organisasi yang diserahi kewenangan oleh negara untuk mengelolah negara, sambil membangun kerja sama dengan komponen lain. Ia variabel determinan dari negara, dan mendapat kepercayaan menjalankan tugas negara. Kedua, banyak orang yang bekerja dalam lapangan pemerintahan tetapi terlalu sedikit yang mengerti pemerintahan. Karena visi mulia pemerintahan dan juga karena praktek-praktek pemerintahan itu banyak terjadi pengingkaran terhadap visi mulia itu. Maka, saya merasa tertarik untuk melakukan studi ilmu kepemerintahan.
Selain itu, ayah saya seorang kepala kampung. Setelah itu menjadi kepala desa hampir 30 tahun. Kakek saya, juga kepala desa. Mungkin itu yang mengalir dalam diri saya.

Dari studi mengenai praktek penyelenggaraan pemerintah daerah, apa yang Anda temukan?

Ada tiga persoalan besar. Pertama, birokrasi pemerintahan yang punya peran yang begitu besar dalam menjalankan kebijakan pembangunan itu, masih pada posisi dimana kemampuan untuk mengidetifikasi masalah yang tepat tentang kebutuhan dan permasalahan rakyat, belum sempurna. Kedua, kemampuan merumuskan kebijakan-kebijakan dan program-program pembangunan yang berkaitan dengan masalah riil rakyat, belum optimal. Hal ketiga, kemampuan untuk menjalankan program-program, juga belum optimal di lapangan. Sebenarnya, ada satu hal lagi, yaitu jiwa besar dalam melakukan asesmen atau penilaian terhadap program yang dijalankan, itu pun belum profesional. Tidak punya jiwa besar untuk mengatakan kinerjanya rendah atau belum optimal.

Apa penyebabnya?

Good will dan political will serta komitmen dari disesenmaker untuk menempatkan birokrat tepat pada tempatnya. Artinya, profesionalitas birokrasi pemerintrahan ditempatkan pada posisi yang tepat sesuai kealihannya, kadang terabaikan. Pada saat yang bersamaan, pada tataran birokrasi pemerintah itu sendiri, menemukan persoalan profesionalitas, komitment, perilaku, mentalitas, mid zet, mengapa dia menjadi biokrat, apa tugasnya dan bagaimana dia mengerjakan tugasnya. Tetapi, pada saat yang bersaman juga pemerintah itu tidak bisa berubah sendirinya jikalau tanpa ada sosial control dari rakyat, dari civil society, pers, LSM berkewajiban mengontrol sehingga pemerintah bekerja sesuai aturan dan mekanisme yang ada, dan sesuai dengan visi pemerintahan itu sendiri.

Itu artinya, reformasi pemerintahan belum berjalan. Pendapat Anda?

Menurut saya, dalam kapasitas orang yang melakukan studi kepemerintahan, sebenarnya bukan reformasi birokrasi yang dilakukan menjadi tren perubahan tetapi reformasi pemerintahan. Ia berkaitan reformasi dengan lembaga legislatif dan eksekutif, kepala daerah di dalamnya juga berkaitan dengan birokrasi. Sebab, birokrasi kepemerintahan itu bukan disesten maker, dia menjalankan kebijakan-kebijakan pemerintahan yang ditetapkan oleh kepala daerah dan juga DPRD. Jadi menurut saya, birokrasi yang kita anut di Indonesia, belum dapat ditempatkan untuk secara profesional sebab ia dibawah sub ordinat politik. Undang-undang mengatakan netralitas PNS tapi pada saat yang bersamaan pembina PNS adalah kepala daerah yang adalah pejabat politik sehingga sulit untuk ia dapat bertindak profesional kecuali komitmen dan good will serta political will kepala daerah untuk melakukan restrukturisasi birokrasi, penempatan profesional birokrat pada tempat dan menilai kinerja birokrat.

Upaya mewujudkan good goverment dan good governance dapat terwujud?

Saya melihat bahwa ada semangat untuk melakukan pembaharuan. Spirit ke arah menciptakan pemerintahan yang baik sehingga menjalankan tugas dengan baik, sehingga bisa memberikan kebaghagian dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Semangat ke arah itu ada. Ada perbaikan-perbaikan. Bagaimana pemerintah mengajak perbagai komeponen yang lain untuk bersama-sama merumuskan menjalankan kebijakan publik. Jadi, ada semangat ke arah itu untuk menjalankan program yang baik untuk masyarakat. Demikan juga dalam hal bagaimana meningkatan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. Sudah dilaksanakan anggaran berbasis kinerja. Itu program pusat tapi dijalankan pemerintah daerah. Saya melihat upaya itu sudah dan sedang dilakukan ke arah perbaikan. Bahwa dalam pelaksanaannya, ada problem yang menyertainya, itu wajar. Kata orang, tidak ada satu pelayaran itu aman. Aman jika dia sudah sampai di pelabuhan/dermaga.

Kerap terdengar masyarakat mengeluh tentang praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pencermatan Anda?

Itu memang nyata terjadi. Pada tataran publik itu, birokrasi pemerintahan belum memberi pelayanan yang baik. Ada satu hal penting yang kadang terabaikan dalam pelayanan pemerintahan yaitu, soal pengendalian program dan pengawasan terhadap pelaksanaan program oleh pimpinan, kadang terabaikan. Itu yang saya melihat. Saya melihat sangat jarang, birokrasi pemerintah turun ke rakyat untuk melihat dari dekat pelayanan publik yang diberikan oleh staf. Mungkin ini otokritik. Dahulu, kepala daerah turun ke masyarakat, berdiskusi dan lego-lego (tarian adat Alor). Mereka berhari-hari dengan rakyat di desa.
Dalam teori pemerintahan, apapun persoalan yang dihadapi masyarakat, jika pemerintah mampu menjelaskan mengapa persoalan itu terjadi dan mengapa pemerintah harus mengambil kebijakan itu, rakyat bisa menerima.
Persoalan yang kita hadapi terkadang kita tidak mampu merasionalisasikan persoalan dan kebijakan yang diambil dihadapan rakyat. Padahal, pemerintah bekerja untuk rakyat. Andai dijelaskan secara rasional kepada rakyat, rakyat bisa menerimanya walau kebijakan itu merugikan rakyat.

Berarti, komunikasi kepala daerah dengan rakyat sangat formal?

Iya. Kemampuan untuk melakukan komunikasi dengan rakyat, belum berjalan baik, yang terjadi sangat formal. Misalnya, kalau rakyat mengundang untuk turun meresmikan gereja, masjid dan jembatan. Jika tidak diundang maka tidak hadir.
Sesungguhnya, 80 persen keberadaan kepala daerah di tengah rakyat. Sisanya, 20 persen untuk kegiatan administrasi di kantor. Karena tugas administrasi kepemerintahan itu sebagian besar sudah dilaksanakan oleh kepala administrasi kepemerintahan yaitu, sekda. Terkadang, tugas-tugas administrasi pemerintahan diambil alih oleh kepala daerah. Tugas kepala daerah sesungguhnya adalah turun untuk hidup bersama rakyat. Jadi, 80 persen harus bersama rakyat. Untuk melihat program, apakah bermasalah, bermanfaat bagi rakyat atau tidak. Sekaligus memberi dan mendengar masukan dari rakyat. Seorang kepala daerah, walaupun dia memiliki legitimasi politik yang tinggi oleh rakyat dalam proses politik, belum memberi jaminan baginya untuk menjalankan tugas-tugas pemerintah secara tepat.
Kepala daerah memiliki good will, political will dan komitmet yang kuat untuk melakukan restrukturisasi organisasi sehingga organisasi itu ramping. Kemudian, memiliki good will, political will dan komitmen untuk menempatkan orang di bidangnya. Memiliki good will, political will dan komitmen melalukan reward dan punishment secara tegas. Kemudian, melakukan evaluasi kinerja. Melakukan pengendalian program dan juga kontrol yang ketat terhadap pelaksanan program di tingkat rakyat, setiap saat.

Apa kendalanya?

Pertama, soal pengetahuan berpemerintahan. Kedua, soal good will, political will dan juga soal komitmen untuk berkarya bagi rakyat. Menjadi kepala daerah bukan tujuan. Ia hanya sarana untuk memenuhi tujuan utama yakni kesejahteraan rakyat. Ada beberapa kepala daerah yang mungkin alpa dalam memandang bahwa tujuan politik sebenarnya adalah kesejahteraan rakyat. Kadang, ada yang saya lihat bersyukur kepada Tuhan karena saya telah menjadi kepala daerah. Tujuan sudah tercapai, karena saya sudah menjadi kepala daerah. Menurut saya, bersyukur kepada Tuhan itu pada akhir masa jabatan. Terima kasih kepada Tuhan karena Tuhan telah memberi hikmat akal budi sehingga saya bisa memimpin rakyat dengan baik. Pengucapan syukur dilakukan pada akhir masa jabatan. Kalau tidak mencapainya maka berdoa kepada Tuhan mohon ampun karena saya tidak bisa menjalankannya dengan baik.

Indikasi rendahnya pengetahuan berpemerintahan?

Tidak demikian. Tidak semua kepala daerah datang dengan latar belakang pemerintahan. Walapun ia memiliki legitimasi rakyat yang tinggi tapi ia memiliki good will, political will, meski ia tidak bisa belajar tentang pemerintahan, bisa saja.
Sekarang, dengan sistim politik yang terbuka, siapa saja bisa dipilih rakyat. Kalau saja seorang kepala daerah itu baru saja menduduki jabatan, ia sendiri datang dari latar belakang yang sangat berbeda dengan pemerintahan, ia bisa menggunakan staf ahli. Ia bisa menggunakan orang-orang yang pintar dalam bidangnya, untuk memberikan advis dalam berbagai bidang. Ahli dalam bidang pemerintahan, ahli dalam bidang ekonomi, ahli dalam bidang hukum. Ahli dalam bidang tata kota. Menggunakan ahli-ahli itu memberi masukan setiap saat. Jadi, staf ahli yang saya maksud itu adalah di luar dari staf ahli dalam struktur pemerintah. Bisa diambil dari perguruan tinggi. Sebenarnya, ahli-ahli di perguruan tinggi itu bisa diminta untuk duduk dalam jabatan struktural. Fadel Mohammad sewaktu menjadi gubernur Gorontalo, menggunakan profesor dari Universitas Hasanuddin. Aturan memungkinkan untuk itu.

Apakah ada teori pemerintahan yang menginspirasi Anda?

Iya, saya terinspirasi pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel bagimana menempatkan birokrasi pemerintahan yang bekerja profesional bagi rakyat. Saya juga terinspirasi dengan teori Ryaas Rasyid, yang memandang pemerintah itu adalah amanah bagi rakyat. Pemeritntah bertugas untuk melayani supaya rakyat mendapat keadilan. Pemerintah bertugas memberdayakan rakyatnya, supaya rakyat mandiri. Pemerintah menjalankan program pembangunan supaya rakyat sejahtera. Saya juga terinspirasi dengan teorinya John Stuart Mill Jr tentang goverment repsentatif. Suatu pemerintahan yang di dalam struktur pemerintahan itu tergambar berbagai etnis. Representatif etnis dan golongan ada di dalam pemerintahan sehingga rakyat merasa sense of belonging terhadap pemerintahan, karena semua kepentingannya itu tergambar dalam struktur pemerintahan. Kata kunci di dalam itu, profesional. Teori-teori itu sangat luar biasa.

Selain sebagai PNS, punya aktivitas lain?

Saya mengajar di Fisip Unwira, ilmu pemerintahan sejak tahun 2009. Kemudian di Fisip Undana, mata kuliah pengantar ilmu politik, ilmu pemerintahan, politik lokal dan otonomi daerah, juga sejak 2009. Saya mengajar setiap hari Kamis dan Sabtu. Saya meminta jadwal pas jam istirahat kantor. Satu jam untuk mengajar.
Saya juga konsultan pemerintahan Kabupaten Teluk Bindama, Kabupaten Teluk Bitumi dan Kabupaten Sorong Selatan, Propinsi Papua Barat. Tiga kabupaten itu merupakan daerah pemekaran. Jika ada waktu, saya terbang ke sana.

Bisa ceritrakan awal mula menjadi konsultan?

Ketika saya studi di Jakarta, punya teman-teman orang Papua. Pulang ke sana, dan mereka menceritrakan kepada bupati mereka. Setelah itu, bupati mereka menghubungi saya, kami berkomunikasi. Saat diminta, saya menyatakan siap memberikan pikiran-pikiran tentang bagaimana membangun daerah yang baru terbentuk. Saya beri pemikiran tentang bagaimana mengelola pemerintahan yang baik, bagimaana menjalankan pemerintahan itu sehingga memberikan manfat bagi masyarakat. Dan, saya melihat, ketiga kabupaten itu berkembang dengna baik.
Saya senjadi konsultan sejak tahun 2005, saat saya studi doktor. Jadi, sambil saya studi sampai dengan sekarang ini, saya diminta memberi pikiran.

Seberapa intens advis yang Anda berikan?

Kalau saya punya waktu, saya ke sana (Papua). Kalau tidak, kami bertemu di Jakarta. Sekarang jaman teknologi, jadi komunikasi juga bisa lewat e-mail dan telepon. Terakhir kami komunikasi tentang penanganan banjir Wasior, Kabupaten Teluk Mindana.

Terhadap semua pencapaian yang diraih, apa maknanya bagi Anda?

Inilah jalan Tuhan yang terindah dalam hidup saya. Sebab apa yang saya capai sekarang ini, walaupun belum sempurna, bagi saya sangat luar biasa jika dibandingkan dengan saya hanya seorang anak petani. Saya sekolah dengan susah payah, tinggal dengan orang, mencari kayu api, mencuci dan menyapu halaman, ternyata saya mencapai hal seperti ini, yang tidak pernah terlintas dalam pikiran saya jauh sebelumnya. Waktu itu, saya bercita-cita sebagai seorang sarjana, ternyata Tuhan memberi berkat bagi saya sebagai seorang doktor. Ini suatu berkat Tuhan yang terindah dalam hidup saya. Dan tugas saya membagi berkat bagi sesama.

Apa obsesi Anda?

Ya, cita-cita saya bagaimana menjadi saluran berkat bagi sesama. Saya menerapkan ilmu saya, supaya menjadi kemaslahatan bagi umat. Ilmu itu bukan untuk diri tapi harus bermanfaat bagi orang lain. Karena studi saya adalah studi pemerintahan maka saya juga berkeinginan, jika suatu saat nanti, rakyat di suatu tempat mempercayakan dalam jabatan pemerintahan dalam posisi top manjemen maka saya siap melaksanakan/menjalani. Kalau rakyat menghendaki dan Tuhan berkehendak, maka dengan ilmu yang saya miliki ini saya bersedia membagikannya. Bagaimana mengelola pemerintahan secara profesional sehingga bermanfaat bagi rakyat. Kehadiran pemerintah sebagai solusi bagi masalahnya rakyat. (*)


Bergumul Mencari Pendamping

SONY Libing berasal dari keluarga petani. Ia anak kedelapan dari 13 bersaudara. Setelah tamat SD GMIT Pantar pada tahun 1982, ia hengkang ke Kabupaten Sikka mengikuti kakaknya, dan sekolah di SMP Renya Rosari Kewapante dan SMA Negeri Maumere. Setelah tamat, ia melanjutkan studi ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Kupang, dan selesai tahun 1990. Selanjutnya, diangkat menjadi pegawai negeri dan memulai karier bekerja di Wolojita, Kabupaten Ende.

Dalam perjalanan, Sony ditarik menjadi instruktur pada Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) di Bandung, kemudian menyelesaikan pendidikan S1 pada Institut Ilmu Pemerintahan di Jakarta. Pada tahun 1999, ia melanjutkan studi S2 Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjajaran, Bandung, selesai tahun 2001. Tahun 2003, ia studi doktor, juga di Universitas Padjajaran.

"Saya mendapat beasiswa pemda, mulai dari APDN sampai studi doktor. Saya berhutang kepada daerah. Saya berhutang kepada masyarakat karena dari hasil jual sirih pinang dan jagung, membiayai saya sekolah. Saya memiliki tanggung jawab untuk daerah dan masyarakat," ujar Sony yang mengidolakan Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI Jakarta), Jack Jobo (mantan Bupati Alor) dan Piet A Tallo, SH (mantan Gubernur NTT) ini.

"Saya berhutang kepada daerah dan rakyat. Saya harus membagi berkat yang saya miliki untuk NTT. Salah satu bentuknya, saya membagi ilmu setelah menjadi konsultan. Saya membagi ilmu kepada mahasiswa saya di Fisip Unwira dan Fisip Undana, sehingga suatu saat mereka menjadi birokrat, mereka menerapkan ilmu yang saya berikan," tutur Sony.

Sony menikah dengan pujaan hatinya, Yanti Lisda Silfana Libing Manafe pada tahun 1999. Namun, pada Maret 2009, istrinya meninggal, beberapa saat setelah ia menyelesaikan studi doktor.

Sony menyadari bahwa kesibukannya semakin tinggi. Oleh karena itu, ia harus mencari pendamping agar bisa mengatur dan memperhatikan dirinya, termasuk mengurus rumahnya yang tergolong luas, dibangun di atas lahan berukuran 40 x 60 meter. Ia juga memiliki dua mobil, jenis Nissan Terano dan sedan Corona.

"Saya sedang bergumul, bisa mendapatkan pengganti seperti almarhumah. Saya berdoa memohon kepada Tuhan mengganti istri saya," ujar pria yang suka joging ini.

Sony gemar membaca. "Saya dosen, jadi harus membaca. Kalau tidak di rumah, saya baca di kantor. Saya suka buku pemerintahan dan juga buku-buku praktis kepemimpinan. Sekarang membaca buku Barack Obama," tutur Sony.

Ia mengaku punya perpustakaan pribadi, dengan 750 buku. Buku-buku itu ia beli sendiri, sejak masih sekolah di APDN. "Setiap saya pergi tugas saya harus membeli buku, minimal dua buku," katanya.

Sony juga sering diundang untuk berdiskusi dan berceramah. Topik diskusi seputar permasalahan pemerintahan. Beberapa waktu lalu, ia menghadiri diskusi di Jakarta, diselenggarakan UNDP, tentang apakah gubernur dipilih rakyat atau DPRD atau ditunjuk oleh pusat. (aca)

Biodata

Nama : DR. Zet Sony Libing, M.Si
TTL : Alor, 13 Juli 1968
Istri : Yanti Lisda Silfana Libing Manafe, SH (almh)

Pendidikan
- SD GMIT Pantar (1982)
- SMP Renya Rosari Kewapante, Sikka
- SMA Negeri Maumare (1988)
- APDN Kupang (1990)
- Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) di Jakarta (1997)
- S2 Universitas Padjajaran, Bandung (2001)
- S3 Universitas Padjajaran, Bandung (2009)

Orang tua
Ayah : Petrus Masi Libing (alm)
Ibu : Mariam Blegur (almh)

Krier/Pekerjaan
- Pegawai di Wolojita, Kabupaten Ende (1990-1993)
- Instruktur pada STPDNBandung (1993-1995)
- Staf Biro Pemerintahan Setda NTT (1997-1999)
- Staf Biro Organisasi dan Penyusunan Program Setda NTT (2001-2003)
- Kepala Sub Bidang Data dan Analisis Perencanaan Pembangunan Daerah pada Bappeda Propinsi NTT
- Kepala Bidang Pengembangan Investasi pada BPMD NTT
- Konsultan pemerintahan daerah di Papua Barat
- Dosen Fisip Undana
- Dosen Fisip Unwira Selanjutnya...

Minggu, 26 April 2009

Selamat Jalan Pak Piet



Mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe (kiri) menjenguk Piet A Tallo






TIDAK ada yang kebetulan di bawah kolong langit. Semuanya sudah dalam rencana Tuhan. Itulah salah satu ungkapan khas yang selalu diucapkan oleh Piet Alexander Tallo, S.H, dalam banyak kesempatan ketika memimpin NTT selama dua periode. Kini, Gubernur NTT periode 1998-2008, itu telah tiada. Bupati TTS dua periode itu telah menghadap Sang Khalik pada Sabtu (25/4/2009) malam di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Piet Tallo menjadi Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) 1983-1988. Selama lima tahun memimpin TTS, rakyat setempat masih mencintainya sehingga melalui DPRD setempat dipilih kembali menjadi Bupati TTS untuk periode 1988-1993. Ketika memimpin TTS 1983 - 1993, Piet Tallo menjadi sangat populer tatkala ia mencetuskan Program Cinta Tanah Air.

Di daerah yang terkenal sebagai penghasil kayu cendana di NTT itu, kepopuleran Piet Tallo muncul ketika ia memberi makan lumpur kepada rakyat yang malas bekerja dan tidak mau mengolah lahan untuk bercocok tanam.

Ternyata program ini tidak serta merta diterima oleh masyarakat. Piet Tallo dikecam dan dihujat habis-habisan karena memberi makan lumpur kepada rakyatnya. Namun, dengan tenang Piet Tallo menampik hujatan itu dengan menyebutnya sebagai "lumpur kasih sayang kepada rakyat TTS".

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) ketika itu, Soepardjo Rustam (Alm) turun langsung ke SoE, Ibukota Kabupaten TTS untuk mendengar langsung kisah "Operasi Cinta Tanah Air" sampai membuat Piet Tallo harus memberi makan lumpur kepada rakyatnya yang malas bekerja.

Akhirnya, semua orang pun menyadari bahwa tindakan yang diambil Piet Tallo, itu semata-mata untuk membangkit semangat rakyatnya untuk bekerja meski terasa kejam dan sadis, karena tidak mencerminkan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Setelah mengakhiri masa tugasnya di TTS, hampir dua tahun Piet Tallo tidak menduduki jabatan dalam pemerintahan. Namun, pada 1995-1996, Piet Tallo dipercayakan oleh Gubernur NTT (waktu itu), Herman Musakabe, menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) NTT.

Selepas dari BKPMD, Piet Tallo ditunjuk menjadi Wakil Gubernur NTT menggantikan SHM Lerrick sampai tahun 1998 mendampingi Herman Musakabe, yang saat itu menjabat sebagai gubernur.

Habis masa jabatan Herman Musakabe sebagai Gubernur NTT, Piet Tallo maju menjadi calon Gubernur NTT bersama Gaspar Parang Ehok dan Daniel Woda Palle. Namun, Piet Tallo, akhirnya mendapat dukungan suara mayoritas di DPRD NTT menjadi Gubernur NTT periode 1998-2003.

Posisi Wakil Gubernur NTT saat itu dijabat oleh Johanis Pake Pani, mantan Bupati Ende dua periode dan Kadis Pariwisata NTT. Posisi wakil gubernur hanya ditunjuk oleh Mendagri berdasarkan usulan dari DPRD NTT. Ketika babak berikutnya suksesi kepemimpinan NTT digelar pada 2003, Piet Tallo juga kembali mencalonkan diri. Sebagai anggota dewan pertimbangan Partai Golkar NTT, Piet Tallo, ketika itu kesulitan mendapatkan pintu masuk.

Pasalnya, Ketua DPD Partai Golkar NTT saat itu, Daniel Woda Palle, juga mencalonkan diri. Woda Palle akhirnya mengundurkan diri dan menunjukkan Esthon L Foenay sebagai kandidat Gubernur NTT dari Partai Golkar untuk berhadapan dengan Piet Tallo.

Piet Tallo akhirnya memilih Frans Lebu Raya, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT dan Wakil Ketua DPRD NTT pada saat itu untuk mendampinginya sebagai wakil gubernur.

Ketika pentas politik suksesi kepemimpinan NTT digelar pada Juni 2003, Piet Tallo dan Frans Lebu Raya, akhirnya keluar sebagai pemenangnya dengan menyingkirkan paket dari Partai Golkar atas nama pasangan Esthon L Foenay dan Gaspar Parang Ehok, serta pasangan dari Gabungan Fraksi NTT Bersatu DPRD NTT, atas nama Victor Bungtilu Laiskodat dan Simon Hayon.

Di penghujung akhir masa jabatannya sebagai Gubernur NTT, Piet Tallo mulai jatuh sakit, sehingga operasional pemerintahan diserahkan sepenuhnya kepada Wakil Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, yang kini telah menjabat sebagai Gubernur NTT periode 2008-2013.

Ketika memimpin daerah ini, ada banyak petuah yang disampaikan Piet Tallo kepada masyarakat dan para pejabat dalam banyak kesempatan. Misalnya, kearifan lokal. Ini mengajak rakyat untuk memberdayakan potensi-potensi lokal yang ada pada rakyat itu untuk kesejahterannya. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Piet Tallo mencanangkan program Tiga Batu Tungku, yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Selama masa tugasnya, Piet Tallo mendapat penghargaan Parasamya Purna Karya Nugraha dari Presiden Soeharto pada 21 Agustus 1989, Manggala Karya Kencana Kelas II dari Kepala BKKBN Haryono Suyono pada tahun yang sama, Anugrah Korpri Abdi Negara dari Ketua Umum Korpri H Feisal Tamin pada 2000.

Selain itu, mendapat Satya Lencana Karya Setia 20-30 tahun dari Presiden Megawati Soekarnoputri pada 28 Oktober 2002 dan penghargaan dari Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), tropi dari Paus Johannes Paulus II pada 1997 serta medali imamat 25 tahun Kepausan dari Paus Johannes Paulus II pada 2004.

Dari Dusun Kecil

Piet Tallo dilahirkan di Tefas, sebuah dusun kecil di wilayah Kabupaten TTS pada 27 Mei 1942, dari pasangan Ch B Tallo dan Ny M Tallo-Lodo. Ketika masih duduk di bangku sekolah rakyat (SR), pria pemilik rambut perak ini sudah menampakkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang ditunjukkannya lewat sikap disiplin.

Setelah tamat dari SR GMIT SoE di Ibukota Kabupaten TTS pada 1955, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Kupang. Setelah tamat di SMP Negeri tersebut pada 1958, Piet Tallo melanjutkan ke SMA Negeri Kupang dan tamat pada 1970.

Ia pun merantau ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Setelah menyelesaikan studinya di kota "Gudeg" Yogyakarta itu, Piet Tallo kemudian menyunting seorang wanita Jawa, Erny Christian.

Pada 15 Maret 1967, Piet Tallo dan Erny melangsungkan pernikahan suci sampai akhirnya dikarunia tiga orang anak, yakni Ch S Tallo, John Christian Tallo dan HO Tallo.

Selama masa muda, Piet Tallo dikenal banyak orang sebagai sosok seorang pria yang suka hidup berorganisasi, baik organisasi kepemudaan, keagamaan dan sosial politik. Ia pernah menjadi anggota GMKI antara 1961-1970, anggota Golkar sejak 1970, anggota Law Asian Conference (LAC) 1979.

Ia juga menjabat Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) sejak 2004, Sekretaris Dewan Pertimbangan Partai Golkar NTT antara 1994-1998 serta Ketua Dewan sesepuh SOSKI NTT dari 1990 sampai 1996.

Ketika masih duduk di bangku kuliah pun, Piet Tallo dipercayakan menjadi ajudan Rektor UGM Yogyakarta antara 1965-1967. Setelah tamat di UGM Yogyakarta, ia kembali ke NTT untuk mencari pekerjaan. Pada 1 September 1970, ia mulai meniti karirnya sebagai seorang pamong praja ketika diterima menjadi pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah NTT.

Tenaga sarjana ketika itu masih tergolong langka di NTT sehingga ia dipercayakan menjadi dosen di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Kupang antara 1972-1983 dan menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang antara 1972-1978.

Dalam kurun waktu tersebut, Piet Tallo mendapat banyak tugas di lingkungan pendidikan dan kepemudaan. Antara lain menjadi Ketua Komisariat Daerah (Komda) PSSI NTT dan Ketua Andalan Daerah Urusan Putra pada Kwartir Daerah Pramuka NTT. Antara tahun 1974-1983, Piet Tallo dipercayakan menjadi Kepala Dinas Pendapatan Daerah NTT.

Selamat jalan Pak Piet, jasa dan pengabdianmu tetap akan dikenang oleh seluruh rakyat NTT. (lorens molan/ant/gem)
Selanjutnya...

NTT Berkabung


POS KUPANG/REDDY NGERA
UANG TASPEN -- Wakil Gubernur NTT, Ir. esthon L Foenay, M.Si menyerahkan uang Taspen kepada mantan Gubernur NTT, Piet A Tallo, SH di kediamannya di Jalan Amabi, Oebufu, awal Maret 2009 lalu.


SEKITAR 4,4 juta penduduk Nusa Tenggara Timur berkabung. Pada pukul 20.25 WIB, Sabtu (25/4/2009), Piet Alexander Tallo, S.H, Gubernur NTT periode 1998-2008, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Piet Tallo yang meninggal dunia dalam usia 67 tahun, menderita penyakit asma kronis hingga mengganggu paru-paru dan jantungnya. Pada 22 September 2007, sebelum mengakhiri masa jabatan kedua, Piet Tallo jatuh sakit hingga dirawat di RS Dr. Soetomo Surabaya, setelah sebelumnya sempat dirawat di RS Tebet, Jakarta.

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya yang sedang bertugas di Jakarta langsung melayat Piet Tallo di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Saat dihubungi ke telepon selulernya semalam, Lebu Raya mengatakan, pencanang program Tiga Batu Tungku, itu disemayamkan di rumah duka Gatot Subroto. Dan, Minggu pagi dibawa ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng untuk diterbangkan ke Kupang, NTT menggunakan pesawat Mandala.

Jenasah tiba di Kupang siang ini sekitar pukul 12.30 Wita. Untuk pemakamanan akan dikoordinasikan dengan pihak keluarga soal jadwalnya. Sedangkan tata upacaranya akan ditangani oleh pemerintah karena beliau adalah mantan pejabat negara.

Atas nama pribadi, pemerintah dan masyarakat NTT, Lebu Raya menyatakan duka mendalam atas berpulangnya Gubernur NTT ke-7 itu. Menurut Lebu Raya, hampir seluruh hidupnya, Piet Tallo mengabdikan diri untuk NTT. "Pengabdiannya selama ini dan jasanya tetap dikenang. Kita doakan," kata Lebu Raya.

Hal penting lainnya, demikian Lebu Raya, keteladanan, kebapaan dan kerja kerasnya tentu menjadi nilai yang harus diwarisi oleh masyarakat NTT. Selama mendampingi almarhum lima tahun sebagai wakil gubernur, Lebu Raya mengaku menimba banyak pengalaman. Almarhum selalu memberikan nasihat, terutama soal kesejahteraan rakyat NTT.

"Sejak awal mendampingi beliau, saya menyampaikan hormat. Hormat karena beliau sebagai gubernur dan sebagai seorang bapak. Saya memetik banyak pengalaman soal kepemimpinan untuk diteruskan demi kemajuan NTT. Itulah kesan saya selama mendampingi beliau," kata Lebu Raya.

Menurut Lebu Raya, almarhum selalu memperhatikan staf dan mengingatkan dalam petuah-petuah.

"Saya bertemu beliau di TTS semasa menjabat bupati di sana, dan saya Ketua GMNI. Saya ingat betul petuahnya, "Nak Frans, kalau mau jadi besar harus keluar dari dalam batu.' Bagi saya itu luar biasa untuk sebuah perjuangan hidup. Saya tidak menduga beliau gubenur dan saya mendampingi sebagai wakilnya," kata Lebu Raya.

Lebu Raya mengatakan, banyak masyarakat NTT di Jakarta yang melayat. "Banyak masyarakat NTT memadati rumah sakit ini untuk melihat dari dekat jenazah beliau. Itu karena ketokohan dan keteladanan yang ditunjukkan semasa hidup. Kita doakan semoga arwah beliau diterima di sisi Tuhan," ujarnya.

Lebu Raya mengharapkan warga NTT, terutama masyarakat Kota Kupang menghargai beliau dengan menjemput jenazah di Bandara El Tari, Kupang. Selanjutnya partisipasi dalam keseluruhan proses hingga pemakaman perlu ditunjukkan.

Dalam suatu kunjungan ke Redaksi Pos Kupang tahun 2007, Piet Tallo sempat menyampaikan kondisi kesehatannya, yaitu paru-parunya bermasalah sehingga menyebabkan gangguan jantungnya.

Asma Kronis

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi NTT, dr. Stefanus Bria Seran, berdasarkan informasi yang diterimanya dari dr. Frans Humalesy (dokter pribadi Piet Tallo) di Jakarta, mengatakan, Piet Tallo meninggal karena menderita penyakit asma kronis.

Menurut Bria, Piet Tallo memasuki puncak masa kritis di ruang perawatan sekitar pukul 20.00 WIB, Sabtu (25/4/2009, kemudian dipindahkan ke ruang ICU. Sekitar pukul 20.23 WIB, Piet Tallo menghembuskan nafas terakhir.

Piet Tallo ke Jakarta pada 4 Maret 2008 untuk melakukan kontrol rutin di RSPAD Gatot Subroto sesuai skedul yang dibuat tim dokter. Tentang riwayat penyakitnya, Bria mengatakan, sakit sejak 24 Juli 2007. Sempat dilarikan ke RSU WZ Johannes Kupang, lalu dirujuk ke RS Tebet Jakarta. Selama hampir dua bulan dirawat, kondisinya membaik dan kembali ke Kupang, 22 Agutus 2008.

Namun, pada 22 September 2007, ia kembali menjalani perawatan di RS Dr. Soetomo Surabaya selama empat bulan hingga 30 Januari 2008. Selama di RS Dr. Soetomo, Piet Tallo dioperasi dan sebuah ventilator dipasang melalui tenggorokannya sebagai alat bantu pernafasan.
Di Kupang ia kembali menjalankan tugas sebagai Gubernur NTT, tetapi tidak maksimal. Sampai dengan berakhirnya masa jabatan gubernur 16 Juli 2008, ia berkantor di rumah jabatan Gubernur NTT.

Ketika Frans Lebu Raya dilantik menjadi Gubernur NTT menggantikan Piet Tallo, bersama keluarga ia pindah ke rumah pribadinya di Jalan Amabi-Maulafa-Kupang. Alat bantu pernafasan itu tetap menancap di lehernya. "Kamis (5/3/2009), beliau berangkat ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan rutin di RS Gatot Soebroto," kata Bria.

Asisten I Setda NTT, Drs. Yosep A. Mamulak, yang ditemui di rumah duka, di Jalan Amabi- Maulafat Kupang, menjelaskan, jenazah Piet Tallo akan diberangkatkan dari Jakarta ke Kupang, Minggu (26/4/2009) siang, dengan pesawat Mandala. Jenazah tiba di Bandara El Tari sekitar pukul 12.30 Wita. Tentang tempat dan rencana pemakaman, Mamulak mengatakan pemerintah masih melakukan koordinasi dengan pihak keluarga. "Sampai dengan malam ini, jenazah Piet Tallo disemayamkan di RSPAD Gatot Subroto.

Pantauan Pos Kupang hingga pukul 23.50 di rumah duka Jalan Amabi, Kelurahan Oebufu, tampak potret Piet Tallo terpampang di ruang tengah rumah duka. Potret itu diletakkan di atas sebuah meja kecil. Para kerabat dan kenalan terlihat sibuk, mempersiapkan ruangan itu. Rencananya di ruang itu menjadi tempat semayam jenazah Piet Tallo.

Sejumlah pejabat tampak hadir di rumah duka, antara lain Kadistamben Propinsi NTT, Drs. Yohannes Bria, Karo Umum Setda NTT, Drs. Bruno Kupok, Kasubdin PLS pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga NTT, Marthen Dira Tome. Selain para pejabat, di sekitar rumah duka hingga badan jalan, banyak masyarakat yang datang. Di sisi jalan itu, dipadati mobil dan motor.

Sementara salah seorang putri Piet Tallo, Ina Tallo mengatakan, beliau ke Jakarta 4 Maret 2009 bersama Ny. Erni Tallo dan putri bungsunya, Vera Tallo serta dr.Frans Humalesi untuk check up dan memeriksa penyakit asma dan gangguan tenggorokan yang dideritanya sejak 24 Juli 2007 lalu, di RSPAD Gatot Subroto.

Menurut Ina, saat itu Piet Tallo dalam keadaan baik, namun setelah melakukan check up di RSPAD Gatot Subroto, asma dan gangguan tenggorokan kembali kambuh sehingga harus menjalani opname di ruang ICU RSPAD Gatot Subroto hingga menghembuskan nafas terakhir, disaksikan Ny. Erni Tallo dan Vera Tallo, anak bungsunya.

Pantauan Pos Kupang, Sabtu (25/4/2009) pukul 22.30 Wita, sanak saudara dan keluarga serta sahabat kenalan terus berdatangan di rumah duka di Jalan Amabi, Kupang menyalami Ina Tallo, sebagai tanda turut berduka. Diantara pengunjung hadir Asisten I Setda NTT, Yos Mamulak dan Kasubdin PLS Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Propinsi NTT, Ir.Marthen Luther Dira Tome.

Sambil memegang foto ayahnya, Ina terus meneteskan air mata. Sesekali ia menerima telepon yang datang dari berbagai daerah yang menanyakan keberadaan almahrum dan ia menjawab, bahwa bapak meninggal di Jakarta dan besok (hari ini) diterbangkan ke Kupang menggunakan pesawat Mandala Air. Tampak semua keluarga dan semua yang datang ke rumah duka langsung membersihkan dan membereskan ruangan bagian dalam dan luar. Puluhan warga yang datang tampak berdiri bergerombolan di halaman rumah di antara puluhan kendaraan roda dua dan empat. (gem/den/mas)



Riwayat Sakit:

24 Juli 2007: Dirujuk ke RS Tebet Jakarta karena menderita sakit asma kronis dan radang berat pada saluran pernapasan. Sebelum dirujuk dia sempat dilarikan ke RSU WZ Johannes Kupang.

22 Agustus 2007: Kembali ke Kupang dalam kondisi segar bugar

22 September 2007: Menjalani perawatan di RS Dr. Soetomo Surabaya. Di sana lehernya dioperasi untuk memasukkan ventilator sebagai alat bantu pernafasan melalui tenggorokannya.

30 Januari 2008: Kembali ke Kupang dengan ventilator di leher. Sampai dengan berakhirnya masa jabatan sebagai gubernur NTT pada 16 Juli 2008, ia menjalankan tugas sebagai gubernur dari rumah jabatan.

16 Juli 2008: Drs. Frans Lebu Raya dilantik menjadi Gubernur NTT menggantikan Piet Tallo. Ia dan keluarganya pindah ke rumah pribadi di Jalan Amabi, Maulafa, Kota Kupang.

4 Maret 2009: Ke RSPAD Gatot Subroto Jakarta untuk melakukan kontrol rutin.

25 April 2009: Meninggal dunia di ICU RS Gatot Soebroto.



Selanjutnya...

Minggu, 15 Maret 2009

Penjual Kue, Pebisnis dan Politisi



TAHUN 1982 sebagai titik awal perubahan hidupnya. Dari seorang penjual kue dan ikan, dia menjelma sebagai pengusaha sukses. Kini, menjadi politisi yang patut diperhitungkan.

"PERJALANAN hidup saya berliku, sebelum menjadi seperti sekarang ini," ujar Saleh Husin, SE, M.Si membuka perbincangan dengan Alfons Nedabang dari Pos Kupang, di kediaman kakaknya di Jalan Ranamese I No. 89 Perumnas Kupang, Rabu (25/2/2009) lalu.

Sebelum wawancara, ia memperlihatkan majalah ME Asia edisi 94-November 2008 yang didalamnya (tujuh halaman) ada berita tentang dirinya. Majalah life style untuk kalangan tertentu itu, menjulukinya The dream of the kids from Rote Island.

Saleh mengawali hidupnya dari Ba,a, Rote, 46 tahun silam. Kehidupan keluarganya pas-pasan, bahkan tergolong miskin. Ayahnya, H Husin L (alm) seorang nelayan dan ibunya Hj. Ma Aket, pembuat kue. Saleh kecil selalu menolong orangtuanya.

Kalau kebanyakan anak memanfaatkan masa kecil untuk bermain, tidak demikian Saleh. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini selalu berkeliling kota Ba'a, menjual kue buatan ibunya. Kadang-kadang, ia berjualan ikan hasil tangkapan ayahnya. Kegiatan yang ia lakukan dengan senang hati, sejak masih di SD kelas V sampai SMP kelas III.

Kondisi ekonomi keluarga yang sulit tidak membuat Saleh pasrah. Dorongan untuk maju begitu kuat dalam dirinya. Niatnya untuk sekolah menggebu-gebu. Maka, setelah tamat SMP, ia melanjutkan pendidikan di SMA Palapa Kupang.

"Ketika SMA, saya punya keinginan harus kuliah. Namun karena faktor ekonomi keluarga, saya tidak bisa memaksa orang tua. Saya berpikir, jika saya kuliah maka adik-adik saya akan terbengkelai sekolahnya. Makanya saya berpikir, bisa kuliah tapi dibiayai oleh negara," ujar Saleh.

Tamat SMA, Saleh memutuskan masuk Akabri. Ketertarikannya pada Akabri, karena tergugah dengan sosok Menhankam Pangab, Jenderal M Yusuf yang setiap hari tampil di televisi. Sosok lain yang juga memberi inspirasi baginya adalah Letnan Jenderal Henuhili, putra Rote yang saat itu berada di Jakarta.

Tahun 1982, Saleh coba masuk dan lulus tes di akademi militer tersebut. Dari NTT, ada 9 orang yang lolos dan dikirim ke Magelang, Jawa Tengah. Seleksi akhir sisa dua orang, salah satunya adalah Saleh. Namun karena mata kanannya terganggu, ia tidak diterima masuk Akabri.

"Saya berpikir, kalau saya pulang kampung, saya malu. Daripada malu, saya nekad berangkat ke Jakarta. Di sana tidak ada keluarga, yang saya tujuh adalah Letnan Jenderal Henuhili, walaupun beliau tidak saya kenal. Pokoknya, seperti kata pepatah, layar sudah berkembang, apapun badainya harus diterjang," ujarnya bersemangat.

"Mungkin karena dengan niat tulus dan juga digerakkan oleh Yang Di Atas, maka saya bertemu Jenderal Henuhili di teras rumahnya. Saya sampaikan kepada beliau tentang permasalahan saya di Magelang. Terus, saya katakan, 'Jenderal, saya malu pulang kampung. Kalau diperkenankan saya numpang di sini (di rumah Henuhili). Mau dipekerjakan sebagai pembantu, atau sebagai apapun saya bersedia," kenang Saleh.

Saleh pun diterima keluarga Henuhili yang waktu itu menempati rumah di Menteng, kawasan elite yang dihuni para pejabat negara. Sebagai orang yang menumpang hidup, ia tidak lupa diri. Ia melakukan pekerjaan apapun, tanpa disuruh. Melihat kelakuannya baik, lama kelamaan dianggap sebagai anggota keluarga Henuhili.

Berkelakuan baik dan pandai membawa diri, Saleh cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia berteman dengan sejumlah anak pejabat negara. "Lingkungan telah membentuk saya. Ada perubahan sikap, tingkah laku serta tutur kata. Semua lebih halus."

Tahun 1984, untuk kedua kalinya ia ikut tes masuk Akabri lewat Kodam Jaya. Lagi-lagi gagal, karena masalah pada mata kanannya. Berbarengan dengan dia, ikut mendaftar Firman Setiabudi, anak Try Sutrisno (saat itu Try Sutrisno menjabat sebagai Pangdam V Jaya), yang kemudian dari sana keduanya menjalin pertemanan yang baik. Dari sini, cahaya mulai menerangi Saleh.

Menggeluti Bisnis

DUA kali gagal mengikuti seleksi Akabri, Saleh berkesimpulan bahwa jalan hidupnya bukan di ketentaraan (militer). Ia memutuskan untuk berdagang. Selanjutnya, masuk dalam dunia bisnis 'berkelas.'

Bagaimana awalnya Anda berdagang?
Saya bersurat ke ibu saya di Rote. Kalau bisa ibu kirim duit untuk bisa buat modal. Akhirnya dikirim pake wesel, uang Rp 500 ribu. Saya juga tidak tahu uang itu hasil pinjam ibu dari mana. Karena waktu itu (tahun 1986) di Jakarta, lagi ngetren anak-anak SMA bikin atribut sekolah, banner segitiga bertuliskan nama sekolah. Dengan bekal uang dari ibu, saya berangkat ke Bandung dan bikin banner SMA Perguruan Cikini. Setelah dicetak, saya bawa ke Jakarta, ketemu Nanan, anaknya Bu Mega (Megawati Soekarnoputri) dan Rommy, anaknya Rahmawati dan juga Ferdi Hassan (kini presenter). Mereka yang jualan ke dalam kelas. Semuanya laku. Saya dapat duit Rp 2.500.000. Uang itu menjadi modal untuk buat banner lagi. Saya buat banner untuk SMA 3 dan dijual oleh anak Pak Try. Banner untuk sekolah SMA 34 dijual anak jaksa agung.

Bagaimana Anda bisa masuk dunia bisnis 'berkelas'?
Tinggal di Menteng membuat saya bermain dan kenal sama anak-anak pejabat, termasuk anak Pak Try. Karena berteman baik, suatu saat nginap di rumah Pak Try. Dan, keterusan nginap. Keluarga Pak Try menganggap saya seperti famili. Meski demikian, saya tetap bolak-balik ke rumahnya Pak Henuhili. Pada satu seketika, ada teman kasi tahu mau ikut tender di Mabes ABRI. Saya sampaikan ke putranya Pak Try. Lalu, kami ke Cilangkap, bertemu Kasops dan sampaikan maksud. Alhamdulilah, besoknya langsung keluar surat penunjukan langsung. Dapat tender Rp 100 juta. Kasi surat tender ke yang punya. Kami dikasih fee Rp 5 juta. Uang itu saya kasih ke anaknya Pak Try tapi ditolak. Dia bilang, udah lu ambil setengahnya dan setengahnya dipakai untuk nonton sama makan-makan.
Dalam perjalanan, karena orang tahu saya dekat dengan keluarga Pak Try, mulailah para petinggi negara dan juga para konglomerat mendekati saya. Saya mulai menjalin hubungan dengan mereka. Saat itu, siapa yang tidak mau dekat dengan Pak Try? Semua orang berpikir bahwa inilah calon pengganti Pak Harto (Soeharto). Saya dapat rezeki. Setelah ada uang, mulai buka usaha ini dan itu.

Dalam karier bisnisnya, Saleh menyandang sebelas jabatan. Kalau tidak dalam posisi sebagai direktur maka ia sebagai komisaris. Ia menjabat direktur di lima perusahaan, sedangkan sebagai komisaris di enam perusahaan. Awal menjabat direktur pada tahun 1989, sebagai direktur PT Shelbi Pratama. Sedangkan sebagai komisaris pada tahun 1993 pada perusahaan PT Ades Alfindo Putra Setia, Tbk Jakarta. Perusahaan ini memproduksi air mineral dengan merek Ades yang sudah go public. Dua perusahaan yang jabatan direktur ia pegang sejak tahun 1998 sampai saat ini adalah PT. Varia Prima Bina Jasa dan PT. Sapta Kencana Buana Jakarta. Usaha yang digelutinya berkembang baik. Usia masih mudah, punya uang dan banyak teman, membawa dia dalam kehidupan yang glamour.

"Dulu, kalau setiap kali tinju Mike Tyson, pasti saya nonton di Las Vegas, Amerika. Tidak pernah sekalipun absen. Teman-teman saya hobi semua jadi kita berangkat bareng-bareng," katanya.

Meski hidup glamour tidak membuat Saleh lupa diri. "Saya ini seorang anak nelayan yang kebetulan dikasih rezeki seperti begini. Jangan sampai saya melenceng dari cita-cita sejak kecil. Saya tetap ingat, saya ini anak kampung. Waktu kecil jualan kue. Itu yang selalu terbayang. Saya selalu jaga sehingga jangan sampai tergelincir."

Saleh pun menata kehidupannya. Rumah dan mobil ia miliki. Selain itu, melanjutkan studi S1 pada Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Jakarta dan selesai tahun 1996. Keputusannya untuk berumah tangga ia ambil pada tahun 1994, dengan mempersunting gadis berdarah Pelembang, pujaan hatinya, Andresca, SE. Keduanya dikarunia tiga orang anak.

Niatnya untuk maju di pendidikan, tetap mengebu. Saleh melanjutkan studi Magister Administrasi Publik pada Unkris dan selesai tahun 2007. Saleh juga memperdalam ilmu pada beberapa lembaga pendidikan non formal, diantaranya English Course in University of Oregon, Eugene, Oregon-USA (1992), Kursus Reguler Angkatan (KRA) XXXIX Lemhannas (2006). Tidak ketinggalan belajar public speaking serta mengikuti pendidikan kepribadian di John Robert Power.

Saleh menyadari kesuksesan ia capai karena faktor teman. Dalam berteman, hal prinsip yang ia jaga adalah kejujuran. "Saat merantau, satu-satunya pegangan saya adalah kejujuran. Jangan sampai kepercayaan yang diberikan oleh orang, saya nodai," ujar lelaki yang punya kebiasaan sebelum tidur 'bermain' internet ini.

Bagi Saleh, seorang teman sangat penting. Sangat bermakna! Oleh karena itu, dia paling takut jika kehilangan satu teman.

Anda sudah sukses di luar. Kenapa tidak terpikir membuka usaha di NTT?
Karena saya seorang anak nelayan, maka saya coba usaha ikan cakalang di NTT. Tapi tidak berhasil. Awalnya, usaha itu untuk membantu keluarga, famili. Namun kelihatanya mereka kurang memenej dengan baik sehingga tidak berhasil. Dari pada hubungan keluarga jadi rusak maka lebih aman kapal saya jual.

Terjun Politik
Sudah mapan dan matang dalam hal ekonomi, serta ditunjang dengan networking yang luas, Saleh memutuskan terjun ke dunia politik. Awalnya, Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai kendaraan politiknya. Namun karena ada komitmen yang dilanggar pimpinan PAN sehingga ia pindah ke Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA). Saleh menjabat sebagai Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai HANURA. Pada Pemilu legislatif 2009 ini, ia dicalonkan sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan NTT 2 (Timor, Sumba, Rote dan Sabu), menempati nomor urut 1.

Kapan mulai terjun politik?
Pada tahun 2001. Salah seorang teman memperkenalkan saya ke Amien Rais (Ketua Umum PAN). Waktu itu begitu terpeseonannya saya melihat keberanian Amien Rais. Setelah kenalan, akhirnya menjadi dekat. Setiap kali ke luar negeri, pasti saya diajak untuk menemani Pak Amien. Nah mulai dari itu, akhirnya pada Pemilu legislatif tahun 2004, saya diminta maju sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Jawa Barat 3 meliputi Sukabumi dan Cianjur. Waktu proses pencalonan, saya di Amerika, saya pulang tahu bahwa nomor urut saya 2. Mulanya tidak mau tapi karena Pak Amien bilang, kerja saja, siapa yang suara terbanyak dia yang ditetapkan. Saya fait, dapat suara terbanyak. Setelah berjalan koc tidak ada tanda-tanda seperti yang diucapkan Pak Amien. Daripada karena masalah yang sepele hubungan jadi jelek, maka saya memutuskan untuk bergabung dengan Partai HANURA pada tahun 2006. Sebelum pindah, saya pamitan dengan Pak Amien. Meski sudah pindah, sikap dan hormat saya tidak akan berubah kepada Pak Amien.

Mengapa mau jadi politisi?
Mungkin ketika saya berada dalam sistim, saya dapat berbuat lebih baik lagi. Dengan masuk dalam sistem, saya menyambung aspirasi rakyat. Saya bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat NTT, lebih khusus lagi Pulau Rote. Saya punya jaringan yang luas ditingkat pusat sehingga dalam membawa aspirasi tidak tersendat-sendat. Saya akan kritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Selama saya masih ada di luar struktur suara saya tidak pernah digubris. Untuk itu saya harus berada dalam struktur agar dapat terlibat langsung. Negara ini membutuhan pemikir-pemikir atau jiwa-jiwa muda yang kuat untuk memulihkan kembali bangsa ini. Kita memang tidak bisa merubah semudah membalik telapak tangan. Tapi setidaknya kita dapat merubah sedikit demi sedikit. Dan kita mulai dari hati nurani. Selama ini banyak yang selalu memberikan janji-janji. Tapi ketika sudah duduk dia lupa. Saya kira kita harus memberikan pemahaman politik kepada masyarakat, memilih orang yang tidak punya uang tapi hatinya benar-benar ingin berjuang. Memilih harus dengan hati nurani.

Apakah keputusan berpolitik didukug keluarga ?
Keluarga cukup mendukung. Awalnya, istri anak-anak suka persoalkan, karena waktunya lebih banyak untuk urusan politik. Kalau sebelum terjun ke politik, punya waktu untuk keluarga. Makan dan nonton bersama. Sekarang, hari libur dipakai untuk menemui konstituen. Memang agak tersita tapi lama kelamaan istri dan anak-anak memahami.

Pengusaha dan politisi itu sangat dekat dengan godaan. Bagaimana Anda menjaga harmonisasi keluarga ?
Memang, banyak godaan. Apalagi, umur masih mudah, duit punya dan tampang juga ada. Tapi saya senantiasa menjaga karena dibekali dengan nilai-nilai agama yang baik. Saya benar-benar selalu membuat pagar-pagar agar jangan sampai tergelincir, yaitu ikut pengajian. Istri dan anak saya ajak. Jadi kalau ada godaan, syukurlah saya bisa atasi. Saya bisa jaga diri.

Banyak pengusaha terjun ke dunia politik dengan tujuan memperkuat bisnisnya. Tanggapan Anda?
Tanpa menjadi anggota Dewan pun bisnis saya berjalan baik. Karena banyak bisnis saya tidak terkait dengan pemerintah, lebih mengandalkan kekuatan pasar. Salah satu contohnya adalah bisnis air minum (Ades), tidak ada kaitannya dengan pemerintah. Saya membuat industri dan produknya dijual ke pasar. Ini yang lebih kuat. Saya tidak mau gunakan fasilitas pemerintah karena memang tidak ada naluri ke situ.

Apa obsesi Anda?
Sebagai seorang anak muda, tentu punya cita-cita. Ada yang masih harus saya raih.
Satu saat ya....tidak hanya sekedar dilantik di Senayan, tapi dilantik di Istana. Saya ke Jakarta tanpa keluarga bisa koc, masa yang itu tidak bisa! Dengan networking yang luas, saya yakin bisa melobi masuk dalam tingkat elit. Saya yakin bisa menerobos. Namanya juga cita-cita, siapa tau seorang anak nelayan dari Rote dilantik di Istana, ha...ha...ha... Untuk bisa sampai kesana, saya harus berbuat baik untuk kebaikan banyak orang sehingga pada akhirnya orang menyukai saya. Ini yang saya jaga. Kalau orang sudah suka maka pada saatnya nanti orang memilih, tentunya setelah mereka menilai dari sikap, tingkah laku termasuk kehidupan rumah tangga. Kalau kehidupan rumah tangganya berantakan, mana bisa dia urus yang lebih besar? Itu cermin. Kebetulan, saya punya keluarga yang harmonis. (alfons nedabang/pk edisi Minggu, 8 Maret 2009 hal 3)


Biofile
Nama : Saleh Husin, SE, M.Si
Tempat / tgl lahir : Rote, 16 September 1963
Alamat : Jl. Mimosa Raya Blok M-5 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Hobby : Membaca, main golf dan main futsal

Keluarga
Istri : Andresca, SE
Anak : - Sadenzca Haniyah Putri (14)
- Andzal Rizky Putra (11)
- Deezal Annabel Putri (5)

Pendidikan
- SD Negeri-1 Baa, Rote (1975)
- SMP Negeri-1 Baa, Rote (1979)
- SMA Palapa, Kupang (1982)
- Fakultas Ekonomi, Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Jakarta (1996)
- Magister Administrasi Publik, Unkris Jakarta (2007)

Pengalaman Berorganisasi
- Penasehat Forum Pemuda Kupang - Jakarta (FPKJ)
- Direktur The Amien Rais Centre 2003 - 2004
- Anggota MPP DPW PAN NTT 2003 - 2005
- Deputi Logistik & Perjalanan, Team Kampanye Pusat Capres Amien Rais û Siswono 2004
- Ketua Gerakan Pro SBY dan JK, NTT pada Pilpres Ke-2 2004
- Anggota Persatuan Golf Maritim Indonesia (PGMI) 1996 - Sekarang
- Anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 2005 - Sekarang
- Ketua Paguyuban Buncit Indah, Jakarta 2006 - Sekarang
- Wakil Sekjen DPP Partai HANURA 2007 - Sekarang
- Pengalaman lainnya, aktif sebagai narasumber dan peserta dalam berbagai kegiatan seminar.
Selanjutnya...

Senin, 13 Oktober 2008

Kenapa Suka Jelekkan Diri Sendiri?


NAMANYA Matsui Kazuhisa. Berkebangsaan Jepang. Mulai bergaul dengan Indonesia sejak tahun 1985. Selama itu pula ia mempelajari tentang kondisi sosial masyarakat di Indonesia. Kajian tentang politik di Indonesia yang ditekuninya membuatnya mengenal banyak sisi kehidupan lokal masyarakat Indonesia.

Dalam diskusi terbatas di Kupang tentang "Membangun Kemandirian Masyarakat NTT", pada tanggal 10 September 2008, Matzuhita yang tampil sebagai salah satu pembicara banyak menungkapkan nilai-nilai lokal di Indonesia yang bisa dikembangkan. Dia boleh dibilang banyak memiliki/mengetahui nilai-nilai lokal, hal-hal yang remeh temeh yang sudah diabaikan, dilupakan, tetapi sebetulnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kekuatan untuk memajukan ekonomi.

Kini Matsui bekerja sebagai penasehat pembangunan daerah wilayah Sulawesi. Kedatangannya ke Indonesia pada awalnya sebagai mahasiswa Program Pasca Sarjana di Universitas Indonesia pada tahun 1985. Selama 23 tahun, pria ini mempelajari tentang Indonesia.

Ada satu nilai yang disampaikan oleh Matzui yakni kecintaan pada produk lokal. Sejauh ini masyarakat Indonesia masih beranggapan bahan makanan impor adalah makanan mewah, lebih baik, lebih bergizi dan karena itu membanggakan. Lalu terbentuk anggapan bahwa produk luar negeri, makanan pabrik lebih baik, lebih "bergengsi" ketimbang makanan lokal.

Berbeda dengan masyarakat Jepang yang lebih memilih produk lokal karena sudah mengetahui proses produksi jenis makanan tersebut. Padi, sayuran dan buah yang ditanam petani lokal dari jenis terbaik dan tanpa pupuk organik, diutamakan untuk makan sendiri. Sisanya baru dijual.
Bagaimana pandangannya tentang Indonesia, tentang nilai-nilai lokal dan bagaimana harus menggunakannya untuk memajukan ekonomi, berikut petikan wawancara Pos Kupang dengan tamu kita yang satu ini, beberapa waktu lalu.

Anda sepertinya tertarik tinggal di Indonesia. Apa pendapat Anda tentang Indonesia?

Itu sebenarnya bukan menarik tapi, saya sendiri sejak tahun 1985 bekerja sebagai peneliti tentang Indonesia di suatu lembaga kajian di Jepang, sampai bulan Maret lalu. Jadi selama 23 tahun tugas saya adalah melakukan kajian tentang Indonesia. Dan, pernah dua tahun di Jakarta sebagai mahasiswa S-2 di UI. Pada tahun 1995-2001 pernah bekerja sebagai expert JICA di Makassar, dan sejak bulan April lalu expert JICA di Makassar lagi.

Keahlian saya sendiri adalah ekonomi dan politik tapi terutama setelah tahun 1999 saya lebih fokus pada pembangunan daerah, otonomi daerah dan desentralisasi. Pernah saya tinggal kos di rumah orang Jawa di Jakarta dan sejak itu suka bergaul dengan semua orang, baik dengan aparat pemerintah, swasta maupun LSM. Jadi sehari- hari saya senang bergaul dengan teman-teman di sini. Akhirnya segala macam (tentang Indonesia) saya tertarik.
Jepang setelah kalah Perang Dunia Kedua tahun 1945 baru mulai membangun. Indonesia juga baru merdeka tahun 1945. Artinya dua negara ini sama-sama mulai membangun pada tahun yang sama. Tapi kenapa Jepang saat ini menjadi negara maju, sementara Indonesia masih sebagai negara berkembang?

Ini sebenarnya saya tidak maksud membedakan mana yang lebih bagus dan mana yang lebih jelek. Indonesia juga harus berani belajar juga dari Jepang. Jepang juga harus banyak belajar dari Indonesia. Tapi kalau pertumbuhan ekonomi sangat berbeda. Misalnya Jepang saat Perang Dunia II habis semua, jadi mereka membangun dari minus dengan sangat menyesal dengan mulainya Perang Dunia II. Jadi mereka menyatakan tidak mau lagi perang. Maka, mereka setengah mati berusaha terus agar anak cucunya lebih maju lagi daripada generasi dahulu dan tidak melakukan kesalahan seperti dulu. Sedangkan, Indonesia ini kaya sekali dengan sumber daya alamnya. Memang Indonesia juga sangat menderita setelah Perang Dunia II dan masih ada kesulitan. Tapi mereka menikmati kekayaan sumber daya alam. Jepang tidak ada sumber daya alam yang bagus, semuanya harus impor dari luar negeri. Karena itu, Jepang berpikir untuk memanfaatkan sumber daya alam seefisien mungkin. Kalau di Indonesia sumber daya alam sangat banyak sekali, maka tidak perlu berpikir untuk demikian. Di Indonesia kayaknya tidak kerja pun bisa hidup. Sebenarnya Jepang dulu merindukan daerah tropis sebagai paradiso yang enak, dianggap surga, karena di sana tidak perlu kerja keras dan setiap hari santai dan bisa hidup. Ini salah satu alasan sentimentalis mengapa Jepang tertarik ke daerah tropis untuk mendapat sumber daya alam yang kaya ini.

Anda begitu lama di Indonesia. Menurut Anda, mengapa Indonesia sulit sekali bergerak maju?

Mungkin pertanyaan agak filosofis adalah untuk apa kita maju. Dengan kemajuan maunya mencapai apa? Apakah Indonesia maunya seperti Jepang atau Singapura? Sebenarnya bahagia itu apa? Apakah kehidupan modern seperti di Jepang itu pasti menjanjikan kebahagiaan? Banyak orang Jepang, biarpun merasa sudah maju, belum tentu merasa bahagia. Mengapa jumlah orang bunuh diri bertambah terus di Jepang? Teman-teman orang jepang yang datang ke Indonesia sangat terkesan dengan negara ini, biar pun di sini secara ekonomis kelihatannya tidak begitu kaya tapi kebanyakan orang terlihat bahagia sekali. Anak-anaknya suka lari dan main sambil ketawa dan keluarganya saling membantu. Hal-hal biasa ini terkesan oleh orang Jepang. Memang ada orang Jepang yang merasa Indonesia itu jelek kotor dan lain-lain. Tapi saya berpikir kenapa orang Indonesia suka menjelekkan diri sendiri. Sebenarnya orang Indonesia bisa mendapatkan atau meningkatkan kepercayaan diri, maka akan membanggakan apa yang mereka miliki.

Jepang sebagai negara maju, tapi masih kuat dengan akar budaya. Komentar Anda?

Itu perbedaannya. Begini, kalau di Jepang mereka terima saja budaya dari luar, tapi tidak menghilangkan budayanya sendiri. Jadi dua-duanya. Ada budaya tradisional Jepang bisa bertahan tapi dari luar juga diterima atau bisa kombinasikan antara keduanya. Sedangkan di Indonesia, kalau menerima budaya dari luar, kayaknya mereka langsung menghilangkan budaya asli mereka. Saya tidak bisa mengerti mengapa orang Indonesia membuang apa yang mereka punya setelah mendapat hal-hal yang baru dari luar. Ini sebenarnya bisa memanfaatkan dua-duanya dengan kombinasi dan paduan dengan yang lain. Mungkin orang Indonesia punya kecenderungan yang dapat dari luar itu lebih bagus dari pada apa yang mereka punya sehingga mereka menyesal dan menjelekkan dirinya, dan dibuang. Akhirnya jati dirinya juga hilang.

Indonesia selalu lebih bangga bila mengkonsumsi hasil-hasil pertanian atau hasil industri dari luar. Sementara di Jepang, masyarakat lebih menyukai produk lokal sehingga terkesan pemerintah Jepang memproteksi produk lokal dari serbuan produk luar. Bagaimana Anda melihat ini?

Sebenarnya itu tidak benar. Memang di Jepang tekanannya tinggi untuk bebas perdagangan, banyak sekali hasil pertanian hasil impor masuk. Tapi masyarakat Jepang tetap senang hasil pertanian domestik yang enak dan berkualitas. Jadi bukan proteksi, bukan melindungi. Konsumen Jepang bebas memilih dan hasil pilihannya demikian dan tidak ada maksud dari pemerintah Jepang. Justru pemerintah Jepang maunya agar konsumen Jepang lebih banyak mengkonsumsi produk impor. Bagaimana di Indonesia? Apakah kalangan atas selalu memilih produk Indonesia atau produk impor? Ini masalah pilihan konsumen. Orang Jepang tetap suka beras domestik daripada beras impor karena sudah jelas siapa membuat beras ini dan dihasilkan dari daerah mana. Kalau beras impor, tidak jelas siapa yang buat, kondisinya bagaimana, apakah pakai pestisida, dan sebagainya. Orang Jepang cukup memperhatikan keamanan makanan dan memilih beras yang aman tanpa memakai pestisida. Ini masalah pilihan konsumen.

Kemajuan Jepang tidak terlepas dari pendidikan. Bagaimana anda melihat pola pendidikan di Jepang dan Indonesia?

Saya kira isu pendidikan tidak terlalu berbeda, cuman mungkin kalau di sini banyak anak-anak diminta ikut saja instruksi guru. Kayaknya tidak boleh kritik, atau tidak boleh menyampaikan pandangan berbeda dengan yang disampaikan oleh guru, sehingga ada keseragaman. Guru juga tidak memberikan toleransi untuk hal-hal yang berbeda dengan apa yang diminta diajarkan dari pusat. Sedangkan di Jepang, umumnya mereka harus menghormati perbedaan pendapat. Di dalam sekolah juga kami diberikan kesempatan untuk menyampaikan apa saja yang berbeda dengan yang lain dan itu tidak mungkin dipukul atau dimarahi kalau pandangannya berbeda dengan guru. Selain itu, pendidikan belum tentu mengajarkan keadilan. Misalnya, untuk muridnya mendapat nilai yang baik, saya pernah dengar, ada telepon langsung dari orangtua kepada guru atau kepala sekolah. Hal-hal ketidakadilan seperti itu muncul di pendidikan sekolah dan itu dilihat dan dipelajari oleh anak-anaknya.

Menurut Anda, apa potensi yang bisa dikembangkan di sini?

Sebenarnya banyak sekali potensi lokal yang kami bisa tunjuk di sini, tapi orang di sini hanya ikut-ikutan saja. Mengapa tidak mencari sendiri duluan saja? Potensi di sini dimiliki oleh orang di sini. Mengapa tidak koreksi tanpa perdebatan apa-apa setelah ditunjuk oleh orang luar? Bisa saja potensi yang ditunjuk oleh orang luar diprotes juga dengan kata kenapa harus ini, bukan itu. Makanya orang di sini cari potensi lokal dulu. Jika produk lokal dimiliki atau diambilalih oleh orang luar, orang di sini baru menyadari dan merasa tertipu atau dipermainkan. Dengan itu, kiranya sudah terlambat.

Anda sebagai penasehat pembangunan di Sulawesi. Apa saja yang Anda kerjakan?

Saya bertugas untuk memberikan berbagai informasi dan pikiran baru terhadap kebijakan pembangunan daerah se-Sulawesi, dan mencoba memfasilitasi untuk mewujudkan kerjasama antardaerah di Sulawesi.

Apa kesan yang paling mendalam selama Anda berada di Indonesia?

Kesannya banyak sekali. Tapi saya merasa selalu diberikan semangat oleh berbagai teman, kenalan, dan keindahan pemandangan di Indonesia. Saya selalu ingin membalas sesuatu yang baik.

Sedangkan pengalaman yang paling tidak menyenangkan?

Waktu pertama kali tiba di Bandara Sorkarno-Hatta, Jakarta pada Agustus 1985, saya dimintai uang oleh aparat imigrasi untuk masuk Indonesia. Untung sekali, saya tidak benci Indonesia sesudah itu.

Menurut Anda, apakah nilai-nilai setiap daerah di Indonesia bisa menjadi kekuatan untuk membangun ekonomi nasional?

Coba ingat waktu krisis moneter. Jawa mengalami kemunduran ekonomi sangat besar. Namun, sebagian Sulawesi menikmati harga komoditi ekspor yang naik dan ekonominya tidak menjadi begitu lesu. Keanekaragaman ini justru memperkuat negara secara total. Menikmati perbedaan dengan saling menghormati. (alfred dama/PK edisi MInggu 12 Oktober 2008 hal 3)

Biodata

Nama : Matsui Kazuhisa
Bekerja sebagai Penasehat Pembangunan Daerah Wilayah Sulawesi.
Istri : Matsui Junko
Anak : Matsui Midori
Selanjutnya...

Kamis, 04 September 2008

Siapa Saja Harus Bening


SIAPA bupati yang paling fenomenal saat ini? Siap lagi kalau bukan Bupati Flores Timur, Drs. Simon Hayon. Setelah heboh dengan gebrakan perampingan struktur yang membuat banyak orang di Flotim kehilangan jabatan, kini Simon membuat heboh dengan perilaku dan pernyataan-pernyataannya menyangkut nilai adat-istiadat.

Apa maksud pernyataan-pernyataannya itu, wartawan Pos Kupang, Agus Sape, mewawancarai Simon Hayon di rumah pribadinya di Kuanino-Kupang pada hari Rabu (16/7/2008). Berikut petikan wawancaranya.

Sejak awal menjadi Bupati Flores Timur, Anda ingin membangun Flores Timur dengan paradigma budaya. Tolong jelaskan gagasan ini.

Pembangunan berbasis budaya itu sebenarnya pembangunan yang menempatkan manusia sebagai titik sentral. Kalau kita bicara tentang manusia, maka kita bicara tentang jiwa dan raga. Kalau kita bicara tentang jiwa dan raga, maka sesungguhnya, sesuai dengan keyakinan, saya kira dalam semua agama, termasuk agama Katolik, bahwa kita berupaya melalui pembangunan itu, kita menjaga, merawat supaya manusia itu tetap secitra dengan Allah. Artinya bahwa Allah itu mahabaik, mahakasih, maka hidup manusia dalam satu kesatuan jiwa dan raga harus memantulkan kasih. Konsekuensinya, kita tidak hanya bicara tentang pembangunan fisik, tapi juga bicara tentang pembangunan jiwa. Dalam konkretisasinya, kita berupaya mendorong tumbuhnya nilai-nilai persaudaraan, kasih, solidaritas, kejujuran.

Dari paradigma budaya ini mengalirlah visi kita, visi pembangunan: terwujudnya manusia dan masyarakat Flores Timur yang maju, sejahtera, bermartabat dan berdaya saing. Untuk mewujudkan visi ini, ada dua misi penting. Pertama, berkaitan dengan manusia yang menjadi subyek pembangunan sekaligus manusia dan masyarakat yang mampu memiliki jati diri. Itu misi pertama yang harus dikerjakan secara all out untuk terwujudnya visi.
Misi kedua, mewujudkan tata pemerintahan yang baik, yang berintikan prinsip-prinsip penegakan hukum, transparansi, partisipasi, dan di dalamnya juga otomatis terkait dengan terbentuknya pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
Kedua misi ini sebenarnya saling mendukung, yang dalam awal tiga tahun ini saya mengistilahkan dengan kembali ke fitrah, kembali ke kebeningan, kembali ke yang murni.
Saya melihat misi pertama mengenai jati diri itu mulai mencapai titik klimaksnya. Bicara jati diri berarti, pertama, bicara tentang ajaran-ajaran leluhur, baik dalam konteks masyarakat adat, masyarakat budaya maupun dalam konteks masyarakat agama. Nilai-nilai itu kita temukan dalam ketiga hal itu. Dan hukum adat itulah yang kita sebut hukum Maya-Pada.

Apa yang Anda maksud dengan hukum Maya-Pada?

Maya-Pada itu istilah Jawa yang dalam bahasa kita disebut hukum adat. Maya artinya alam roh, Pada artinya alam kasar, alam fisik, alam nyata. Nah, kalau kita bicara ajaran leluhur, kita tidak bisa mengarang hal yang baru, karena ajaran itu sudah final. Tapi, kalau kita sudah mengetahui ajaran leluhur, maka kita masuk ke wilayah berikutnya, siapa leluhur kita? Yang jelas kita mengakui Tuhan, tapi juga ada pendahulu-pendahulu kita, yang menerima ajaran itu dari kekuatan tunggal. Dan kalau begitu, kita juga masuk dalam wilayah pertanyaan, siapa leluhur kita? Itu masuk dalam wilayah sejarah. Sejarah masih berevolusi untuk mencapai titik kepenuhan, dan ajaran itu sudah final. Jadi kita tidak bisa mengarang baru. Saya lebih khusus misalnya pada kita yang Katolik, dengan Yesus itu sudah final. Jadi jangan bilang, setelah Yesus, kita yang di Katolik, ada lagi ajaran. Tidak ada lagi. Yesus itu sudah memenuhi Perjanjian Lama, menyempurnakannya, karena itu disebut Perjanjian Baru. Perjanjian Lama itu intinya pada Nabi Musa, kemudian dijabarkan oleh para nabi, kemudian Yesus datang menyempurnakan. Karena itu dalam Alkitab dikatakan, Yesus lebih tinggi dari Musa.
Sehingga dalam perjalanan itu (masa kepemimpinan, Red), saya terus terang saja, di samping program pembangunan fisik, seperti jalan dan macam-macam kebutuhan fisik, juga kebutuhan jiwa, dengan mendorong tumbuhnya kembali nilai-nilai yang mulai hilang di tengah masyarakat. Jangan manusia itu diukur dari nilai- nilai kebendaan saja, tetapi juga nilai-nilai rohaniah. Karena itulah juga lagu Indonesia Raya: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

Tapi, situasi di Flores Timur akhir-akhir ini kan heboh sekali. Ada yang menilai pembicaraan dan perilaku Anda sudah banyak yang keluar dari visi-misi tadi itu.

Loh, justru (visi misi) itu yang saya optimalkan. Jadi, masalahnya karena orang terlalu melihat pada pembangunan fisik. Ketika kita bicara nilai, orang sepertinya merasa, loh kok tidak menyentuh kebutuhan raga. Raga kan sementara berjalan. Yang namanya pembangunan, ya untuk mencapai manusia seutuhnya. Kita tidak bisa hanya membangun raga.
Yang kedua, karena orang tidak memahami hukum alam, hukum adat, hukum Maya-Pada tadi. Kalau hukum Maya-Pada bicara alam maya, alam roh dan alam nyata, sulit (ditangkap, Red) kalau orang tidak bening, kalau orang sudah terikat pada dunia material, yang disebut bumi itu, maka sulit punya kebeningan untuk melihat secara jernih.
Yang berikut, kalau kita cermati hukum alam, maka, menurut saya, sebenarnya dalam kurun atau rentang waktu tertentu, bumi yang juga disebut buana agung, mengalami proses kilas balik.
Kalau kita di Katolik misalnya, ada istilah rekoleksi, retret, itu kan untuk mencari titik bening. Istilah umumnya, refleksi. Ini juga sama, kembali mencari titik bening. Kita (manusia) ini disebut buana kecil, buana alit. Dalam perjalanan kita ke depan, kita juga kembali akan melihat itu. Bumi yang besar ini akan kembali mencari titik bening. Ketika bumi yang besar ini (buana agung), kembali mencari titik bening, maka kita yang disebut buana alit di atasnya, kalau tidak bening, ya memang terganggu. Kenapa? Karena terjadi pertentangan di dalam diri kita, antara hakikat penciptaan "baik adanya" dengan keterikatan pada dunia material. Jadi konflik antara dua unsur itu terjadi dalam diri orang.

Ini antara lain yang membuat heboh di Flores Timur, yaitu pernyataan Anda yang menyebut Lamaholot sebagai pusat peradaban dunia. Tolong dijelaskan.

Itu kan asumsi saya, dengan memperhatikan (apa yang ada dalam masyarakat Flores Timur, Red). Kan saya keliling dari desa ke desa. Saya memperhatikan nama-nama, simbol-simbol. Nama itu misalnya Solor, masih ada secara fisik. Ada jagung Solot, ada orang yang namanya Solot. Dan saya mempunyai asumsi bahwa ada sebuah benua yang hilang, yang disebut Benua Solot. Benua Solot itulah benua awal. Sekarang kita mencari Benua Solot itu ada di mana? Ya, tentu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia, yang juga sebenarnya dalam penguasaan Tuhan, kemudian bisa dikaji, di mana itu Benua Solot?
Yang kedua, para ilmuwan pun berpendapat bahwa peradaban bermula di Timur. Pertanyaan kita, Timur itu yang mana? Setiap kelompok, setiap orang boleh mencari. Apakah Timur itu di Sulawesi, di Irian, di Timur Tengah, kan bisa saja. Dan, sebagai orang yang menggali akar budaya Lamaholot, saya juga bisa mempunyai asumsi seperti itu. Tinggal saja nanti dikaji, seperti apa? Nah kalau di dalam perkembangan peradaban dunia, ternyata terjadi pencemaran-pencemaran, kontaminasi yang tidak sesuai dengan ajaran leluhur, maka perubahan pun harus dimulai dari Timur. Secara teoretik para ilmuwan berpendapat begitu.

Anda mulai omong begini, katanya, sejak bertemu dengan Albert Pito (seorang paranormal asal Lembata).

Oh, ndak. Albert Pito atau siapa pun dia, apakah itu perorangan atau kelompok, bagi saya, kalau dia mempunyai bahan untuk melengkapi, silakan datang, supaya kita merajut, untuk menemukan suatu kebulatan, suatu keutuhan. Jadi siapa saja.

Jadi, ini memang hasil olah pikir Anda sendiri?

Ya, olah pikir, dan memang ada tambahan dari Pak Albert Pito. Tapi itu kan baru dia. Siapa saja, dan saya akan mengundang tokoh-tokoh adat, mereka sudah bersedia untuk bicara. Jadi, jangan berpikir Albert Pito itu mempengaruhi saya, karena misi ini secara resmi saya sudah letakkan. Misi tadi itu loh, dan itu di dalam dokumen pembangunan, ditetapkan dengan Peraturan Bupati (Flores Timur) Nomor 8 Tahun 2006. Jadi Albert Pito atau siapa pun, dia hanya boleh datang melengkapi. Dia tidak boleh mempengaruhi saya.

Sejak memimpin Flores Timur, Anda rajin ke desa-desa. Satu hal yang unik, setiap kali ke desa-desa, Anda datang ke kubur- kubur tua, menghormati kubur-kubur itu, dan juga rumah- rumah adat.

Bukan kubur tua, tapi menyinggahi rumah-rumah adat. Dan, itu bukan saya punya mau. Masyarakat, tua-tua adat di kampung- kampung itu yang minta, dan saya menghormati, karena di situ awal mula kehidupan. Kalau kita bicara leluhur, ya kita menghormati warisan mereka, termasuk rumah-rumah adat. Karena di situlah hukum adat dibicarakan.

Termasuk pernah menghadiri seremoni di kuburan Suku Temaluru di lereng Ile Mandiri baru-baru ini.

Oh, saya pergi bakar lilin. Bakar lilin itu kan siapa saja boleh. Dia (Temaluru) pernah menjadi raja di sana, ya wajar saya pergi. Orang biasa saja saya pergi kok, kenapa seorang yang pernah menjadi raja di sana, saya tidak boleh pergi. Kok kuburan umum juga kita pergi. Kenapa kuburan leluhur yang mendahului kita, yang pernah mempunyai jasa, kita tidak boleh pergi? Kenapa jadi soal?

Ini yang lebih heboh lagi. Pada tanggal 17 April 2008, Anda didampingi sejumlah pejabat dan anggota TNI menggelar seremoni adat dengan menyembelih tiga ekor sapi dan satu ekor kerbau di Desa Nobo Gayak dan Pantai Wora Mea, Kecamatan Ileng Boleng. Dalam seremoni itu Anda membungkus kepala kerbau dengan kain putih lalu dikubur di tepi pantai dengan kepala menghadap ke Lembata. Bagaimana sebenarnya?

Masalah Nobo itu bukan konteks desa (lewo). Nobo itu fakta. Nobo itu nuba, yaitu takhta. Jadi kita bicara Nobo berarti kita bicara kerajaan. Kita bicara Kerajaan Awololong. Nah kalau kita bicara Kerajaan Awololong, itu kita bicara konteks lewotana (bumi), bukan konteks lewo (desa). Jadi pantas kalau kita bikin upacara itu, potong kerbau, potong sapi, itu wajar.

Korban kerbau itu maksudnya apa?

Ya... Memang kerbau kenapa? Tidak boleh kerbau? Kerbau, memang yang terbaik. Harus cari yang terbaik. Karena itu konteks kerajaan. Tidak ada masalah.
Tapi, katanya, korban kerbau itu untuk memindahkan emas dari Lembata ke Nobo Gayak.
Itu kan katanya. Yesus juga pernah kritik murid-muridnya. Ketika Yesus bertanya, "Menurut kamu siapakah Aku ini?" Lalu murid- murid itu mulai bilang, menurut si ini begini, menurut si ini begini. Yesus kembali bertanya, "Tidak, menurut kamu, bukan menurut orang. Bukan katanya, tapi menurut kamu. Dan, semua informasi ini, katanya.

Jadi upacara itu tidak dimaksudkan untuk memindahkan emas dari Lembata?


Oh, tidak! Tidak ada urusan. Tidak ada hubungan dengan emas. Itu hubungan dengan leluhur, konteks kerajaan itu, ada pendahulu-pendahulu. Dan kita hormati itu. Tidak ada hubungan dengan emas. Tapi herannya cerita seperti ini bisa beredar. Saya juga tidak ngerti. Ya, karena orang tidak paham lalu bicara. Orang tidak bening lalu bicara, kan jadi repot.

Pada bulan Maret 2008, kebetulan ada acara Forkom P2HP di Kelurahan Sarotari yang dihadiri Ketua Forkom P2HP NTT, Ny.Mien Patty Mangoe, Anda berpidato bahwa emas di Lembata itu bukan tambang, tapi pusaka leluhur Lamaholot.

Loh, yang namanya bumi dan segala isinya, itu ciptaan siapa? Ya, Tuhan. Sekarang, yang namanya leluhur itu ada di mana? Ya, di alam maya. Mungkin yang namanya leluhur adalah para kudus. Le itu jiwa, lu itu yang dikebumikan, hur itu yang di ketinggian. Orang mati yang sudah dikebumikan, tapi karena saleh dia diangkat ke tempat yang tinggi, bercahaya. Tuhan menciptakan itu, dan Menugaskan yang namanya leluhur untuk menjaga. Jadi kalau konteks Lembata, orang berdebat dengan saya, bilang emas di Lembata tidak ada, loh saya bukan ahli tambang, saya bukan ahli emas. Kita berdebat tujuh hari tujuh malam tidak akan selesai. Untuk membuktikan itu, cari orang yang punya teknologi untuk mengecek. Itu lebih pas daripada berdebat dengan saya. Tapi kalau saya mempunyai keyakinan, itu hak saya. Kalau saya mengatakan bahwa itu diciptakan Tuhan, dijaga oleh leluhur, dan itu untuk kepentingan banyak orang, maka ketika orang mau mengambil itu untuk kepentingan diri atau kelompok, dan tidak untuk kepentingan umum, saya kira sulit. Itu menurut saya. Tapi, bisa saja menurut orang lain tidak begitu. Ya, silakan pergi cek di Lembata.

Tapi, kok para pastor dan masyarakat Flores Timur sepertinya tidak bisa menangkap pikiran Anda. Bahkan sekitar 200 orang yang tergabung dalam Dewan Pastoral Paroki pernah datang ke DPRD Flotim minta Anda menjelaskan semua pernyataan ini.

Ya, siapa saja harus dengan bening. Kalau tidak bening ya tidak bisa mengerti. Kalau orang masih memelihara dirinya sebagai hakikat penciptaan 'baik adanya', dia bening dan bisa menangkap. Tapi kalau dalam dirinya sudah terikat dengan dunia material, alam pada, maka sulit.

Bahkan mereka menganggap pikiran Anda sesat dan mengganggu ajaran Gereja?

Kalau ajaran sesat, silakan lapor saya di kejaksaan. Bukan bawa saya ke DPRD, karena di sana (DPRD) tidak ada fungsi untuk menilai ajaran sesat atau tidak. Institusi yang sudah dihadirkan di negara ini adalah kejaksaan. Di situ diteliti mana ajaran, mana sesat dan mana ajaran sesat. Apakah saya pernah mengumpulkan orang dan berdoa dengan cara saya? Yang kedua, institusi agama bertugas untuk merawat ajaran leluhur. Jadi yang menyelamatkan kita adalah iman sesuai dengan ajaran.

Dalam kaitan dengan pusat peradaban, Anda pernah mengatakan bahwa cepat atau lambat para petinggi dunia akan datang ke Flotim untuk mencari asal-usulnya (pukeng). Apa maksud pernyataan Anda?

Asumsinya, kalau kemudian pengkajian itu membuktikan bahwa peradaban bermula di Timur, dan Timur itu adalah kita, maka tentu orang berdatangan toh, untuk melihat, menyaksikan. Kan wajar saja kalau orang datang untuk menyaksikan. Misalnya, kalau kita bicara tentang Kerajaan Awololong sebagai yang awal mula, maka ada sejumlah benda purbakala, ada bendera, kain sutera (tapi sudah sobek-sobek), simbolnya itu serigala, ada mahkota dan ada sejumlah yang lain. Kan itu bisa ditafsir. Bahasa bisa ditafsir. Dan itu nanti ada lembaga yang namanya La Rose (dari Perancis) yang meneliti. Saya misalnya, Hayon, biasa disapa dalam adat La atau Lao, apakah mempunyai kesamaan dari aspek linguistik? Apakah La Rose itu simbolik dari Maria? Apakah La Hayon itu sekadar nama suku atau nama simbolik dari seorang leluhur yang terkenal? Nah itu harus dikaji. Itu sebagai contoh.Tapi kan bukan La Hayon saja. La Werang, mungkin ada La Bethan, kan kita belum tahu. Nanti lembaga itu (La Rose) yang kaji karena ada ahli linguistiknya.

Anda juga pernah menyebut bahwa di Nobo Gayak ada kuburan Firaun?

Itu saya belum pernah sampaikan melalui forum resmi (publik), tapi kalau sharing dua tiga orang, iya. Tapi, biarlah nanti lembaga itu (La Rose) yang membuktikan. Menurut saya sih, intinya pada Benua Solot itu. Kalau Benua Solot itu terbukti ada, maka peradabannya mulai dari situ. Termasuk di dalamnya Firaun atau Mesir.

Anda juga pernah mengatakan Yesus lahir di Wureh (Adonara Barat).

Oh, itu tidak pernah di publik.

Meski sharing dengan dua tiga orang saja, apakah yang Anda katakan itu lahir dari suatu keyakinan?

Ya, pengalaman iman saja. Sharing iman kan boleh. Kita di Gereja Katolik kan boleh (sharing iman).

Tapi, kira-kira maknanya apa? Misalnya, Anda katakan Yesus lahir di Wureh.

Tidak, Yesus lahir di Wureh itu tidak pernah saya omong. Yang jelas bahwa saya punya pengalaman yang saya sharing-kan yaitu ketika prosesi laut hari Jumat (Agung), prosesi Tuan Menino. Sudah tiga tahun saya diminta mengantar itu (Tuan Menino). Itu hujan mulai sepuluh menit setelah berangkat. Hujan berhenti sepuluh menit sebelum turun. Air laut bergelora. Setelah dua pertiga perjalanan, saya ketemu sampah dan air keruh. Ya, saya waktu itu terganggu, batin saya terganggu. Saya pikir sampah itu terus sampai mendarat, ternyata kan tidak. Di depannya kan bersih lagi. Besoknya saya ke Wureh. Saya masuk di Kapela Tuan Berdiri. Bagi saya satu pertanyaan, kenapa di kapela ini patung (Yesus) dewasa? Kenapa di Kota Rwido itu patung kecil, bayi? Itu bagi saya menarik. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus, saya bertanya kenapa? Tapi saya tidak pernah mengatakan Yesus lahir di situ.

Gara-gara pernyataan-pernyataan tadi, sejumlah kalangan di Flores Timur menilai Anda sudah tidak sehat lagi. Apa tanggapan Anda?

Saya sebagai bupati tidak ingin hanya mengurus hal-hal lahiriah saja. Saya bertanggung jawab terhadap pembangunan lahir batin. Saya juga bertanggung jawab menggali nilai-nilai, yang memang sudah tenggelam. Ketika kita menggali yang sudah tenggelam, termasuk sejarah dan nilai-nilai yang hilang, jadi memang orang merasa aneh, karena sudah jauh dari hakikatnya. Tapi, saya memaknai (penilaian ini, Red) secara positif saja. Bahwa riak ini adalah pergerakan jiwa menyatu dengan raga. Supaya ada daya, ada kehidupan. * (Pos Kupang edisi Minggu 20 Juli 2008, hal 3)
Selanjutnya...

Selasa, 02 September 2008

Berpolitik dengan Perspektif Gender


PADA Tahun 2009 mendatang, masa tugas Inche DP Sayuna, S.H, M.Hum sebagai anggota DPRD NTT akan berakhir. Hingga waktu itu, sepuluh tahun sudah ia mengabdi untuk masyarakat dan daerah. Ia pun menegaskan bahwa tidak mau berhenti berkiblat di dunia politik.

"Saya menikmati politik," ujar Inche Sayuna.

Ditemui di kediamannya di Liliba, Kota Kupang, beberapa waktu lalu, istri dari Hengki Famdale dan ibu dari Grace Natalia Putri Hengki Famdale ini banyak berceritra tentang dunia akademik yang sudah ia tinggalkan, awal mula meniti karier politik, kehidupan keluarganya, tentang predikat barunya sebagai Miss Gender dan obsesinya. Berikut petikan wawancara wartawan Pos Kupang, Alfons Nedabang, dengan wanita pengagum Margareth Teacher ini.


Bisa ceritrakan awal mulanya Anda berpolitik?

Saya tidak pernah punya cita-cita sebagai anggota DPRD. Awalnya saya seorang akademisi, dosen di Unkris (Universitas Kristen Arta Wacana Kupang). Setelah lulus dari Unkris, saya angkatan pertama, langsung mengajar. Mengajar selama 1989 - 1996. Selama kuliah saya pernah menjadi mahasiswa teladan. Lalu diutus sekolah di Universitas Gajah Mada. Kami ada tiga orang ikut tes rebut satu beasiswa, dan saya yang dapat. Beasiswa sampai S3, karena saya punya cita-cita menjadi dosen yang terkenal. Tahun 1999 gelombang reformasi, ada tawaran dari Partai Golkar untuk menjadi anggota DPRD NTT mewakili Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Pada saat itu saya masih mengikuti pendadaran tesis di Gajah Mada. Saya bingung karena cita-cita jadi dosen terkenal belum tercapai. Namun karena saya ingin mencoba sesuatu yang baru maka saya putuskan untuk menerima tawaran itu. Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari kampus. Selesai pendidikan di Gajah Mada saya terjun politik. Pada pemilu 1999, saya menjadi anggota Dewan. Pada Pemilu 2004, saya kembali terpilih menjadi anggota Dewan.

Kenapa tertarik pada politik?

Waktu disuruh pilih untuk terjun ke politik, saya melihat bahwa saya punya minat ke politik ada. Sebelum ngajar di Unkris, saya sangat aktif di organisasi dari tahun 1985. Masuk AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), di HWK (Himpunan Wanita Karya), KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Tahun 1999 masuk menjadi pengurus Partai Golkar. Aktif di organisasi ini membuat saya mengenal banyak hal, termasuk politik. Saya juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Karena itu ketika ada tawaran saya coba dulu sesuatu yang baru. Saya sudah sepuluh tahun jadi akademisi, karena itu memulai sesuatu yang baru, dunia baru. Ternyata di politik, tidak saja berpikir tentang pendidikan tapi tentang semua hal. Saya berpikir harus berada dalam sistim agar bisa membantu pemerintah dan masyarakat yang lebih luas.

Bukan karena penghasilan seorang dosen swasta saat itu masih minim?

Dunia kampus menarik buat saya. Sudah sangat saya suka. Penghasilan bukan jadi alasan karena menjadi dosen adalah cita- cita saya. Pertimbangan paling utama waktu itu ketika mereka hubungi saya, mereka bilang tidak ada kader perempuan yang mau direkomendasikan untuk duduk di DPRD. Semua kader perempuan waktu itu ada di lembaga eksekutif, menjadi pegawai negeri sipil. Sehingga tawaran itu saya terima.

Pandangan Anda tentang politik?

Kalau kita omong soal politik, sesuatu yang berkaitan dengan kekuasan, pengambilan keputusan, dalam pengertian yang formal. Karena itu, bagi saya politik itu adalah suatu seni untuk mengelola kekuasaan dan bagaimana mengelola strategi mengambil keputusan yang berdampak pada orang banyak. Ini yang membuat saya berpikir lebih luas lagi dan bisa menjangkau orang lebih banyak lagi. Bagaimana pergunakan potensi yang saya punya, tidak saja berpikir tentang dunia pendidikan tapi dalam berbagai aspek merambah ke situ. Selama ini praktek politik yang dimainkan pelaku-pelaku politik, baik dalam parpol maupun struktural birokrasi memberi kesan kepada publik bahwa politik itu sesuatu yang kotor, saling sikut menyikut, penuh intrik dan orang bisa menghalalkan segala cara untuk mengambil keputusan, orang bisa menghalalkan cara untuk mencapai kekuasaan.

Kondisi itu Anda rasakan?

Saat pertama itu penuh dengan keterkejutan. Saya orang akademisi, apa yang ada dalam benak saya adalah sebuah idealisme yang lurus. Ketika ada di dalam itu ternyata apa yang saya pikirkan sendiri belum tentu bisa diterima orang lain. Saya berupaya mengkolaborasi pikiran saya dengan pikiran orang lain. Saya menyadari bahwa tidak ada orang yang sekolah khusus menjadi anggota DPRD. Saya dulu ngajar di Fakultas Hukum, tentu saya lebih banyak tahu tentang hukum. Persoalan kemasyarakatan hanya sedikit saya tahu, itu pun ketika berada dalam organisasi kemasyarakatan. Saya dituntut mengetahui banyak hal, misalnya belajar tentang menyusun pemandangan umum. Belajar membaca anggaran. Tahun pertama di DPRD saya pake belajar untuk memperdalam keterampilan- keterampilan yang dibutuhkan dalam lembaga. Saya tidak mau berada dalam lembaga hanya untuk dipakai pada saat voting dan minta baca pemandangan. Saya ingin memperjuangan misi perempuan. Kehadiran saya memberi warna untuk melakukan sebuah perubahan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang lebih ramah terhadap perempuan. Kebijakan yang responsif gender. Saya tidak ingin negara bayar saya dengan fasilitas yang luar biasa, lalu saya hanya duduk diam dan tidak berfungsi di lembaga itu.

Bagaimana Anda mengkolaborasikan pikiran?

Memang tidak mudah bagi perempuan untuk diterima dengan baik dalam lembaga itu. Karena sistim yang dibentuk sudah sangat patriarkat. Pola pikir juga sangat patriarkat sehingga semua proses dan pengambilan keputusan itu juga sangat patriakat. Dan karena itu, perlu membangun sinergi dengan sesama teman-teman agar memberi ruang kepada perempuan untuk berekspresi sesuai dengan kapasitas yang dia punya. Tidak semua laki-laki menerima itu dengan positif. Jadi, sesuatu yang tidak mudah. Saya punya prinsip adalah saya harus berfungsi dengan baik, jaga moral saya supaya jangan bersentuhan dengan hal-hal yang dapat mencederai karya politik saya. Saya berusaha untuk menjaga sikap agar bisa diterima baik oleh orang lain. Jujur saja, setiap orang ingin menonjol. Saya berusaha untuk menempatkan diri saya dalam kapasitas yang baik, saya juga tidak ingin memaksa orang untuk memberi penilaian yang baik atau tidak baik kepada saya. Saya berusaha untuk melakukan tugas dan tanggung jawab secara baik. Membangun relasi positif dengan sesama teman-teman, saya berusaha untuk positive thingking, dan menganggap semua orang baik. Itu yang kemudian tidak ada beban bagi saya untuk berinteraksi dengan orang lain.

Anda berusaha mempengaruhi kebijakan pemerintah yang responsif gender. Apa yang Anda lakukan?

Sebelum saya, sudah ada juga perempuan yang melakukan perjuangan yang sama. Artinya, ketika saya masuk, perjuangan saya sudah tidak seberat seperti apa yang dilakukan sebelumnya. Harus diakui bahwa tidak semua anggota Dewan paham dan sensitif gender. Oleh karena itu saya berusaha untuk berjejaring dengan teman anggota Dewan - laki dan perempuan. Juga berjejaring dengan orang-orang di luar DPRD, di eksekutif dan yudikatif. Semua organisasi perempuan yang konsen terhadap isu perempuan dan anak, kami berjejaring dalam sebuah jaringan yang difasilitasi oleh Biro Pemberdayaan Perempuan. Mereka menjadi sumber informasi dan motivator, membantu saya untuk berjuang di DPRD. Saya membangun komunikasi agar teman-teman Dewan bisa membantu minimal tidak menolak ketika menawarkan kebijakan. Yang belum paham tentang gender, kita undang sebagai narasumber dalam kegiatan. Dengan begitu mereka kita ikat secara moral. Di setiap kesempatan, saya juga mensosialisasi gender. Setiap percakapan, apa yang saya ungkapkan pasti bertolak dari isu gender, seperti susun pendapat komisi, pemandangan fraksi, bicara dalam forum diskusi dan seminar. Bagi saya itu media kampanye yang positif. Karena selalu sering omong tentang gender, teman-teman memanggil saya Miss Gender. Ibu gender, ha....ha...ha. Akhirnya, teman-teman komisi, fraksi memperhatikan hal ini. Saya senang karena sudah mulai berperspektif gender. Walaupun masih dalam tanda petik, karena ini juga jualan politik. Apakah komitmen itu diberikan secara jujur atau tidak, pasti dapat terlihat.

Jejaring perempuan, seperti apa itu?

Bentuk organisasinya macam-macam. Ada jaringan perempuan yang konsern dengan isu politik, yang dinamakan Jaringan Perempuan dan Politik. Tugasnya bagaimana membuat perempuan memahami hak dan kewajibannya dalam politik. Ada jaringan yang bekerja di sektor kesehatan. Ada jaringan yang konsern dengan isu ekonomi. Ada juga jaringan yang konsern dengan isu agama. Semua jaringan yang bekerja itu kita himpun dalam satu wadah dan selalu berdiskusi. Saat bertemu itu kita omong tentang agenda bersama, yang disesuaikan dengan kebijakan pembangunan daerah..

Dalam perjuangan gender itu, adakah hal yang dirasakan membanggakan? Dan, apa yang mengecewakan?

Oh...banyak hal. Yang membanggakan, pertama, kehadiran saya di DPRD, menjadi Ibu gender itu juga sebuah reward untuk saya. Lepas dari mereka suka atau tidak suka, itu sebuah pengakuan. Bahwa ketika bicara tentang isu gender, ada orang yang vokal membicarakannya di Dewan. Kedua, dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah isu itu sudah menjadi komitmen. Itu tidak terlepas dari perjuangan saya dan teman-teman. Ketiga, bagi saya adalah berhasil membangun sebuah jaringan yang kuat di antara sesama organisasi perempuan. Lepas dari solidaritas itu masih belepotan, bagi saya NTT sebagai contoh di mana perempuan-perempuan NTT bersatu dalam sebuah jaringan untuk mem-back up yang satu dengan yang lain dalam langkah perjuangan. Sebelum membahas anggaran, saya sudah kumpul teman-teman jaringan, membicarakan apa agenda kita tahun depan. Lalu bagaimana kebutuhan dana? Kami bagi peran, saya punya tugas adalah memperjuangkan agar kebijakan ini masuk dan anggaran ada. Ini pembagian peran yang sangat bagus, antara saya dan jaringan perempuan. Saya kira ini sebuah prestasi yang membanggakan. Sedangkan yang mengecewakan, saya lihat parpol belum mempersiapkan kadernya secara optimal untuk duduk di DPRD. Dan karena itu saya bilang teman-teman, bicara tentang hak, perempuan harus dipersiapkan secara baik untuk masuk dalam sistim. Jadi kita perlu dorong parpol untuk mempersiapkan kader perempuannya dengan baik. Kekecewaan dalam pengertian lain, saya berpikir begini, mengubah sesuatu yang tidak biasa menjadi biasa itu butuh proses dan membutuhkan waktu. Kami berjuang dengan sebuah paradigma berpikir, membutuhkan waktu untuk bisa berubah dan diterima dengan baik. Hal lainnya adalah banyak hal baik yang sudah dibuat oleh lembaga Dewan, dalam bentuk kebijakan dan rekomendasi pikiran, cuma eksekusi kebijakan di tingkat pemerintah itu yang lambat. Banyak pikiran-pikiran baik yang ternyata hanya sampai pada tataran konsep, sedangkan implementasi kecil sekali.

Berdasarkan pencermatan Anda, apa letak persoalan gender?

Pola pikir patriarkat masih sangat dominan. Karena itu, walaupun sekarang ini begitu banyak organisasi perempuan yang turun melakukan sosialisasi, walaupun begitu banyak aturan yang sudah dihasilkan baik pada tataran nasional dan lokal yang memungkinkan untuk membuka isolasi itu, bagi saya sampai dengan saat ini, perjuangan untuk mengubah pola pikir itu masih cukup panjang. Tetapi kita bersyukur karena dari waktu ke waktu, isolasi itu makin tipis. Sekat itu makin tipis. Adanya aturan yang repsonsif gender, itu juga sebuah indikasi yang baik. Sehingga banyak orang mulai bicara tentang gender, termasuk media. Walaupun masih panjang untuk sampai pada titik yang setara, tetapi kemajuan yang dicapai sampai dengan saat ini, itu sesuatu yang menggembirakan. Bukan angin surga tapi angin segar. Perjuangan kita kan untuk mencapai kesetaraan, bagaimana laki-laki dan perempuan secara berimbang setara memiliki pengakuan terhadap hak masing- masing yang sama. Berjalan secara bersama-sama bergandengan tangan dalam kesetaraan untuk mengisi pembangunan.

Faktor utama yang menghambat?

Yang utama itu budaya. Saya punya orang Timor. Walaupun kami sudah omong soal perempuan jadi pemimpin, bagi mereka itu sesuatu yang aneh. Ketika ada perempuan yang berani menyampaikan secara terbuka menjadi bupati, bagi dia ini sesuatu yang menakjubkan. Mereka yang di kampung-kampung sulit terima. Agak berbeda dengan perempuan kota, sudah tidak sulit untuk membicarakan tentang kesetaraan. Walaupun tidak semua orang tulus memberi pengakuan seperti itu. Saya akan merasa sangat bahagia kalau antara masyarakat kota dan akar rumput sudah memiliki pemahaman yang benar.

Salah satu indikasi kebijakan yang responsif gender adalah penetapan 30 persen kuota perempuan. Menurut Anda, apa pesan dari aturan itu?

Kuota 30 persen adalah kebijakan sementara yang diberi pengakuan dan dilegitimasi oleh undang-undang pemilu. Dan parpol diminta untuk mengimplementasikan kebijakan itu dalam internal parpol. Memang tidak mudah. Partai Golkar juga sebagai penggagas aturan itu dan dalam aturan organisasi juga memberi ruang kepada perempuan. Tapi dalam implementasinya, sangat tergantung pada political will pimpinan parpol. Walaupun ada aspirasi dari bawah, tapi dalam rapat pimpinan parpol untuk menentukan rekruitmen kader dalam jabatan itu dalam rapat pimpinan khusus. Dan itu terbatas. Kuota 30 persen ini kebijakan yang menggembirakan perempuan. Tetapi karena kuota tidak memuat sanksi yang tegas bagi parpol, maka itu akan sangat bergantung pada kemauan baik pimpinan parpol dalam merekrut kader-kader perempuan untuk jabatan politik. Karena itu maka yang dilakukan Jaringan Perempuan dan Politik adalah membangun relasi lobi dengan pimpinan parpol supaya kader perempuan yang diinventarisir, sesuai pilihan politik perempuan itu sendiri. Kita serahkan kepada parpol dan parpol merekrut mereka dengan menggunakan aturan internalnya. Bagi saya sebuah upaya positif untuk kontrol yang dibangun Jaringan Perempuan terhadap parpol supaya parpol komit dengan undang-undang. Mudah-mudahan, dengan cara ini, bisa membantu menambah jumlah perempuan yang berpolitik. Agar kuota 30 persen terwujud, Jaringan Perempuan akan sebagai kekuatan penekan. Kita harapkan juga KPU melakukan sebuah imbauan yang bersifat menekan sehingga parpol bisa memberi peluang kepada perempuan. Berdasarkan inventarisasi yang dilakukan Jaringan Perempuan, sejak tahun 1999 dan sampai dengan saat ini, ternyata banyak perempuan yang sudah mempersiapkan diri untuk terjun dalam politik.

Dalam kaitannya dengan mempersiapkan diri, apa yang Anda lakukan?

Saya banyak membaca. Banyak permintaan seminar, dialog dan diskusi itu membuat saya harus terus membaca. Itu sangat menolong menjaga kapasitas diri. Selain itu mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan yang menurut saya baik untuk peningkatan diri. Rata-rata semua pelatihan dan kursus-kursus di tingkat nasional. Saya juga berlangganan media cetak dan majalah, cukup banyak.

Berpolitik banyak menguras waktu dan energi. Bagaimana Anda menjaga harmonisasi keluarga?

Saya punya suami yang sangat memberi dukungan buat saya. Dia sangat mensuport saya untuk optimal di bidang saya. Kami dikaruniai satu anak. Karena itu yang dikembangkan untuk menjaga keharmonisan keluarga adalah pertama, komunikasi yang sehat. Kedua itu, kepercayaan. Suami memberi kepercayaan kepada saya dan saya sangat menjaga kepercayaan itu. Sebaliknya suami pun seperti itu. Kepercayaan itu harus ditumbuhkembangkan secara baik dalam kehidupan keluarga. Jika tidak maka akan menjadi ancaman.

Meski sibuk Anda masih terlihat energik. Apa rahasianya?

Saya paling malas olahraga. Cuma saya bantu dengan suplemen. Macam-macam suplemen. Ada suplemen yang membantu aktivitas. Setiap bulan juga saya doping dengan vitamin C. Dan, minum air putih.

Obsesi Anda?

Saya sudah sepuluh tahun di DPRD. Saya punya mimpi untuk kalau mungkin sudah tidak lagi di DPRD NTT. Bagi saya waktu sepuluh tahun itu sudah cukup lama. Saya ingin mengenal waktu yang baru lagi dan juga tidak menutup pintu bagi kader- kader yang lain. Saya punya cita-cita, kalau tidak masuk ke eksekutif maka masuk ke lembaga legislatif yang jenjangnya lebih tinggi. Saya punya mimpi ke DPR RI. Saya sadar itu sesuatu yang sangat tidak mudah, karena banyak orang yang mau. Dan, keputusan untuk berada di sana itu sangat tergantung pada DPP (Partai Golkar). Kalau memang tidak bisa masuk ke DPR RI, maka ke mana saja kaki melangkah ya itu. Saya punya prinsip, setiap langkahku diatur oleh Tuhan. Dan karena itu, saya punya keiginan besar tapi tentu keinginan saya belum tentu direstui Tuhan. Saya berdoa, serahkan. Yang jelas saya tetap berada di jalur politik. Saya belum mau berhenti berpolitik. * (Pos Kupang Minggu, 27 Juli 2008, halaman 03)


BIODATA

Nama : Inche DP Sayuna, SH, M.Hum
Lahir : 11 Desember 1966
Suami : Hengki Famdale (Notaris PPAT/pengusaha)
Anak : Grace Natalia Putri Hengki Famdale (Kelas 4 SD)
Hobi : Membaca
Tokoh idola : Margareth Teacher

Pendidikan :
- Menyelesaikan SD
- SMA di SoE
- S1 Fakultas Hukum UKAW Kupang 1989
- S2 Hukum Agraria Universitas Gajah Mada Yogyakarta 1999

Pengalaman Kerja :
- Dosen Fakultas Hukum UKAW Hukum (1989 - 1999)
- Anggota DPRD NTT (1999 - 2004)
- Anggota DPRD NTT (2004 - 2009)
- Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD NTT
- Mantan Ketua Komisi C DPRD NTT
- Menjadi narasumber/fasilitator berbagai seminar nasional dan daerah. Selanjutnya...