Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2009

Adu Konsep Desain Alun-Alun Kota Kupang


LIMA tim dari empat Badan Pekerja Rayon (BPR) saling adu konsep dan hasil desain di hadapan dewan juri lomba desain alun-alun Kota Kupang yang digelar di Kampus Fakultas Teknik Unwira Kupang, Senin (19/10/2009).

Keempat BPR itu diantaranya BPR I Jakarta yang diwakili oleh Universitas Indonesia, Rayon II Jawa Barat diwakilkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung, BPR V Jawa Timur yang diwakili oleh ITS Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang, serta BPR 16 NTT diwakili dua tim dari Unwira Kupang.

Dihadapan dewan juri yang terdiri dari Ir. Benyamin. S. D. Pandie, IAI (anggota Ikatan Arsitek Indonesia Daerah NTT), Jhon Bell, ST, MT (Dinas Perumahan Rakyat dan Tata Kota), Ir. Robert M. Rayawulan, MT (Fakultas Teknik Unwira), Alfons Nedabang (Pos Kupang) dan Stenly Boimau (Timor Expres), para peserta menawarkan aneka konsep desain yang dituangkan dalam rancangan alun-alun Kota Kupang yang green and clean.


Ketua dewan juri Ir. Benyamin. S. D. Pandie, IAI kepada wartawan usai memberikan penilaian mengatakan, kriteria yang menjadi faktor penilai adalah konsep desain, aplikasi konsep dalam desain alun-alun kota, juga yang terpenting adalah kemampuan berkomunikasi dalam mempresentasikan hasil desainnya.

Dikatakannya, kemampuan peserta dari seluruh tim menampilkann konsep yang berbeda. "Masing-masing mereka dengan ide yang berbeda, ini sangat kuat mereka tampilkan, cuma yang menjadi kelemahan ketika mengaplikasikan konsep dalam bentuk desain itu menurut kami masih kurang. Soal prsentase gambar semua cukup bagus," katanya.

Benyamin Pandie yang adalah bendahara IAI NTT ini mengatakan, dari hasil lomba desain itu dan jika disepakati untuk dijadikan desain alun-alun kota yang siap dibangun, maka IAI Daerah NTT secara lembaga akan memberikan masukan untuk melengkapi hasil yang telah ada.

"Hasil saat ini kan belum 100 persen memenuhi kriteria, sehingga kita beri masukan supaya apa yang diinginkan pemerintah kota Kupang bisa terakomdir dalam desain yang dibuat ini," ujarnya.

Ia menambahkan, dari hasil penilaian dewan juri, ada tiga besar yang punya nilai yang tidak bedah jauh, dan akan diumumkan pada acara penutupan yang sekaligus dilakukan penyerahan hadia oleh walikota Kupang.

Dihubungi terpisah, Katua Jurusan Arsitektur Unwira, Ir. Ricahrdus Daton, MT menilai, pemerintah Kota Kupang sangat tanggap terhadap rencana kegiatan TKI MAI XXV ini sehingga produk yang dihasilkan ini betul-betul dimanfaatkan oleh pemerintah kota.

"Itu saya lihat kesiapan pemerintah dalam menanggapi rencana kegiatan ini. Ini juga menjadi salah satu usaha, memadukan semua konsep pemikiran dari berbagai daerah untuk menjadi satu out put baik konsep maupun desain yang optimal untuk dipersembahkan bagi pemerintah," katanya.

Ditambahkannya, tidak mungkin satu produk digunakan secara utuh tetapi akan ada perpaduan dari semua desain yang masuk dalam kategori penilaian juri untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Daton menjelaskan, selanjutnya, jurusan Arsitektur Unwira akan menyerahkan hasil desain itu kepada pemerintah Kota Kupang dan yang terbaik akan menjadi master dan dilegkapi dengan konsep perencana bersama pemenang-pemenang lain.

Peserta Lomba Desain dari Rayon I, Universitas Indonesia: Robin Hartanto, Andro Kaliandi, dan Rangga Suryadi
"Yang terpenting bukan menang atau kalah tetapi ini menjadi ajang pembelajaran bagi kami dan menjadi masukan. Kami tidak kejar menang, tapi kami optimis bahwa apa yang kami tawarkan ini menjadi kebanggan warga Kota Kupang. Wujudnya, kalau kita pindahkan alun-alun ini ke tempat lain maka tidak cocok tetapi kalau di Kupang akan menjadi ciri khas Kota Kupang. Konsep yang kami tawarkan adalah lil au nol dael banan (Bangun Aku Dengan Hati Yang Tulus) yang menjadi semboyan Kota Kupang, dan sebenarnya kami dapat inspirasi dari visi misi walikota Kupang Drs. Daniel Adoe dalam membangun kota Kupang yang harus punya komitmen, ini yang kami tawarkan dalam desain bahwa alaun-alun ini menjadi milik aku orang Kota Kupang.

Elemen yang menarik dalam desain kita adalah dalam alaun-alun itu ada 49 pohon flamboyan yang akan disumbangkan oleh 49 Kelurahan di Kota Kupang. Pohonya dari kecil dan tumbuh dan tiap keluarahn bisa lihat dari tumbuhnya pohon tersebut. Selain itu, pola tapaknya kami mengambil konsep dari kain tentun motif NTT dari Sabu.***

Rayon II Jawa Barat: Dimas Agung Kurnia (Universitas Pendidikan Indonesia)
Optimisme kami Rayon II sangat tinggi karena kami melakukan pendekatan desain sesuai dengan kearifan lokal. Lokalitasnya itu ada di kerajinan tradisioal yang ada di Kota Kupang, yang kami soroti yaitu sasando, tii langga dan tenun ikat. Bentuk yang ada di tiga kerajinan itu kami transformasikan dalam bentuk desain sehingga secara makna filosofis bentukan desain kami memiliki pendekatan lokalitas Kota Kupang. Besar harapan kami agar masyarakat Kota Kupang merasa memiliki alun-alun Kota Kupang yang kedepannya akan dibangun oleh Pemkot Kupang. Satu yang jadi landasan kami, bahwa alun-alun dikatakan menjadi baik apapabila masyarakatnya merasa memiliki secara penuh melalui kegiatan-kegiatan baik temporer atau berkesinambungan yang dilakukan di alun-alun tersebut. Secara global, dalam konsep desain, kami menggunakan sebuah bentukan plasa sebagai area penangkap massa, secara tersirat, bentukan dari plasa itu mengambil bentuk dasar dari sasando. Kami juga membuat sebuah ram, yang mengambil bentukan dasar dari tii langga, juga kain tentunya kami terapkan pada pola penggunaan material dari plasa itu. Ketiga aspek ini sengaja kami letakan secara resirat supaya ada sebuah keingin tahuan yang besar dari masyarakat untuk memaknai arti dari alun-alun yang kami desain.

Rayon V Jawa Timur: ITS Surabaya: Fadila Ayu, Yusuf Ariyanto, Universitas Brawijaya Malang: Vembi Fernando. Kami sangat optimis, karena berangkat dari Jawa Timur, kami sudah persiapkan segala sesuatunya mengenai lomba ini, tetapi karena ada perubahan teknis dari pantia, kami coba desain ulang, dan kami bekerja sama dengan semua di rayon V untuk mengahsilkan rancangan desain itu.

Konsep yang kami tawarkan adalah hyper green karena alun-alun yang kami rancang menunjang segala kegiatan masyarakat mulai dari kumpul-kumpul sampai mengadakan acara-acara kesenian adat atau pagelaran acara lainnya. Namun, kami juga berpedoman dari tema panitia TKI MAI, alun-alun Kota yang green and clean. Juga desain kami yang Respect to site, artinya site yang ada sekarang sedapat mungkin kami tidak rubah, tetapi dieksplor serta dikembangkan dengan tambahan pohon-pohon agar alun-alun menjadi hijau.

Folosofi desainnya dari bentuk ume kebubu (Arsitektur atoni/dawan) yang kami terapkan di gasebo taman dan pos satpam. Kami juga mengambil bentukan ume kebubu itu dalam bentuk gerabang utama pada laun-alun Kota Kupang itu. Selain itu kami juga mengambil bentukan sasando, pada bentuk scklupture.

Rayon 16 NTT, Unwira Kupang: Johan Nggebu : dari hasil desain itu, secara konsep, kami optimis bahwa Unwira Kupang bisa menjadi yang terbaik. Tetapi secara desain, kami menyadari bahwa kami masih belum optimal. Itu terlihat dan kami rasakan sendiri dari penyajian gabar.
Konsep yang kami tawarkan itu adalah pengawinan dari berbagai arsitektur tradisional NTT diantaranya Dawan, Rote, Alor, dan Manggarai. Arsitektur Manggarai kami hadirkan dalam desain agora, sedangkan arsitektur Rote kami hadirkan bentuk sasando di tugu yang kami hadirkan dalam bentuk sasando berada di atas moko. Juga ada land mark komodo yang dihadirkan diatas ketinggian site.* Selanjutnya...

Jumat, 05 Juni 2009

Rengkahan Mencapai 12 KM


MENGKHAWATIRKAN -- Lebar, dalam dan luar rengkahan tanah di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang semakin mengkhawatirkan. Warga setempat sudah mengungsi di rumah darurat. Gambar diambil Jumat (5/6/2009).


RENGKAHAN tanah akibat pergeseran kulit bumi yang terjadi di wilayah Kecamatan Fatuleu- Kabupaten Kupang, sudah mencapai sekitar 12 kilometer mulai dari Desa Oebola Dalam sampai ke wilayah Bipolo.

Bergesernya tanah sejak Februari 2009 itu, sejauh ini sudah menimbulkan longsor di beberapa tempat, termasuk Desa Tolnaku yang merusak rumah-rumah penduduk dan memaksa warga setempat mengungsi.

Pantauan Jumat (5/6/2009) di Dusun I Pua'ana, terlihat rengkahan yang memanjang dari utara ke selatan. Menurut warga setempat, tanah dengan kemiringan sekitar 10-15 derajat itu terus bergerak. Awalnya menimbulkan retakan kecil namun makin lama makin lebar dan dalam membentuk rengkahan. Lempengan wilayah yang bergerak turun itu membuat batu-batu berpindah tempat, pohon-pohon mulai miring dan ada yang sudah tumbang. Di beberapa titik terlihat seperti longsor.

Kerusakan paling parah terjadi pada pemukiman warga. Di Dusun Pua'ana itu terdapat 26 rumah warga yang hancur akibat longsoran, satu di antaranya tertimbun tanah. Gedung Gereja Kemah Injil Koinonia Pua'ana bahkan bergeser dari tempatnya semula, sejauh sekitar 100 meter dan ambruk rata tanah. Warga setempat sudah mendapat bantuan tenda guna membangun tempat darurat untuk ibadah.

Bentangan longsor yang memanjang dari utara ke selatan nampak berada persis di tengah-tengah tiga batuan besar masing-masing batu Nekon, Bolbesi dan Fatumonas. Di kaki batu-batu ini merupakan hulu dari longsoran itu. Longsoran ini bisa mengancam warga hingga wilayah Bipolo dan sekitarnya.

Di Desa Tolnaku, luas wilayah longsoran mencapai sekitar 400 meter persegi dan tidak lama lagi lokasi pemukiman itu hanya tinggal kenangan. Tidak bisa dihuni lagi karena porak poranda. Sejauh mata memandang, kampung yang yang dulunya dipenuhi rumah warga dan tanaman pekarangan maupun perkebunan lainnya, kini tersisa puing-puing.

Sementara di Desa Oebola Dalam, rengkahan tanah dan longsor di beberapa titik sudah "mengobrak-abrik" ratusan pohon jati milik warga. Longsor dan rengkahan tanah sudah membentuk genangan air seluas 50-60 meter persegi. Air yang tergenang dalam longsoran itu tetap keruh meski tidak ada hujan.

Belahan-belahan tanah yang pecah itu tidak beraturan dengan lebar pecahan atau keretakan mencapai 1-2 meter dan dalam 1,5 meter. Tepat di antara longsoran itu terdapat sebuah sungai yakni Sungai Fatutasu. Alur sungai ini sebagian sudah tertimbun bongkahan tanah yang runtuh.
Pergerakan tanah itu pun mengakibatkan dataran di bawahnya yang selama ini dipakai untuk areal persawahan, muncul gundukan tanah baru.

Warga sudah mengungsi dari rumah mereka yang sudah rusak dan kini mereka membuat rumah darurat berdinding bebak dan atap daun lontar dengan ukuran 5 x 4 meter persegi.
Camat Fatuleu, Batarudin Rosna yang ditemui terpisah meminta warga tetap waspada. "Pantauan kami terakhir, longsor sudah mencapai 10 sampai 12 kilometer," kata Rosna. (yel)


Sehari Bergeser 1 Meter

DUSUN Puaana di Desa Tolnaku dihuni 117 warga. Wilayah dusun itu, mungkin akan tinggal nama. Rumah-rumah tinggal puing. Pepohonan pada miring sana-sini di sela-sela bebatuan dan bongkahan tanah yang longsor.

Kini semua warga sudah pindah. Dalam trauma dan was-was mereka memetik hikmah bencana itu. Bahkan warga menyatakan syukur karena longsor tidak terjadi sekejab. Mereka yakin itu adalah campur tangan Tuhan.

"Kalau Tuhan tidak tolong kami maka saat kejadian itu kami semua pasti meninggal, namun rencana Tuhan begitu indah sehingga kami bisa luput dari bencana itu," kata
Fredik Mau kepada Pos Kupang di lokasi pemukiman baru. Di sana, warga secara gotong royong membuat rumah sangat sederhana untuk tinggal. "Kalau saat itu longsor datang satu kali dengan cepat maka tidak tahu apakah kita masih bertemu atau tidak," katanya.

Karena tanah yang tadinya hanya retak kemudian timbul rengkahan, katanya, maka warga berkesempatan mengevakuasi barang-barang mereka dari dalam rumah untuk dipindahkan ke tempat yang aman.

Longsor pertama kali terjadi pada hari Kamis 12 Juni 2009. Longsor terjadi pada malam hari dan tidak disadari warga. Keesokan pagi sampai siang, warga terperangah karena tanah semakin bergerak turun, bergeser dan mulai timbul rengkahan. Pohon-pohon mulai terlihat miring, tanah mulai runtuh. Warga bergegas memindahkan barang-barangnya, termasuk ternak.

"Saya akhirnya membuat tanda dengan menancap batang kayu di sekat bibir retakan tanah. Satu hari saya lihat retakan makin mendekati kayu dan dua hari kemudian sudah mencapai kayu yang saya tanam itu. Akhirnya saya tempatkan patok lagi dengan jarak enam meter dan pada hari keenam pergeseran lempengan tanah yang longsor itu sudah mencapai patok tersebut sehingga saya perkirakan dalam satu hari pergeseran itu mencapai satu meter," jelasnya.
Benyamin Kono dan Gabriel Kase, dua warga setempat, menuturkan, warga bersyukur kepada Tuhan
karena bencana yang menimpa mereka tidak sama seperti tanah longsor di tempat lain yang terjadi begitu mendadak dan singkat sampai menelan banyak korban jiwa. Keduanya mengatakan, kejadian yang sama pernah dialami tahun 1975 silam namun itu akibat gempa bumi.

Sungai Bawah Tanah

Longsoran yang terjadi di Desa Oebola dalam dan Dusun Nunpisa Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang karena adanya pergeseran kulit bumi. Pergeseran itu, menurut data base yang ada di Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) Jakarta, akibat kondisi tanah yang pada lapisan atasnya berupa batu kapur dan di bagian bawahnya terdapat tanah lempung yang berupa rongga-rongga.
Melalui rongga-rongga tanah itu ada aliran air atau sungai di bawah tanah. Kemungkinan longsoran terjadi karena adanya amblasan pergeseran bebatuan disebabkan karena ada sungai di bawah tanah.

Demikian Kepala Bagian Sosial Kabupaten Kupang, Dominggus Bulla, kemarin, mengutip penjelasan tim peneliti dari Badan Geologi Nasional Bandung yang telah meneliti wilayah yang saat ini terkena longsor. Bulla mendampingi tim peneliti itu saat berada di lokasi penelitian di daerah block sistim atau daerah patahan, termasuk di Desa Oebola dan Dusun Nunpisa Kecamatan Fatuleu.

Bulla menjelaskan, longsor di Oebola dan Dusun Nunpisa itu tidak ada korban jiwa. Warga mengalami kerugian antara lain rusaknya rumah dan harta benda lainnya. "Saat ini semua warga telah di pindahkan ke tempat pengungsian," katanya.

Panjang longsoran, katanya, diperkirakan mencapai 10 - 14 km. Sedangkan panjang patahan bisa mencapai puluhan kilometer.

Sesuai penjelasan tim peneliti, katanya, tanah akan terus bergerak dan diikuti longsoran. Bila longsoran terus terjadi maka, 63 KK atau 240 jiwa yang tinggal di Dusun IV Kiusak, Desa Oelatimo Kecamatan Kupang Timur, juga akan terancam. "Saat ini lokasi bencana tanah longsor sudah sampai di perbatasan antara Kecamatan Fatuleu dan Kecamatan Kupang Timur dan kecamatan Amfoang Tengah," katanya.

Ditanya tentang bantuan yang sudah diberikan Bulla mengatakan, Pemkab telah memberikan bantuan yang sifatnya darurat yakni 500 kg beras 300 kg kacang hijo. Sedangkan, bantuan jangka panjang yang sangat dibutuhkan yakni sarana dan prasarana, relokasi serta sarana air bersih.

Bulla mengimbau kepada warga di sekitar daerah bencana agar tidak membaut pemukiman baru di sekitar wilayah longsoran. Apabila hujan, warga dilarang melintas di kawasan yang labil karena sesewaktu akan runtuh. (yel/den/pk edisi sabtu 6 juni 2009 hal 1)

Selanjutnya...

Longsor di Fatuleu, 117 Warga Dipindahkan

SEBANYAK 31 kepala keluarga (KK) atau 117 warga Dusun I, Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, dipindahkan ke pemukiman Fatukoto di wilayah setempat akibat tanah longsor yang terjadi di wilayah itu sejak Februari lalu sampai sekarang.

Warga yang terkena longsor membangun rumah darurat di Fatukoto. Tanah longsor juga menyebabkan ratusan tanaman perkembunan milik warga rusak. Sampai Kamis (4/6/2009), masih ada sembilan KK yang bertahan di lokasi longsoran.

Fredik Mau, salah satu korban bencana longsor yang ditemui Pos Kupang di sekitar lokasi pemukiman, Kamis (4/6/2009) sore, mengatakan, tanah longsor yang terjadi di desa mereka itu sudah berlangsung sejak Februari lalu dan sampai sekarang masih terus terjadi.

Menurut Mau, para korban semuanya adalah petani yang kebanyakan memiliki rumah semi permanen dan semuanya rusak akibat tanah longsor tersebut.

"Yang kami heran longsoran itu terjadi bukan saja musim hujan tetapi pada saat sekarang juga masih terjadi sehingga kami pindah ke Fatukoto. Di sana kami buat rumah darurat dari daun lontar untuk tinggal," kata Mau.

Dia menuturkan, awalnya tanah longsor mengancam 26 rumah warga dan satu bangunan gereja. Kini semua rumah warga itu sudah tidak dihuni lagi karena sudah rusak dan warga takut. Gereja itu pun sudah tidak dipakai lagi.

"Dua puluh enam rumah itu milik 31 KK itu. Mereka semua sudah pindah ke lokasi yang tidak terlalu jauh dari pemukiman yang terkena longsoran sebelumnya. Sampai sekarang kami semua yang mengungsi sekitar 117 orang. Sedangkan ada sembilan KK lagi yang masih bertahan di lokasi longsoran itu," katanya.

Mau juga mengakui, lokasi tempat mereka direlokasi itu hanya berjarak sekitar 1,5 km saja dari lokasi pemukiman mereka yang terkena longsoran sehingga mereka masih dilanda was-was. Mereka khwwatir longsoran akan meluas dan menjangkau tempat mereka direlokasi.

Dia mengatakan, tidak ada korban jiwa akibat bencana tersebut. Hanya masyarakat menderita kerugian material antara lain kerusakan rumah dan tanaman perkebunan serta rumah ibadah.
"Lokasi yang kami tempati baru itu memang agak dekat, hanya saja kita perkirakan jika longsoran terjadi dari titik utama longsoran atau di pemukiman lama maka kemungkinan agak sulit untuk sampai ke pemukiman baru itu," tuturnya.

Ketua RW V Desa Oebola Dalam, Charles Utan yang ditemui di kediamannya kemarin petang, membenarkan terjadinya longsoran yang sudah berlangsung di wilayah desa tetangganya itu.
Dia menyebut kejadian longsoran itu sebagai kejadian yang aneh karena tidak hanya terjadi pada musim hujan namun terjadi juga pada musim kemarau saat ini. Bahkan, katanya, dalam satu minggu bisa dua kali terjadi longsor. Kadang satu bulan hanya satu kali terjadi longsor.

Pantauan Pos Kupang, lokasi longsor yang terjadi di wilayah Tolnaku memanjang hingga ke Desa Oelatimu, Kecamatan Kupang Timur. Longsoran juga terjadi di perbatasan antara Desa Tolnaku dan Desa Oebola Dalam, Kecamatan Fatuleu Barat. Beberapa titik longsoran cukup parah. Di salah satu titik longsor terlihat tanaman perkebunan dan kayu jati milik warga ikut ambruk. Longsor memanjang dan luasnya mencapai sekitar 500 meter persegi. Di bawah bentangan longsoran ini terdapat Sungai Lubus. (yel)

Terjadi Setiap Jam Enam

JALAN menuju Desa Oebola Dalam di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, adalah jalan berbatu dan sebagiannya berupa jalan tanah. Desa dengan ratusan penduduk itu pada Kamis (4/6/2009) petang, bagai wilayah tak bertuan. Rumah-rumah yang terdapat di sisi kiri dan kanan jalan seperti tidak berpenghuni. Jarak antara satu rumah dengan yang lainnya sekitar 50 meter hingga 100 meter.

Cahaya matahari senja yang kian suram menjemput malam menambah seram suasana sepi di desa itu. Warga enggan keluar rumah karena hari menjelang malam. Desa itu belum terjangkau aliran listrik sehingga warga hanya mengandalkan lampu dari minyak tanah untuk penerangan malam.
Desa ini bertetangga dengan Dusun I, Desa Tolnaku yang tertimpa tanah longsor sejak Februari sampai sekarang. Kejadian longsor di desa tetangga itu dianggap aneh karena tidak hanya terjadi pada musim hujan tetapi terjadi pula pada musim kemarau saat ini. Tak heran, warga merasa was-was, apa gerangan yang sedang atau akan menimpa wilayah mereka.

Apalagi titik utama longsor di Desa Tolnaku itu telah memicu munculnya beberapa titik longsor dan rengkahan atau tanah terbelah di beberapa desa tetangga termasuk Desa Oebola Dalam. Untuk mencapai lokasi longsoran tepatnya di perbatasan wilayah Kecamatan Fatuleu Barat dan Kecamatan Fatuleu, harus ditempuh dengan berjalan kaki, kecuali melalui wilayah Oelbitena yang jalannya bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Kemarin sore, Kamis (4/6/2009), Pos Kupang mengajak beberapa warga untuk pergi melihat langsung wilayah longsoran. Namun warga enggan karena takut. Menurut mereka, longsor selalu terjadi pada jam enam, pagi maupun sore hari. Itu sebabnya pada sore hari menjelang pukul 18.00 Wita, tidak ada lagi warga yang berani keluar rumah. Mereka takut ikut terjerembab saat tanah longsor.

Salah satu warga, Marthen Padama, akhirnya bersedia menemani Pos Kupang ke lokasi tanah longsor setelah diberi "uang jasa". Padama tidak bisa menyembunyikan rasa was-wasnya saat menemani Pos Kupang. Setelah berjalan kaki beberapa lama, tibalah kami pada lokasi terjadinya tanah longsor di wilayah Tolnaku. Longsoran memanjang hingga ke Desa Oelatimu, Kecamatan Kupang Timur.

Dalam perjalan Padama pun nampaknya tergesa-gesa, namun Pos Kupang tetap memberi pengertian, tidak akan mendekati titik longsoran apabila ada tanda-tanda longsor. Ketakutan Padama dan warga lainnya di wilayah beralasan karena sejak 12 Februari 2009 sampai saat ini, tanah longsor selalu terjadi pada jam enam pagi atau sore. Warga setempat selalu diliputi was-was akan terjadinya longsor susulan.

Ketua RW V, Desa Oebola Dalam, Charles Utan membenarkan bahwa tanah longsor yang terjadi di desa tetangga hingga meluas sampai ke sebagian wilayah mereka itu terjadi sejak Februari.

"Longsoran yang terjadi ini memang agak aneh karena terjadi bukan saja saat hujan tapi saat ini pun masih terjadi. Kita tidak bisa tahu persis kapan longsor itu terjadi, karena bisa saja dalam satu minggu itu satu kali atau dua kali, bahkan bisa juga dalam satu bulan satu kali. Warga di sini sangat heran, kenapa selalu terjadi pada jam enam," katanya.

Apapun gejala alam yang sedang terjadi di wilayah itu, yang jelas warga setempat membutuhkan pertolongan. (yakobus lewanmeru/pe edisi jumat 5 juni 2009 hal 1)



Selanjutnya...

Beny Oko, Penjaga Hutan yang Bisa Terbang



MOBIL Kijang warna biru, Sabtu (30/5/2009), membawa Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Alor, Drs. RJS. Huan, wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama dan Pos Kupang menuju Otvai dan Omtel di kawasan puncak Kota Kalabahi. Di dua kawasan itu terdapat hutan milik Dinas Kehutanan, ditumbuhi berbagai tanaman, termasuk ribuan pohon cendana.
Waktu tempuh menuju Otvai dan Omtel antara 30-50 menit, padahal jaraknya hanya 10 km.

Maklum, jalannya cenderung menanjak sampai pada ketinggian 600 kaki di atas permukaan laut. Kendati demikian, perjalanan terasa nikmat. Selain karena udaranya sejuk, mata rombongan juga dimanjakan oleh hijaunya hutan tanaman kemiri, cengkeh, kopi, jati, mahoni, johar dan cendana di kiri-kanan jalan.

Saat tiba di kawasan hutan Otvai, wartawan lebih memilih melihat langsung lokasi cendana yang dikembangkan di atas lahan seluas 54 hektare sejak tahun 1986 itu. Cendana di hutan itu tingginya bervariasi 3-7 meter dengan diameter 30-80 cm. Mobil lalu bergerak menuju kawasan hutan Omtel. Di hutan Omtel terdapat pohon-pohon cendana yang dikembangkan sejak tahun 2007.

Sesudah mendapatkan data yang cukup, wartawan dan Kadis Huan hendak kembali ke Kalabahi. Waktu menunjukkan pukul 11.00 Wita. Dalam perjalanan pulang, masih di kawasan puncak hutan Omtel, Kadis Huan mengajak wartawan rehat sebentar di sebuah pondok milik Dishut di kawasan hutan. Pondok itu berdinding bambu, berlantai semen kasar dan beratap seng.

Di dekat pintu masuk dapur pondok itu, seorang anak muda berkepala botak, bercelana pendek, berbaju kaos bundar leher, lengan potong tengah sedang duduk di balai-balai bambu sambil menyandarkan bahunya di dinding.

Ketika melihat Kadis Huan, anak muda itu langsung menyapa dan menyampaikan keluh-kesahnya mengenai kebutuhan dapurnya. Kadis Huan sempat mengobrol dengannya, menanyakan kondisi hutan dan anakan berbagai tanaman yang disemaikan di lokasi tersebut.

"Anak muda ini namanya Beny Oko (27). Dialah yang menjaga hutan di kawasan ini. Dia telah menyatu dengan alam hutan ini sejak tahun 2000. Dia mendiami pondok ini sendiri," kata Huan memperkenalkan Beny sambil bercanda bahwa anak muda itu bisa terbang.

Canda Huan ini langsung ditanggapi serius oleh wartawan, mengaitkannya dengan kekuatan magis. Wartawan menanyakan kepada sejumlah orang yang kebetulan berada di pondok itu mengenai ilmu yang dimiliki Beny. Namun mereka enggan memberi jawaban. Mereka minta wartawan menanyakan langsung kepada Beny.

Obrolan langsung terjadi dengan Beny. Menurut Beny, rumah orangtuanya terdapat di wilayah Kenarilang, Kota Kalabahi. Dia putra bungsu dari empat bersaudara. Tidak tamat SD, hanya sampai di kelas V. Namun Beny mengaku bisa membaca dan menulis.

Dia tidak melanjutkan sekolah karena kondisi tubuhnya yang cacat. Kakinya pincang. Kalau berjalan, dia harus dibantu dengan tongkat. Cacat itu dialaminya sejak masih kecil, akibat hela step.

Beny melanjutkan, dirinya mulai menempati pondok di kawasan hutan Omtel sejak tahun 2000. Ketika itu dia bersama sejumlah warga datang ke kawasan hutan itu untuk mengerjakan proyek penghijauan Dinas Kehutanan Kabupaten Alor.

Setelah proyek selesai, dirinya tetap berada di pondok itu seorang diri. Beny mengungkapkan, pada saat awal tinggal di pondok itu, perasaan takut menyelimutinya. Setiap malam dia mendengar bunyi-bunyi aneh di hutan. Ada anak kecil menangis, orangtua marah anak-anaknya. Juga terdengar suara banyak orang yang tengah pesta pora.

Beny melanjutkan, dia mulai berani tinggal di hutan tersebut sejak mendapat ilmu dalam sebuah mimpi tidur malam. "Pada suatu malam ketika saya tertidur, saya bermimpi. Ada beberapa orangtua datang menghampiri saya. Mereka memeluk saya sambil mengatakan, 'Kami ini nenek moyang kamu.' Mereka pun mulai memutar film adegan berkelahi. Lalu mereka menanyakan,
'kamu mau yang ini?' Namun saya menolak.

Berikutnya, mereka memutar film orang bisa terbang. Setelah selesai film itu, mereka kembali tanya, 'kamu mau ilmu ini?' Saya langsung menyatakan mau, dan ketika bangun pagi, dalam diri saya seperti ada kekuatan," ujar Beny.

Bekal ilmu yang didapatnya itu, kata Beny, sangat membantunya bepergian ke tempat jauh, seperti ke Kota Kalabahi atau desa-desa lain di daerah itu. Dia bisa jalan cepat dalam kondisi kaki pincang. Dia bisa terbang menuju ke suatu tempat. "Kekuatan yang saya dapat bukan hanya untuk jalan saja, tetapi membantu saya bekerja di hutan ini. Sebelumnya -- karena cacat-- saya tidak bisa mengangkat kayu, tetapi setelah mendapat ilmu itu, meskipun dengan kondisi cacat, saya bisa mengangkat kayu," tutur Beny.

Selain mendapat ilmu terbang, Beny juga mengaku, selama menempati hutan itu dia berteman dengan makhluk halus, arwah orang yang telah meninggal dan kuntilanak.

"Makhluk halus biasanya datang pada saat saya sendiri. Kalau ada orang yang mau meninggal dunia, biasanya hutan ini ramai seperti orang pesta. Namun saya tidak melihat wujud mereka. Kadang-kadang orang-orang mati ini menemani saya pada pagi hari yang masih gelap ketika saya membuat perapian untuk berdiang. Ada yang datang membunyikan pohon bambu di hutan ini," tutur Beny lagi.

Sedangkan kuntilanak, kata Beny, menjadi temannya hampir setiap saat. Datangnya kuntilanak biasa ditandai dengan suara tikus di luar pintu. Ketika dibuka, mahkluk ini sudah ada. Busana kuntilanak semuanya warna putih, rambutnya air panjang sampai di bokong.

"Cantiknya luar biasa, paling cantik di dunia. Kulitnya putih seperti Cina. Lebih cantik daripada nona-nona di Kalabahi, di Kupang atau Jakarta. Ini Cina, Taiwan," ujar Beny sambil mengatakan nama kuntilanak itu Lin.

Beny mengatakan, hubungannya dengan kuntilanak yang datang hanya sebatas teman cerita, tidak lebih dari itu. "Lin biasa membawa makanan untuk saya. Makanan mereka seperti yang biasa orang makan: ada daging ayam, ikan, sayur. Pokoknya enak. Tapi saya tidak mau. Kita cerita saja. Kita sudah anggap saudara," ungkap Beny.

Di akhir ceritanya Beny berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap dirinya. Sebab, meskipun dengan kondisi cacat, dia bisa menjaga kelstarian hutan di kawasan itu. (okto manehat/pk edisi 4 juni 2009 hal 1).


Selanjutnya...

Tradisi Menangkap Ikan Paus


WATO KOTEKLEMA -- Saya bersama Maha Adi (bertopi), wartawan Majalan Tempo, melihat ritual adat yang dilaksanakan tuan tanah suku Fujon di Wato Koteklema - batu yang menyerupai ikan paus, di Dusun Lamanu, Desa Lamalera, Jumat (1/5/2009).


Memanggil Roh Ikan (1)


Oleh Alfons Nedabang

BATAR. Demikian suku Fujon menamai tempat itu. Berada di bukit sekitar 1,5 Km dari perkampungan Lamalera. Untuk mencapai batar dengan berjalan kaki, butuh waktu sekitar dua jam. Waktu tempuh cukup lama karena jalannya mendaki, melintasi beberapa bukit.

Batar diyakini sebagai tempat tinggal nenek moyang suku Fujon, tuan tanah di Desa Lamalera.
Dari sinilah ritual adat penangkapan ikan paus dimulai. Tempat itu diberi sesajen, diantaranya membakar tembakau, tuang tuak, menabur beras jagung giling serta memecah telur ayam. Syair adat juga mulai dikumandangkan dari tempat ini, sembari membunyikan gong.

Peserta ritual adat enam orang, dipimpin Agustinus Olak Fujon. Agus adalah generasi ketujuh suku Fujon. Lima lainnya adalah Yeremias Bala, Arnoldus Gesi, Alexander Manu, Gaspar Boli dan Marsianus Dua. Mereka adalah adik dan anak Agus Olak.

Dari lima peserta itu, dua diantaranya memegang tombak, dan dua lainnya menenteng gong. Kepala mereka dimahkotai dedaunan. Setiap mereka memakai singlet dengan bawaannya novi (kain sarung).

Dari batar, tuan tanah berjalan satu-satu menuruni bukit, lalu berhenti di Wato Koteklema. Wato Koteklema adalah batu yang bentuknya menyerupai ikan paus. Warnanya hitam. Panjang batu itu sekitar 10 meter, dengan lebar dua meter dan tinggi sekitar 1,5 meter. Sama seperti di batar, di Wato Koteklema juga dibuat sesajen.

Perjalanan dilanjutkan menuju laut. Setiap kali perjalanan, syaratnya tidak boleh menoleh atau melihat ke belakang. Syair adat pun tetap dirapalkan Agus Olak dan disahut lainnya.
Sebelum sampai di laut, mereka berhenti di empat tempat, dua tempat diantaranya adalah rumah adat suku Fujon di Dusun Lamanu, Desa Lamalera A dan lango kelake, rumah milik suku Bataona di Desa Lamalera B, sekitar 50 meter dari pantai.

Menurut Agustinus Olak, beberapa tempat persinggahan itu merupakan tempat peristirahatan nenek moyang karena hidup mereka selalu berpindah-pindah tempat (nomaden). Di setiap tempat persinggahan, mereka makan sirih pinang sembari menenggak tuak.

Setelah sampai di pantai, empat orang menceburkan diri ke laut, sebagai ritual memanggil ikan. Sementara dua orang pemegang tombak menanti di pantai. Upacara berakhir ketika empat orang itu keluar dari laut dan berkumpul di depan Kapela Santo Petrus dan Paulus yang ada di pantai.

Seremoni adat dengan tujuan memanggil roh ikan paus, yang diselenggarakan Jumat (1/5/2009) dari pagi hingga siang itu, dikenal dengan sebutan iyegerek. Ritual ini dimulai dari gunung karena masyarakat Lamelera meyakini bahwa ikan paus sesungguhnya berasal dari gunung. Paus adalah perwujudan dari nenek moyang yang memberikan diri sebagai makanan.

Sebelumnya, Kamis (30/4/2009), juga dilaksanakan seremoni adat di lango kelake. Tujuannya untuk perdamaian. Kalau ada tutur kata, sikap dan perbuatan yang salah, termasuk perbedaan pendapat soal konservasi, diselesaikan. Permasalahan harus diselesaikan sebelum dimulainya misa arwah dan misa lefa.

Pihak-pihak yang terlibat adalah tuan tanah suku Fujon dan suku Tufan serta lika telo yang meliputi suku Bataona, Blikololong dan Lewotukan. Meski yang hadir suku Fujon dan suku Bataona, ritual adat tetap dilaksanakan, diakhiri dengan minum darah ayam.

Bagi masyarakat Lamalera, perdamaian harus terjadi sebelum dimulai penangkapan ikan paus. Jika tidak, maka akan berpengaruh pada hasil tangkapan di laut. Ada ceritra, beberapa waktu lalu, pernah terjadi perselisihan antara tuan tanah dan lika telo. Akibatnya, selama tiga tahun nelayan tidak menangkap ikan paus. Namun, setelah berdamai, hasil tangakap banyak.
Ini menandakan masyarakat Lamalera meyakini bahwa hubungan antara yang di darat dan di laut merupakan hubungan sebab akibat. Keduanya saling mendukung dan saling menentukan. Oleh karena itu, harmoni harus tercipta sebelum memasuki musim lefa atau olanua.

Prosesi ritual tradisi sebelum musim lefa ini menjadi menarik karena mendapat bentuk baru dengan upaya inkulturasi dari gereja Katolik. Setelah upacara iyegerek, digelar misa arwah di Kapela Santo Petrus dan Paulus di pantai pada Jumat (1/5/2009) sore. Jauh sebelumnya, selama tiga hari berturut-turut (27-29 April 2009) telah dilaksanakan sembayang. Masyarakat menyebutnya dengan Tridum.

Misa lefa dipimpin Rm. Bartolomeus Na Helan, Pr, pastor pembantu, dengan ujud mendoakan para nelayan yang telah meninggal. Selesai upacara ekaristi, Romo Bartol mengarahkan umat menghadap ke laut sambil memegang lilin bernyala di tangan. Bersamaan dengan itu, dibacakan nama-nama nelayan yang meninggal di laut. Perayaan misa arwah ditutup dengan penaburan bunga di laut dan pemasangan lilin. Masyarakat Lamalera percaya, jika orang yang sudah meninggal tidak diperhatikan maka arwahnya akan marah.

Di hari pelaksanaan misa arwah, masyarakat Lamalera tidak melaut. Bunyi-bunyian juga tidak terdengar. Desa Lamalera A dan Lamalera B yang terletak di kaki bukit gopo, bedilolo dan bukit kapasono, itu sunyi.

"Masyarakat menyakini bahwa saat itu arwah nenek moyang datang. Tanda-tanda kedatangan arwah tercium lewat bau terumbu karang," kata Dion Bediona.

Keesokan harinya, Sabtu (2/5/2009) pagi, bertempat di kapela, digelar misa lefa dipimpin Rm. Yacobus Adobala Dawan, Pr, pastor paroki. Misa lefa menandai memulai musim turun ke laut. Upacara berlanjut dengan pemberkatan laut dan peledang (perahu yang digunakan untuk menangkap ikan paus). Pastor memercikkan air pada peledang Praso Sapang. Usai diberkat, Praso Sapang didorong ke laut dan berlayar menangkap ikan paus. Sebelum Praso Sapang melaut, air laut dianggap 'steril'. Satu kejadian di hari misa lefa, sebuah speed boat yang mengangkut turis hendak menepi tapi diusir masyarakat yang dimotori Kepala Desa Lamalera A, Hendrikus Keraf. Speed boat memutar haluan, lalu bergerak menjauh meninggalkan laut Lamalera.

Hal lainnya yang dilarang adalah ikan paus yang muncul pada hari misa arwah dan waktu misa lefa, tidak ditangkap. Bagi masyarakat Lamalera, kemunculan ikan paus pada saat-saat itu pertanda baik.

Selanjutnya, Romo Yakobus memberkati satu per satu peledang yang tertambat di rumah peledang (naje). Ada 37 naje di pantai sepanjang sekitar 150 meter itu. Sembilanbelas naje dibangun di sisi kiri kapela dan sisanya di sisi kanan. Peledang-peledang itu bisa melaut setelah peledang Praso Sapang pulang.

Misa lefa merupakan upacara puncak penangkapan ikan paus. Setelah misa lefa, masyarakat Lamalera selama tiga bulan ke depan (Mei-Oktober) mengawasi Laut Sawu. Apabila melihat semburan paus, maka masyarakat akan berteriak bersahut-sahutan "baleo..., baleo..., baleo..." Peledang pun segera didorong ke laut untuk mengejar ikan paus.*


Puasa Hubungan Suami Istri (2)


PLEDANG bukan perahu biasa, sebagaimana kebanyakan perahu milik nelayan lainnya di sejumlah daerah. Setidaknya, hal ini diketahui dari proses pembuatannya hingga tata cara pemanfaatannya.

Pledang terbuat dari kayu krapa, sejenis kayu besi. Dikerjakan orang khusus, atamola. Pledang tidak dibuat sembarang, termasuk sambungan kayu atau papan dan pemasangan ketilo. Hal yang dilarang adalah ketilo tidak boleh sebaris, tapi harus selang-seling. Sebelum pledang dicat, atamola harus dipanggil kembali untuk memastikan tidak ada yang salah dalam proses pembuatannya.

Jika pledang dibuat salah atau keliru, maka akan membawa dampak buruk terhadap proses penangkapan. Kesalahan itu akan ditunjuk oleh ikan paus dengan 'mengetuk' pledang. Dalam konteks ini, paus dianggap sebagai cermin. Setelah itu, nanti sampai di darat baru atamola dipanggil untuk memperbaiki pledang.

"Kesalahan pledang akan ditunjuk paus. Paus pukul pledang. Setelah pulang baru diperbaiki. Paus sebagai cermin besar. Kalau tidak ada kesalahan, maka pledang dianggap lulus ujian," kata Frans Kedang, matros (anak buah) pledang Tite Keri.

Untuk menyelesaikan satu pledang, memakan waktu lebih dari satu bulan. Meski demikian, setiap tahun belum tentu ada pledang baru. Panjang pledang sekitar 10 meter. Kru pledang berkisar sembilan sampai 13 orang. Setiap pledang dibagi untuk tempat duduk juragan, matros dan tempat lamafa.

Pledang bukan satu-satunya peralatan tradisional yang digunakan. Peralatan lainnya adalah layar, tali yang dibuat dari benang kapas, daun gebang dan serat kulit pohon waru. Ada juga kafe yaitu tempuling atau harpoon, galah terbuat dari bambu sebagai tempat menancapkan harpoon untuk menombak. Alat untuk menggayung air, gentong air, maupun faye (alat untuk mendayung). Semua perlengkapan ini disiapkan dan diletakkan dalam pledang, di tempatnya masing-masing. Dalam satu pledang terdapat enam tempuling dan satu kenate. Tempuling untuk menikam paus, sedangkan kenate untuk menarik paus merapat ke pledang.

Pemilik pledang adalah suku. Umumnya satu suku satu pledang. Ada juga suku yang memiliki lebih dari satu pledang. Sebaliknya, ada suku yang tidak punya pledang.
Untuk pledang baru, sebelum beroperasi harus dibuat seremoni dengan memberi makan masyarakat satu kampung.

Martinus Lelaona mengatakan, setiap orang yang makan bagian di pledang, seperti lamafa, juragan dan matros, masing-masing menanggung bahan makanan, diantaranya tuak, nasi dan jagung titi serta binatang. Suku pemilik pledang juga menyiapkan makanan. Tidak selesai di sini. Pledang baru bersama pledang lain akan diberkati oleh pastor pada upacara misa lefa.
Selanjutnya, saat ada baleo....,pledang bergerak ke tengah laut, ke arah semburan ikan paus. Lamafa bersiap di depan. Semakin dekat, orang pledang sudah bisa menetapkan di mana keberadaan kelompok paus tersebut. Para nelayan sudah bisa mengetahui paus yang akan ditikam.

Kalau sampai di tempat yang ditandai, kelompok ikan paus tersebut tiba-tiba menghilang ditelan laut, itu artinya rezeki belum datang. Atau, pada saat lamafa akan menghujamkan tempuling, paus mengangkat ekornya, maka lamafa akan urung melompat menikam paus tersebut. Orang pledang meyakini paus menolak untuk ditikam.

Namun, apabila paus menyerahkan diri, maka dengan sigap lamafa menghujamkan tempuling ke tubuh paus. "Serentak di dalam perahu bersorak. Hirkae, lefo hirkae. Sorakan ini akan mengecilkan nyali paus," kata Martinus.

Ketika paus sudah tidak berdaya, para nelayan mengikat hidungnya dengan kenate yang tersambung tali plastik. Kemudian, paus itu diseret ke pantai. Dalam perjalanan pulang, demikian Martinus, para nelayan bernyanyi bersahutan, sora tarre bala (raksasa bertanduk gading), dan dijawab, tala lefo rae tai (mari kita masuk kampung).

Sepanjang musim lefa, pledang tidak mendapat hasil apa pun kalau di suku ada anak gadis hamil atau pemuda menghamili gadis di luar nikah. Pantangan lainnya adalah orang pledang termasuk lamafa harus puasa seks.

"Selama musim lefa, kami tidak melakukan hubungan suami istri. Ini pantangannya. Kalau dilanggar maka akan ada dampaknya saat proses penangkapan," ujar Aloysius Genesa Tapaona, lamafa.

Selain terikat pada tradisi dan tata cara adat yang mencakup pembuatan pledang, penyiapan peralatan perahu, alat penangkap ikan, proses turun ke laut serta pantangan-pantangan yang harus dihindari, nelayan Lamalera juga memberlakukan tata cara adat pada pembagian hasil tangkapan ikan paus. Seluruh hasil tangkapan ikan, pertama-tama diperuntukkan bagi para janda, fakir miskin, dan para yatim piatu. Mereka mendapat tempat utama dalam seluruh proses perburuan ikan. Selanjutnya dibagikan kepada tuan tanah, lamafa, rumah adat, matros, dan pemilik perahu sesuai bagian-bagian ikan paus yang ditetapkan. Misalnya, sebagaimana diungkap Stefanus Fotu dari pledang Java Tena, bagian mata dan rahang milik tuan tanah. Juru tikam dapat nova’k (bagian leher). Ikan paus juga dibagikan kepada sejumlah warga.
Dalam proses pembagiannya tidak ada kecurangan.

Selain untuk makan, ikan paus juga digunakan sebagai alat transaksi. Ikan dibarter dengan hasil-hasil pertanian yang dibawa masyarakat dari gunung. Begitu tersiar kabar paus ditangkap, berbondong-bondong orang gunung yang pekerjaannya bertani turun ke pantai. Mereka membawa hasil pertanian seperti jagung, ubi dan kacang untuk ditukar dengan daging paus. Misalnya, tiga lempeng dendeng ikan paus seharga satu piring jagung yang sudah dipipil. Transaksi dilakukan tidak ada tawar menawar.

Kulit ikan paus juga dimakan. Sementara minyaknya bisa untuk minyak goreng dan pengganti minyak tanah. Satu-satunya bagian yang sampai sekarang belum dimanfaatkan optimal adalah tulang ikan paus. Kebanyakan tulang ikan paus dibuang, bahkan ada yang menjadikannya pagar rumah.

Masyarakat Lamalera meyakini bahwa dengan menangkap ikan paus, dapat menghidupkan seluruh masyarakat Lamalera. Dengan ikan paus, masyarakat Lamalera dapat menyekolahkan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi. Lebih dari itu, dalam nama kulit, darah, daging, dan minyak ikan paus, setiap orang di Lamalera dan sekitarnya bersatu.*


Agar Tidak Tinggal Cerita (3)

NELAYAN Lamalera dikenal sebagai penangkap ikan paus yang tangguh. Mereka lebih memilih paus yang dalam bahasa Lamalera disebut Koteklema. Dalam ilmu perikanan, Koteklema sering disebut paus jenis sperm atau Physeter macrocephalus.

Nelayan Lamalera tidak menikam paus jenis Seguni (Killer Whale atau orca) dan Klaru (paus biru atau Balaenoptera musculus) yang juga lalu lalang di perairan Laut Sawu, di depan perkampungan Lamalera. Jenis Klaru justru ditikam oleh nelayan Lamakera di Pulau Solor.

Dari literatur, Koteklema dikenal sangat kuat. Dia sanggup menyelam hingga lebih 1.000 meter. Ukuran tubuh dewasa mencapai 19 meter (jantan) dan 12 meter (betina). Bobotnya mencapai 30 ton hingga 60 ton. Koteklema juga terkenal dengan ganasnya. Tidak mengherankan, sebagaimana diungkap beberapa nelayan, ketika ditikam Koteklema mengamuk membuat peledang terbalik.

"Kadang nelayan pulang bawa dengan mayat," kata kepala Desa Lamalera A, Hendrikus Keraf.

Namun, jika dibandingkan dengan Paus Biru, Koteklema kurang kuat. Paus biru dianggap sebagai binatang terbesar. Beratnya mencapai 130 ton -- hampir sama dengan 30 ekor gajah atau 1.600 manusia. Panjangnya bisa mencapai lebih dari 30 meter.

Meski kadang bermigrasi sama-sama di Laut Sawu, nelayan Lamalera bisa membedakan paus biru dengan Koteklema. Perbedaan terletak pada model semburannya. Kalau paus biru semburannya lurus ke atas, sedangkan Koteklema tidak. Hal lainnya yang membedakan adalah paus biru memiliki jumbai-jumbai rambut, sedangkan Koteklema tidak.

Hendrikus Keraf mengatakan, Paus Biru tidak boleh dibunuh karena menurut cerita orang tua, dia penolong nenek moyang suku Soge Paga dari Kabupaten Sikka ke Lamalera. "Klaru (Paus Biru) pengantar leluhur kami ke Lamalera. Sedangkan jenis Seguni tidak dipilih karena Suku Ebonna di Lamalera tidak memakannya. Orang tua meminta kami untuk tidak menangkap Klaru dan Seguni," kata Keraf.

Nelayan Lamalera juga bisa membedakan mana Koteklema betina dan jantan. Betina yang hamil, apalagi. Namun, itu hanya bisa dilakukan orang tua zaman dulu. Dengan demikian, Koteklema betina maupun betina yang hamil tidak boleh ditangkap.

Menurut Keraf, generasi sekarang sangat sulit membedakan betina dan jantan, serta mana betina yang sedang hamil, karena menikam saat ikan ada di dalam air. Untuk membedakan jantan dan betina, orang tua melihat sirip atas.

"Sangat sulit untuk membedakan paus yang jantan dan betina, begitu juga yang hamil atau tidak. Kalau dulu zamannya nenek moyang bisa bedakan. Nelayan selalu dapat betina dengan anaknya yang di dalam. Masalahnya, kita kurang mengenal," aku Keraf.

Satu hal yang masih bisa dikenali nelayan Lamalera generasi sekarang adalah Koteklema betina yang sedang menyusui. Untuk kategori ini, tidak ditikam nelayan. Karena, nelayan paham ikan yang sedang menyusui paling ganas.

Tentang betina yang hamil tertangkap, diketahui pada Jumat (1/5/2009). Beberapa nelayan menjaring ikan belelang, jenis ikan pari. Ternyata, setelah dibelah ada anak pari. Meski dalam kondisi hidup, anak pari tidak dilepas. Karena, diyakini membawa rezeki. "Ini rezeki. Kalau lepas maka perahu tidak tikam lagi. Dari dulu orang tua tidak lepas," ujar Keraf.

Perlakuan terhadap anak ikan, termasuk anak ikan pari, tidak sembarang. Seorang turis yang sempat memegang ekor anak pari langsung ditegur. "Tidak boleh raba di situ (ekor, Red). Dia ini tidak boleh diperlakukan sembarang. Diletakkan sembarang juga tidak boleh. Keramat sekali. Begitu juga anak ikan paus," katanya.

Nah, bagi nelayan Lamalera, pengetahuan tentang jenis ikan paus yang ditangkap dan mana yang tidak ditangkap, sudah berlangsung lama, sama dengan mereka telah melaksanakan konservasi secara alami. Makanya tidak heran jika mereka menolak pelaksanaan konservasi dengan versi pemerintah dan LSM. Bagi masyarakat Lamalera, konservasi yang dilaksanakan pemerintah dianggap sebagai upaya untuk membatasi 'ruang gerak' nelayan.

Lebih dari itu, konservasi dengan pelarangan penangkapan ikan paus sama saja dengan menghentikan mata pencaharian masyarakat Lamalera. Sama dengan melarang masyarakat Lamalera untuk berhubungan dengan nenek moyangnya karena ikan paus diyakini sebagai nenek moyang yang menyerahkan dirinya untuk generasi sekarang.

Tidak mengherankan ketika Agus Dermawan, Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi dan Taman Laut Nasional pada Departemen Kelautan dan Perikanan, membuat pernyataan tentang Konservasi di Zona II Laut Sawu (Lembata, Alor dan Solor), memicu kemarahan masyarakat Lamalera.

Kemarahan semakin menjadi tatkala WWF (World Wildlife Fund) lewat orang-orangnya menginformasikan bahwa masyarakat Lamalera akan 'beralih profesi'.

"Kami stop tangkap lalu suruh kerja lain. Kami tanam apa? Kami sekolahkan anak dari ikan paus. Kami menolak konservasi," kata Stefanus Fotu.

"Penolakan konservasi ini merupakan yang pertama di Indonesia," kata Maha Adi, wartawan Majalah Tempo yang kini sedang studi pasca serjana bidang lingkungan, saat berkunjung bersama saya di Lamalera. Maha Adi kini menjadi staf Tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Laut (Tim PP KKL) Laut Sawu - Solor - Lembata - Alor (SOLAR).

Karena reaksi penolakan terus muncul, dalam perjalanan Depertemen Kelautan dan Perikanan (DKP) 'melunak'. Agus Dermawan menyatakan Deklarasi Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Laut Sawu di Word Ocean Conference (WOC) bulan Mei 2009 tidak memasukkan perairan Laut Lambata dan sekitarnya sehingga KKPN Laut Sawu hanya mencakup perairan Selat Sumba dan sekitarnya, serta wilayah perairan Pulau Sabu, Rote, Timor, Batek dan sekitarnya seluas 3,5 juta hektar.

Keputusan ini permanen? Jangan-jangan taktik DKP untuk meredam emosi masyarakat saat menjelang penyelenggaraan Word Ocean Conference (WOC) di Manado. Terbesit ada kekhawatiran Indonesia tidak mau kehilangan muka di hadapan peserta WOC dari luar negeri hanya karena penolakan.

Dugaan ini beralasan, apalagi jauh sebelumnya, KKPN Laut Sawu sudah ditetapkan dan menjadi satu kesatuan, termasuk perairan Solor, Lembata, Alor dan Rote (SOLAR).

Terkait dengan konservasi ini, memang penting untuk memberikan pengertian kepada masyarakat untuk melestarikan paus. Masyarakat perlu diingatkan untuk mewaspadai masa paceklik paus. Jangan sampai budaya memburu paus ini nanti hanya akan tinggal cerita. Sebalikya, pemerintah juga dingatkan bukan karena atas nama konservasi lantas menghilangkan tradisi menangkap ikan paus oleh nelayan Lamalera.

Persoalan ini mesti dilihat secara arif dan bijaksana. MUngkin, salah satu solusi yang bisa ditawarkan adalah membolehkan nelayan Lamalera menangkap ikan paus tapi jumlah tangkapan setiap tahun harus dibatasi. Untuk hal ini, pemerintah melalui pihak terkait, termasuk Tim Konservasi Laut Sawu harus bisa memastikan berapa banyak Koteklema yang bermigrasi di laut Sawu dalam satu musim. Dari data ini, disarankan berapa yang ditangkap nelayan. Beriktunya, yang ditangkap adalah koteklema jantan, bukan betina atau yang sedang menyusui.

Kotaro Kojima, orang Jepang yang mendalami tentang tradisi penagkapan ikan paus, mengatakan, "Memang laut harus konservasi. Tidak boleh sembarang dan seenaknya. Tapi Lamalera itu warisan kebudayaan manusia. Jadi, tradisi ini tidak boleh hilang." (pk edisi 1, 2, 3 juni 2009, hal 1)


Selanjutnya...

Jumat, 30 Januari 2009

Laut Sawu Jalur Migrasi 14 Jenis Paus

WILAYAH perairan Laut Sawu yang terletak di antara Pulau Timor, Sabu, Sumba, Flores dan Kepulauan Alor, merupakan jalur migrasi 14 jenis ikan paus, termasuk di antaranya jenis paus langka yakni paus biru dan paus sperma.

Bahkan beberapa pulau di kawasan ini merupakan tempat peteluran penting bagi jenis-jenis penyu laut terancam, kata Ketua Tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Laut Sawu-Solor, Lembata, Alor/SOLAR, Jotham S.R. Ninef, di Kupang, Jumat (30/1/2009).

Jotham mengemukakan hal itu berkaitan dengan pentingnya perlindungan wilayah perairan Laut Sawu dan rencana pemerintah Indonesia untuk menjadikannya sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN).Dia mengambarkan, perairan Laut Sawu dikelilingi oleh rangkaian kepulauan dan corak bawah laut yang dramatis.

"Perairan ini terletak di jantung bentang laut Paparan Sunda Kecil dibagian selatan segitiga karang dunia dan menyokong beragam habitat karang dan pelagis paling produktif," katanya.

Letaknya juga di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia, sehingga menjadikannya sebagai koridor migrasi utama 14 janis paus.

Wilayah ini, katanya, juga mengalami fenomena oseanografi yang dinamis termasuk diantaranya arus laut Indonesia yang terkenal kuat.

Kombinasi arus yang kuat dan tebing laut curang menyebabkan pengaduan arus dingin yang mungkin merupakan faktor utama pemicu ketangguhan terhadap ancaman terbesar akan peningkatan suhu permukaan laut terkait perubahan iklim.

Karena itu, jika dapat secara efektif dilindungi, maka menurutnya, Laut Sawu dapat menjadi tempat perlindungan bagi kehidupan laut dan sumber daya perikanan yang produktif diantara perubahan iklim global, katanya.

Perairan Laut Sawu mulai tahun 2009 ini dicanangkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) dengan luas 4,9 juta hektare.

Saat ini sedang dilakukan kajian dan perancangan pengelolaan kawasan konservasi perairan Laut Sawu oleh sebuah tim yang berkantor pusat di Kupang, NTT. (ant edisi jumat 30 januari 2009)
Selanjutnya...

Nelayan Lamalera Tikam Empat Paus Belang Putih

NELAYAN di Lamalera, Kabupaten Lembata, menikam empat ikan paus belang putih berukuran besar, setelah 24 Desember lalu memperoleh "hadiah Natal" menaklukkan tujuh ikan paus dengan melibatkan puluhan nelayan.

Frans Keraf, nelayan Lamalera melaporkan, pada Senin (26/1/2009), beberapa orang nelayan Lamalera yang menggunakan sebuah sampan dilengkapi mesin Jonson 25 PK, menikam paus jenis belang putih empat ekor.

"Paus belang putih ini jarang didapat, apalagi sekali melaut mendapat empat sekaligus. Nelayan yang dapat juga hanya menggunakan sampan dengan mesin berkekuatan 25 PK," kata Keraf melaporkan dari Lamalera, Kamis (29/1/2009).

Dua dari paus jenis belang putih itu berbobot tujuh ton, satu paus berbobot lima ton dan satu lagi berbobot tiga ton. Keempat paus itu, ditikam sekitar satu mil dari pantai Desa Lamalera A dan Lamalera B di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata.

Setelah diseret ke pantai, para nelayan membagi-bagikan daging paus belang putih itu kepada semua pihak yang berhak mendapatkan bagian, sesuai dengan tradisi atau adat istiadat setempat.

Penangkapan kali ini, menurut Keraf, tergolong tidak lazim karena biasanya nelayan Lamalera berburu ikan paus dengan menggunakan "peledang" atau sejenis perahu tradisional.

Namun, pada penangkapan awal pekan ini, nelayan yang melaut menggunakan sampan dilengkapi mesin tempel merk Johnson, ketiban rezeki empat paus belang putih.

Biasanya, kata dia, nelayan lebih banyak memperoleh paus jenis lodam, bukan belang putih. Paus jenis ini juga pernah ditikam nelayan pada 24 Desember 2008 lalu, di mana dari tujuh paus yang ditikam, enam di antaranya jenis lodam dan satu jenis belang putih.

Para penduduk di Desa Lamalera A dan Lamalera B menggantungkan hidup dari berburu ikan paus karena tidak memiliki lahan pertanian yang subur, bahkan letak dua desa tersebut di atas bukit batu cadas. Daging dan minyak paus dibarter dengan pangan di Pasar Wulandoni,

Keraf menginformasikan, pada tahun 2007 para nelayan Lamalera berhasil menaklukkan 44 paus, sementara perburuan sepanjang tahun 2008 memperoleh 34 paus dan awal tahun ini, sudah empat paus yang ditangkap. (ant edisi kamis 29 januari 2009)
Selanjutnya...

Selasa, 27 Januari 2009

Terkena Uap Panas, Warga Mataloko Sakit

BERDASARKAN hasil identifikasi Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, saat ini ada 1.059 warga yang berdomisili di sekitar lokasi panas bumi Mataloko menderita sakit sejak terjadinya uap panas itu. Ada yang menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), infeksi kulit dan asma.

Data itu diperoleh setelah tim Dinkes Ngada dan Puskesmas Golewa diterjunkan ke lokasi Pembangkit Listrik Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Mataloko, Sabtu (24/1/2009). Tim itu diterjunkan dalam rangka mengidentifikasi penyakit yang diderita masyarakat pasca munculnya uap panas di lokasi PLTPB Mataloko.

Umumnya para penderita berdomisili disekitar lokasi semburan. Mereka mengaku menderita sakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), infeksi kulit dan asma. Mereka yang terkena penyakit didominasi penyakit ISPA, yakni sebanyak 544 penderita. Penyakit lainnya, yakni infeksi kulit sebanyak 185 penderita dan asma 33 penderita.


Penyakit yang diderita masyarakat ini ditemukan tim Dinkes Ngada pada empat lokasi, yakni Desa Ratogesa, Dadawea, Kelurahan Mataloko dan Kelurahan Todabelu.

"Meski data lapangan seperti itu, namun tim Dinkes Ngada masih terus melakukan identifikasi," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Hildegardis Bhoko, SKM, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (27/1/2009).

Dijelaskannya, tim yang diterjunkan itu beranggotakan staf Dinkes Ngada dan Puskesmas Golewa. Tim Dinkes Ngada dipimpin Longginus Lowa, SKM, Kasie Wabah dan Bencana pada Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Ngada.

"Tim ini sudah ke lokasi panas bumi, Sabtu (24/1/2009). Mereka telah melakukan identifikasi penyakit yang dialami para warga di radius yang berdekatan dengan lokasi panas bumi. Penyakit yang ditemukan antara lain ISPA sebanyak 544, infeksi kulit 185 dan asma 33 penderita. Penyakit yang ditemukan ini apakah karena uap panas dan semburan dari panas bumi tim Dinkes Ngada masih melakukan pemeriksaan," kata Bhoko.

Akan tetapi, lanjut Bhoko, penyakit yang ditemukan di lokasi ini berdasarkan pengakuan masyarakat. Data-data tentang para penderita itu akan dilengkapi sehingga dapat dilakukan perbandingan sebelum dan sesudah pengeboran. "Sepengetahuan kami, kadar belerang itu bisa menyembuhkan penyakit. Tapi kalau kadarnya terlalu tinggi juga bisa berbahaya," kata Bhoko.

Dia menegaskan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan guna mengetahui lebih jelas dampak langsung dan tidak langsung dari pengeboran sehingga ada penyakit yang muncul di masyarakat.

Tutup Semburan

Sementara itu masyarakat yang berdomisili pada radius sekitar 600 meter dari lokasi panas bumi meminta Geologi dan Pemkab Ngada sesegera mungkin menutup lokasi uap panas yang menurut warga seperti lumpur panas itu.

"Geologi boleh katakan itu bukan lumpur panas, tapi kami minta supaya ditutup, sehingga tidak merusak lingkungan dan sumber air. Kami sudah kena dampakya, ternak sapi yang kami sering ikat di pinggir kali tidak kami ikat lagi. Kami takut air tercemar belerang," ujar Wilhelmus Bolo, warga Kampung Pomamana, Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, di Kantor Bupati Ngada.

Dia mengatakan, apa yang disampaikan tim Geologi Bandung itu memang haknya. Tapi lokasi yang mengeluarkan uap panas itu sebaiknya ditutup saja.

"Kami sering melintas di sekitar lokasi yang ada semburan lumpur panas itu," kata Bolo.

Dia mengatakan, masyarakat di Pomamana khawatir sumber air tercemar dan bisa mematikan tanaman di pinggir kali yang sering dipakai warga untuk minum. Sedangkan hasil identifikasi tim Bapedalda Ngada tentang apakah sumber mata air tercemar belum ada hasilnya karena masih dalam proses pemeriksaan.

Terkait semburan itu, tim Geologi Bandung yang terdiri dari Kaswani, Jani Simanjuntak dan Bambang Sulaiman, Selasa (27/1/2009) pagi menemui Bupati Ngada guna menyampaikan hasil pantauan di lokasi panas bumi. Tim ini menyampaikan bahwa semburan itu adalah uap panas, bukan lumpur panas. Mereka juga menjamin uap panas itu tidak berbahaya karena tidak mengandung zat kimia.

Menunggu Keputusan Tim Geologi

Mantan General Manager PT Perusahan Listrik Negara (PLN) Propinsi NTT, Amir Rosidin, menjelaskan, pihaknya masih menunggu keputusan final dari tim Geologi Bandung terkait uap panas yang terjadi di Mataloko-Ngada.
Ia mengatakan itu saat acara pisah kenal GM PT PLN NTT baru, S Januwarsono, di Restoran Nelayan Kupang dari, Selasa (27/1/2009) malam.

"Kami sudah mendapat pemberitahuan dari tim geologi yang sedang bertugas di Mataloko. Disampaikan bahwa masalah itu tidak berbahaya dan tidak mengganggu seluruh proses persiapan pembangkit listrik tenaga bumi (PLTPB) yang kini tengah berjalan," ujar Rosidin.

Hanya saja, kata dia, proses ini harus melalui keputusan dari pimpinan tim Geologi yang berpusat di Bandung. Artinya, hasil temuan itu akan dikaji, lalu Geologi Bandung memutuskan sesuai hasil kajian lapangan.

Rosidin menjelaskan, tim Geologi Bandung yang masih bertugas di Mataloko itu telah mengambil sejumlah sampel terkait kasus uap panas itu. Tiga sampel itu, yakni lumpur, batuan dan gas. Ketiga sampel tersebut nanti diuji di laboratorium untuk mengetahui kira-kira lumpur tersebut berasal dari lapisan mana.

Berdasarkan laporan dari lapangan, kata dia, apa yang terjadi di Mataloko sebenarnya kejadian biasa setiap tahun saat musim hujan. Saat musim hujan, ada air yang masuk ke pori-pori bumi sehingga menimbulkan sumbatan. Makanya terjadi semburan bersama lumpur. Kemudian radius semburan juga tidak seberapa jauh atau masih tidak mempengaruhi areal pertanian warga setempat.

"Kalau ada tanaman mati, itu karena uap panas yang terbawa angin bukan karena lumpur panas seperti yang diduga," ujar Rosidin.

Meski demikian ia menegaskan, dalam masalah ini, tim geologi yang tengah berada di lokasi harus memberikan pencerahan secara luas. Dia mengatakan, proses penggalian energi listrik panas bumi itu dilakukan tim geologi, bukan PLN. Olehnya tanggung jawab sepenuhnya ada pada tim geologi. PLN hanya menerima hasil kerja tim geologi. Kalau tim geologi merekomendasikan jalan maka pasti berjalan.

Hanya Enam Sumur

Pada bagian lain, Rosidin juga meluruskan pemberitaan tentang sumur yang tengah digali di tempat itu. Di lokasi panas bumi itu ada enam sumur, bukan delapan sumur.

Ia merincikan: sumur pertama telah dinyatakan gagal dan tidak digunakan. Sumur dua berkekuatan 100 KW, sumur tiga dan sumur lima berkekuatan 1,8 MW (dua sumur ini yang akan rencananya akan digunakan dalam waktu dekat bila tidak ada kendala).

Berikutnya, lanjut Rosidin, sumur empat disiapkan untuk pembangkit lain; dan sumur enam untuk kegiatan injeksi air ke dalam tanah. "Kondisi yang ada di tempat itu normal-normal saja, sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Lain soal kalau kondisi itu terjadi akibat kegiatan lain seperti, gempa bumi," ujarnya. (ris/ely/pk edisi rabu 28 januari 2009)
Selanjutnya...

Semburan di Mataloko Bukan Lumpur Panas

TIM Geologi Bandung memastikan bahwa semburan yang terjadi di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Mataloko Kabupaten Ngada adalah berupa uap panas bukan berbentuk lumpur panas.

Demikian keterangan Tim Geologi Bandung yang terdiri dari Kaswani, Jani Simanjuntak dan Bambang Sulaiman, saat ditemui di lokasi semburan, Senin (26/1/2009).

Ketiganya mengatakan, tekanan gas di bagian bawah tanah semakin besar. Besarnya tekanan itu telah bercampur dengan air yang masuk ke dalam sumur, sehingga muncul uap panas. Mereka mengibaratkan semburan itu seperti air yang mendidih.

Kaswani menjelaskan, hasil penglihatan tim, semburan lumpur panas tidak ada. Namun ada uap panas yang keluar karena adanya tekanan dari bawah tanah yang telah bercampur dengan air yang masuk, sehingga muncul lumpur panas di permukaan sumur.

"Hasil pantauan kami secara dekat tidak ada semburan lumpur panas. Yang ada hanya uap panas seperti air mendidih. Ini tidak membahayakan. Kami akan bawa sample air ini ke Bandung agar kami periksa. Saat kami pantau dari dekat, di sini tidak ada masalah. Kami jamin ini bukan seperti Lumpur Lapindo," ujarnya.

Ia meminta masyarakat tidak perlu resah. "Kami jamin tidak akan seperti di Sidoarjo. Ini hanya uap panas yang keluar karena bercampur dengan air yang masuk ke dalam sumur," kata Kaswani, yang dibenarkan temannya Simanjuntak.

Keduanya memastikan, memasukki musim panas nanti akan berkurang uap airnya. Uap panas itu sebenarnya sangat penting kalau dipasang guna mengangkat turbin listrik.

Mengenai bahaya terhadap lingkungan dan tanaman, Bambang Sulaiman mengatakan, ia memastikan tidak ada zat kimia yang ada dari semburan tersebut. Yang ada hanya uap air. "Tidak ada zat kimia yang ada di dalam lokasi panas bumi," kata Bambang.

Ketiganya mengaku, fenomena alam seperti munculnya uap panas bercampur air adalah hal yang biasa terjadi dan selama ini telah menjadi perhatian geologi. "Kami akan pantau terus guna melakukan proteksi sehingga tidak keluar dari zona yang telah ditetapkan," kata Kaswani. (ris/pk edisi selasa 27 januari 2009 hal 1)
Selanjutnya...

Kamis, 22 Januari 2009

Lumpur Panas Mendatangkan Penyakit


PENYAKIT KULIT -- Seorang anak di Kelurahan Todabelu, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, sekitar lokasi semburan lumpur panas, menderita penyakit kulit.

SEMBURAN lumpur panas disertai bau belerang yang menyengat di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, kini menimbulkan dampak bagi warga sekitar. Anak-anak dan balita mulai terserang penyakit kulit.
Kulit di sekujur tubuh terkelupas. Diduga, penyakit ini muncul dampak dari suhu panas dan bau belerang.

Warga yang terkena penyakit kulit itu berdomisili pada radius sekitar 600 meter dari lokasi panas bumi, yakni Desa Ratogesa, Kampung Toda, Kelurahan Todabelu dan Mataloko, Kecamatan Golewa.

Terkait kasus itu, warga meminta pengelola PLTPB Mataloko bertanggung jawab dan sesegera mungkin mengatasi semburan lumpur panas tersebut.

Domi Boko, tokoh masyarakat di Kampung Toda, menuturkan, banyak balita dan anak di kampung itu terkena penyakit kulit yang hingga kini belum diobati. Jumlah penderita terus bertambah sejak ada semburan lumpur panas dari lokasi PLTPB Mataloko.

"Kami sudah sampaikan kepada pengelola PLTPB Mataloko, agar memperhatikan balita dan anak-anak yang terkena penyakit. Tapi dari pengelola Panas Bumi katakan tidak apa-apa. Kami berharap pengelola PLTPB bertanggung jawab menutupi semburan lumpur panas tersebut," tegas Boko.

Boko menunjukkan dua orang anak yang terkena penyakit kulit, yakni Yovin Suli (11) dan Fancy Bate (11).

Boko juga mengungkapkan, para petani juga trauma karena akibat lumpur panas tanaman jagung, kacang dan ubi-ubian terancam gagal panen. Ini tanaman tersebut mulai mengering akibat lumpur panas itu. Selain itu, tanaman kopi, kakao, cengkeh dan kemiri juga rusak karena terkena semburan lumpur panas.

Sementara itu, Ny. Petronela Due, mengatakan, tiga orang anaknya juga terserang penyakit kulit dan sampai sekarang belum diobati. Tiga anaknya itu, yakni Iren Waja (6), Fiano Hanu (4 bulan) dan Bertin Bhubhu (8).

Tim Bapedalda Kabupaten Ngada, Kamis (22/1/2009) siang turun ke lokasi panas bumi dan mengambil air di beberapa sumber air di lokasi yang berada dekat semburan lumpur panas. Air yang diambil itu akan dijadikan sampel untuk mengidentifikasi, apakah air itu tercemar atau tidak.

"Kami hanya mengidentifikasi air minum di lokasi yang berada di panas bumi. Air yang kami ambil akan diperiksa di laboratorium untuk memastikan, apakah air itu tercemar atau belum," kata Emanuel Kora, Kabid Pengelolaan Kualitas Lingkungan Bapedalda Ngada.

Pemerintah Kelurahan Todabelu dan petugas pertanian di Kecamatan Golewa, telah mendata kerugian tanaman jagung, kacang dan ubi yang terkena semburan lumpur panas. Didata juga tanaman cengkeh, kopi, kakao dan kemiri yang terkena semburan lumpur panas.

Lokasi semburan lumpur panas membentuk kawah berdiameter 100 meter. Tinggi semburan mencapai 2 meter. Hingga Jumat (23/1/2009), Tim Geologi Bandung belum tiba di lokasi semburan lumpur. (ris)
Selanjutnya...

Rabu, 21 Januari 2009

Semburan Lumpur Panas di Mataloko


LUMPUR PANAS -- Tampak semburan lumpur panas di PLTPB Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.


SEMBURAN lumpur panas di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Pihak PLTPB belum bisa melakukan penanganan karena masih menunggu kedatangan Tim Geologi Bandung yang menurut rencana tiba di Mataloko, Rabu (21/1/2009).

Kini, semburan lumpur panas menjadi tontonan warga sejak Selasa (20/1/2009). Warga dari berbagai wilayah di Ngada datang berbondong-bondong untuk menyaksikan secara dekat lumpur panas.

Lumpur panas meluber hingga membentuk 'danau' dengan diameter 50 meter. Di bagian pinggiran kawah itu petugas telah menggali selokan agar lumpur panas yang meluap tidak masuk ke areal perkebunan warga. Namun, penanganan guna mengatasi bahaya semburan lumpur panas belum ada.

Warga yang berdomisili di dekat lokasi semburan yaitu desa Ratogesa, Kelurahan Mataloko dan Kelurahan Todabelu, mengaku resah dengan kejadian tersebut. Mereka khawatir karena semburan panas merusak tanaman dan pemukiman mereka. Sumur yang menyemburkan panas itu berada di Lokasi Sumur Mataloko I dari delapan sumur di PLTPB Mataloko. Lumpur panas bercampur belerang meluap hingga ke kebun jagung di sekitar lokasi panas bumi.

Warga di sekitar lokasi khawatir sumber mata air yang mereka minum bisa tercemar lumpur panas yang bercampur belerang. Sementara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada belum bersikap karena masih menunggu Tim Geologi Bandung guna melihat semburan lumpur tersebut.

"Saya tinggal di kampung sebelah yang berdekatan dengan lokasi panas bumi. Saya khawatir tanaman jagung kami bisa gagal karena terkena semburan lumpur panas. Munculnya lumpur panas ini terdengar seperti bunyi meriam," kata Wilhelmina, warga Desa Ratogesa.

Sejak adanya pembangunan PLTPB Mataloko, kata Wilhelmina, mereka telah khawatir kalau tanaman perkebunan dan pertanian bisa terancam karena semburan tersebut. Di sekitar lokasi, semburan lumpur panas telah merusak tanaman jagung warga di sekitar lokasi. Ada juga dedaunan yang berubah warna menjadi hitam pekat. Perubahan tersebut karena semburan dari dalam sumur bor yang hanya ditutup dengan batu.

Sumur yang dibor hanya ditutup dengan bebatuan kali sebanyak 30 truk. Ada dua sumur. Yang satunya telah dicor dan dipasang pipa. Sumur yang mengeluarkan semburan lumpur panas memiliki kedalaman sekitar 200 meter.

Awalnya, semburan lumpur panas hanya ada beberapa titik. Sekarang ini muncul titik baru yang mengeluarkan lumpur panas. Luapan lumpur panas ini terjadi karena hujan yang terus mengguyur wilayah Golewa, Rabu sore kemarin. Luapan lumpur panas hingga ke kebun warga karena ada selokan yang digali petugas panas bumi dengan maksud lumpur bisa mengalir ke kali. Tetapi warga di sekitar protes karena takut sumber air minum tercemar lumpur panas.

Selain itu, selokan yang digali untuk mengalirkan lumpur yang meluap dibangun seperti jalan setapak menuju ke kebun jagung warga yang letaknya di dataran rendah/di bagian bawah dari lokasi panas bumi. (ris/pk edisi 20 januari 2009 hal 1)
Selanjutnya...

Selasa, 16 September 2008

Abrasi Serius Landa Ndori


KERUSAKAN serius akibat abrasi (pengikisan oleh air laut) melanda kawasan pantai selatan Kabupaten Ende, tepatnya di wilayah Desa Maubasa, Maubasa Timur dan Serandori, Kecamatan Ndori. Tanggul penahan gelombang sudah jebol, jalan raya nyaris putus dan perumahan warga di pesisir pantai itu terancam.

Tanggul penahan/pemecah gelombang nyaris tak tersisa akibat dihantam gelombang laut. Bahu jalan raya sudah terkikis. Badan jalan yang sudah diaspal baik itu terancam. Jika tidak ada penanggulangan segera, maka pada musim barat tahun ini, ruas jalan menuju wilayah tiga desa itu pun bisa putus digerus air laut.

Demikian pantauan Pos Kupang di wilayah tersebut, Sabtu (13/9/2008) siang. Jebolnya tanggul pemecah gelombang tidak hanya membuat ruas jalan raya di tepi pantai itu yang rusak, tetapi juga membuat ratusan rumah warga di pesisir pantai itu pun terancam dihantam gelombang laut. Sebuah masjid yang terletak hanya sekitar 20 meter dari bibir pantai, juga terancam.
Beberapa warga setempat mengatakan, mereka menyadari adanya abrasi sebagai gejala alam yang sulit dihentikan. Namun mereka juga sulit untuk pindah atau mencari lokasi pemukiman yang baru karena mereka tidak punya lahan di tempat lain untuk dijadikan lokasi pemukiman.

"Kalau musim barat, air laut naik sampai sekitar 100 meter ke darat dan menggenangi rumah-rumah. Kalau saat sekarang ini laut masih normal. Lihat saja, tembok penahan gelombang sudah rusak dan sebagian jalan raya juga sudah rusak. Pohon kelapa di pantai ini juga sudah banyak yang tumbang karena abrasi pantai," kata Zaid MS Pareira, warga Dusun II Ipi, Desa Serandori.

Ahmad Ahad, juga warga setempat, menambahkan, abrasi dan terjangan gelombang sudah membawa kekhawatiran setiap tahun bagi warga setempat. Tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. "Kami memang berpikir untuk mencari pemukiman baru tapi untuk pindah tidak mudah, harus ada lahan dan harus membangun rumah di lokasi pemukiman yang baru," katanya.

Camat Ndori, Konstantinus Djara yang ditemui di rumahnya di wilayah Desa Maubasa, Sabtu (13/9/2008) siang, membenarkan bahwa ratusan rumah warga di pesisir pantai di kecamatan itu terancam akibat abrasi yang terus terjadi.

"Memang tembok penahan ombak yang dibangun di pesisir pantai di wilayah ini sudah rusak akibat adanya abrasi. Begitu juga dengan ruas jalan masuk yang melintas di wilayah pantai menuju ke tiga desa itu juga sudah rusak. Kami dari pemerintah kecamatan sudah mengusulkan ke tingkat kabupaten untuk dilakukan perbaikan tembok atau tanggul penahan ombak. Hanya saja sampai saat ini belum mendapat jawaban karena begitu banyaknya permasalahan yang harus menjadi perhatian pemerintah kabupaten," kata Djara.

Dia menambahkan bahwa pihaknya terus berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah abrasi pantai di wilayahnya. "Kami juga terus berharap agar ada perhatian dari pemerintah kabupaten untuk mengatasi masalah ini," katanya. (mar/Pos Kupang edisi Senin 15 September 2008 hal 1)


Pemkab Ende Kaji Penanganan Abrasi

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Ende akan mengkaji penanganan kerusakan beberapa kawasan pantai akibat abrasi (pengikisan oleh air laut). Sebab, abrasi tidak hanya terjadi di kawasan pantai selatan di Kecamatan Ndori, tetapi juga di kawasan pantai di Kecamatan Maukaro dan Kecamatan Ende.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswwil) Kabupaten Ende, Agustinus Naga, S.H, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (15/9/2008). "Di wilayah Pantai Jagapo-Desa Nabe, Kecamatan Maukaro dan di Mbomba, Kecamatan Ende sekitar tujuh kilometer arah barat Kota Ende terjadi abrasi. Di sana ada ruas jalan yang hampir putus karena abrasi. Jadi, abrasi terjadi di beberapa tempat, sementara anggaran daerah Kabupaten Ende terbatas," kata Agustinus.

Ia menjelaskan, Dinas Kimpraswil Kabupaten Ende pernah mengajukan anggaran untuk penanganan pantai yang mengalami abrasi. Namun, lanjutnya, penanganan terhadap abrasi pantai ini harus dikaji lagi karena abrasi tidak hanya terjadi di wilayah Kecamatan Ndori, tetapi juga di wilayah kecamatan lainnya seperti di pantai utara di Kabupaten Ende.

Agustinus mengemukakan, Dinas Kimpraswil Ende sudah bangun tembok penahan gelombang di pesisir pantai Ndori, namun tetapi karena ombak deras dan air laut terus naik sehingga tembok roboh. Untuk memperbaiki jalan raya yang rusak karena abrasi, kata Agustinus, juga belum tentu menyelesaikan masalah karena ruas jalan terletak di dekat pantai.

"Kalau dulu, waktu jalan raya dibangun, bibir pantai masih cukup jauh. Namun karena air laut terus naik dan terjadi abrasi, saat ini jalan raya sudah digenangi air laut. Apakah ruas jalan raya yang harus dipindah, ini pun harus dikaji lagi. Menyangkut penanganan terhadap pemukiman penduduk, yang jadi masalah adalah warga setempat tidak mau pindah dari tempat tinggal mereka di bibir pantai. Kalaupun mereka mau pindah berarti harus ada lahan baru untuk permukiman karena warga di pantai beralasan tidak punya lahan untuk membangun rumah di tempat baru," kata Agustinus.

Ia menjelaskan, Pemkab Ende pernah beberapa kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang bermukim di wilayah pantai, termasuk di Ndori untuk mencari pemukiman baru. Tetapi, warga setempat beralasan tidak punya lahan dan tidak punya biaya untuk membangun rumah di tempat yang baru. Sementara anggaran Pemkab Ende terbatas sehingga sulit menanganinya.

Meski demikian, kata Agustinus, hal ini akan dipikirkan lagi penanganan masalah abrasinya.
Diberitakan sebelumnya, ratusan rumah warga di pesisir pantai di tiga desa di Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende saat ini terancam kenyamanannya akibat abrasi pantai yang terus mengikis wilayah tersebut. Tembok tanggul penahan ombak sudah rusak, bahkan ombak di pantai tersebut telah merusak ruas jalan aspal menuju wilayah itu.

Ratusan rumah warga ini berada di wilayah pesisir pantai Desa Maubasa, Desa Maubasa Timur dan Desa Serandori. Selain rumah warga, jika abrasi terus terjadi, maka rumah ibadah seperti masjid di wilayah itu yang letaknya sekitar 20 meter dari bibir pantai akan terancam abrasi.

Beberapa warga setempat yang ditemui mengatakan, mereka menyadari adanya abrasi pantai sebagai gejala alam yang sulit dihentikan. Tetapi, mereka juga sulit untuk pindah atau mencari lokasi permukiman baru karena mereka tidak punya lahan di tempat lain untuk dijadikan lokasi permukiman. (mar/Pos Kupang edisi 16 September 2008 hal 1)

Tak Ada Dana Tangani Abrasi

KETUA Komisi Anggaran DPRD Kabupaten Ende, Yustinus Sani, S.E, mengatakan, tahun anggaran 2008 ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende tak ada dana lagi untuk penanganan abrasi pantai.

Yustinus Sani yang ditemui di kediamannya, Selasa (16/9/2008), mengatakan, pengalokasian anggaran untuk penanganan masalah abrasi baru akan dibahas pada sidang pembahasan APBD Kabupaten Ende tahun anggaran 2009 mendatang.

Meski demikian, lanjut Sani, Pemkab Ende harus tetap berupaya untuk memfasilitasi masyarakat di kecamatan Ndori dan wilayah lainnya yang terancam abrasi pantai untuk mencari pemukiman baru bagi warga. Terus menetap di permukiman lama di bibir pantai seperti di Ndori, lanjutnya, tidak bisa dibiarkan terus berlangsung karena kondisi air laut saat ini terus naik.

Sani dihubungi menyangkut penanganan masalah abrasi karena posisinya sebagai komisi anggaran. "Masyarakat Ndori itu seharusnya sudah pindah ke permukiman yang baru. Pemerintah harus memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan permukiman yang layak," katanya.

Menurut dia, kalaupun Pemkab Ende mengalokasikan angaran untuk penanganan abrasi, maka aksi penanganan abrasi baru bisa dilakukan April 2009 setelah pembahasan anggaran APBD Kabupaten Ende tahun anggaran 2009.

"Saran saya, untuk jangka pendek penanganan abrasi bisa dilakukan dengan cara membangun tembok pemecah dan penahan gelombang. Namun, untuk jangka panjang seharusnya dilakukan upaya penanaman hutan bakau di pesisir pantai. Dan, yang paling bagus memfasilitasi masyarakat yang bermukim di daerah pantai untuk pindah ke permukiman yang baru. Pemerintah harus bisa mencari tempat permukiman baru bagi warga yang terancam abrasi pantai," kata Sani.

Sani mengungkapkan, saat ini Pemkab Ende tidak punya dana sehingga tidak bisa terlalu memaksa pihak pemerintah untuk segera menangani abrasi ini. "Dana baru bisa dialokasikan untuk penanganan abrasi pada tahun 2009 mendatang," ujarnya. (mar/Pos Kupang edisi Rabu 17 September 2008 hal 1) Selanjutnya...

Senin, 15 September 2008

Melindungi Si Pelindung Bumi

Oleh Maria Padmasanti Bunga Naen
- Siswa SMAN 1 Kupang
- Pemenang Pertama Lomba Menulis Lingkungan

TAK bisa dipungkiri bahwa dampak penipisan lapisan ozon sudah terasa sekarang ini. Seperti diketahui kerusakan lapisan ozon dapat menyebabkan peningkatan radiasi sinar ultraviolet B (UV-B). Radiasi UV-B yang berlebihan membawa dampak negatif bagi kesehatan manusia seperti kanker kulit, kerusakan mata, katarak, dan gangguan sistem kekebalan manusia. Radiasi UV-B juga dapat berpengaruh terhadap tanaman dan hewan.

Tanaman akan mudah terserang penyakit yang akan menghambat pertumbuhan tanaman dan mengurangi produktivitasnya. Kerusakan hutan dan penurunan plankton di daerah perairan pun tak terelakkan. Pertumbuhan tanaman yang terhambat menyebabkan banyak spesies tanaman yang punah. Hal ini sangat memprihatinkan karena perubahan yang terjadi membawa pengaruh yang sangat besar bagi proses hidup makhluk hidup di bumi yang saling melengkapi dan saling ketergantungan satu sama lain. Tanaman merupakan dasar dari terbentuknya jaring-jaring makanan. Selain itu tanaman juga berfungsi untuk mencegah erosi dan menahan air agar tidak hilang.

Dalam proses fotosintesis, tanaman memerlukan gas karbondioksida yang merupakan polutan udara sehingga dapat mengurangi polusi udara. Hasil dari fotosintesis ini menghasilkan oksigen yang sangat berguna bagi makhluk hidup. Dapat dibayangkan, apabila tanaman mengalami kepunahan, maka akan terjadi bencana, baik bencana alam maupun bencana kelaparan yang membahayakan kelangsungan hidup makhluk hidup di dunia ini. Sungguh mengerikan!

Ozon (O3) adalah molekul yang tersusun atas tiga atom oksigen. Ozon dapat ditemukan di seluruh lapisan atmosfer, namun konsentrasi tertinggi berada pada ketinggian kurang lebih 25 km di atas permukaan laut. Bagian ini disebut lapisan ozon. Lapisan ozon ini terletak pada stratosfer yang dapat menyaring radiasi matahari sehingga radiasi yang sampai di bumi intensitasnya sudah tidak terlalu tinggi.

Berbeda dengan ozon stratosfer, ozon pada tingkat permukaan (pada lapisan troposfer) merupakan polutan, hasil emisi (pembuangan) industri dan kendaraan serta berkombinasi dengan kondisi cuaca tertentu. Ozon ini merupakan gas yang dapat mengganggu fungsi pernafasan serta berakibat buruk bagi tanaman. Ozon permukaan juga menyerap radiasi sinar matahari, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi ozon stratosfer yang hilang.

Ozon terbentuk di stratosfer ketika energi dinas matahari mengenai molekul oksigen (O2) dan menyebabkan dua atom oksigen tersebut terpecah. Jika atom bebas tersebut bergabung dengan molekul oksigen (O2) lain, maka akan membentuk ozon (O3). Di lingkungan atmosfer yang belum tercemar terjadi keseimbangan antara jumlah ozon yang terbentuk dan jumlah ozon yang terurai, sehingga total konsentrasi ozon di stratosfer akan relatif konstan.

Ozon juga pecah secara alami di atmosfer oleh sinar matahari dan reaksi kimia dari berbagai campuran yang mengandung nitrogen, hydrogen, dan klorin yang terjadi secara alami dalam jumlah yang kecil. Dalam jumlah besar klorin dapat mengakibatkan penipisan lapisan ozon. Penipisan lapisan ozon terjadi ketika adanya gangguan keseimbangan alam antara pembentukan dan penguraian ozon di stratosfer.

Penelitian membuktikan klorin dan bromin yang terurai dari senyawa sintetik menjadi penyebab utama penipisan ini. Manusia menyebabkan kerusakan lapisan ozon melalui penggunaan bahan kimia yang mengandung klorin atau bromin yang dapat memecah molekul ozon.

Kelompok terbesar dari bahan perusak ozon adalah clorofluorocarbons (CFC). Pada tahun 1973, Molina dan Rowland dari Universitas California menyimpulkan bahwa CFC, senyawa kimia buatan manusia telah menyebabkan kerusakan lapisan ozon di stratosfer. Pada lapisan bawah CFC bersifat stabil dan banyak digunakan di industri dan rumah tangga. Akan tetapi ketika lepas di atmosfer bahan kimia tersebut akan naik ke stratosfer didorong oleh angin.

Pada lapisan stratosfer, energi sinar UV-B dapat memecah molekul CFC melalui reaksi fotokimia yang membebaskan atom klorin (CI). Atom klorin bebas akan bereaksi dengan ozon dan memecah ozon menjadi klorin oksida dan oksigen.

Klorin oksida akan pecah kembali menjadi atom klorin bebas yang dapat kembali memecah molekul ozon. Reaksi tersebut akan terus berulang, satu atom klorin dapat memecah 10.000 molekul ozon. Sebagai hasilnya, ozon di stratosfer akan berkurang dan menyebabkan terjadinya lubang ozon di atas Antratika. Penelitian beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa ukuran lubang ozon tersebut mencapai 8,2 juta mil (lebih besar dari luas negara Amerika Serikat dan Canada)

Selain merusak lapisan ozon, CFC pun mempunyai andil dalam perubahan iklim bumi. Meski peran utama dipegang oleh karbondioksida, peningkatan jumlah gas CFC di udara dapat menambah efek pemanasan global, yang disebabkan karena gas tersebut juga berpotensi dalam memerangkap panas.

Selain CFC, juga terdapat bahan-bahan perusak ozon (BPO) lainnya yang pada dasarnya mengandung hidrokarbon yang berklorin, florin dan bromin, di antaranya hydro-clorofluocarbons (HCFC), halon, hydro-bromofluorocabons (HBFC), bromochloromethane, methyl chloroform, carbon tetrachloride dan methyl bromide.

Sadar atau tidak kerusakan lapisan ozon merupakan ulah dari manusia. Di sebagian besar negara-negara, sektor terbesar yang masih menggunakan BPO adalah kegiatan servicing lemari es dan AC, di mana CFC dan HCFC digunakan sebagai bahan pendingin. BPO juga digunakan sebagai bahan pengembang untuk pembuatan busa (foam), cairan pembersih (cleaning solvent) pada industri eletronika, sebagai zat pendorong (propellant) untuk produk aerosol (semprotan), bahan untuk sterilisasi, dan bahan pemadam kebakaran.

Apa yang dapat dilakukan untuk melindungi si pelindung bumi kita? Agar kerusakan lapisan ozon yang terjadi tidak semakin parah dan kita dapat terhindar dari dampaknya yang membahayakan, dibutuhkan kesadaran dan kerja sama dari seluruh masyarakat dunia untuk tidak menggunakan zat-zat yang dapat merusak dan melubangi lapisan ozon. Tindakan sederhana yang dapat dilakukan antara lain dengan menghindari pembelian barang-barang yang mengandung BPO. Sebelum membeli peralatan pemadam kebakaran, barang-barang foam, lemari pendingin dan AC harus dipastikan lebih dulu apakah produk sudah ramah ozon, menolak membeli barang yang mengandung BPO jika alternatif lainnya tersedia, dan mencatat perusahaan yang masih menggunakan BPO dan suarakan keprihatinan kita terhadap hal tersebut. Apabila di rumah, perusahaan atau kantor kita masih terdapat barang-barang yang mengandung BPO perlu dilakukan perawatan peralatan yang baik untuk menjamin CFC tidak terlepas ke stratosfer.

Disarankan beberapa hal untuk membantu melindungi diri kita dari bahaya radiasi UV-B yaitu dengan mengurangi kegiatan di luar ruangan pada jam 10.00 - 15.00 ketika matahari bersinar sangat terik, menggunakan pakaian dan aksesoris (topi, kacamata) yang dapat melindungi dan menahan sinar matahari dari tubuh, serta menggunakan sun cream dengan sun protection factor (SPF) 15 atau lebih, pada kulit yang tidak terlindung terutama saat melakukan aktivitas di luar ruangan.

Marilah kita sebagai generasi muda lebih peduli dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh bumi kita. Lapisan ozon jangan sampai makin besar ukuran lubangnya dari tahun ke tahun. Kita dapat melakukannya dengan lebih peka terhadap teknologi ramah lingkungan. Semoga niat baik dan usaha yang kita lakukan diberkati Tuhan. * (Pos Kupang edisi Selasa 16 September 2008 hal 14) Selanjutnya...

Kamis, 11 September 2008

Studi Banding Pengolahan Sampah di Depok

Menyisir Kota Mencari Tumpangan (1)

Oleh Rosalina Langa Woso

DUA belas anggota rombongan yang ditetapkan Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, dengan Surat Perintah Perjalan Dinas (SPPD) sebagai tim Studi Banding Sampah di Kota Depok, Jakarta Barat, berangkat dalam dua kloter. Ada yang mendahului ke Kota Depok guna menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan studi banding. Tim lainnya berangkat sesuai jadwal hari Selasa (19/8/2008), namun dengan pesawat yang berbeda.

Keberangkatan tim untuk mencapai Kota Depok sebagai daerah tujuan studi banding sangat melelahkan. Maklum, sejak berangkat Selasa (19/8/2008), pukul 01.00 Wita, tim baru mendapat penginapan yang layak, Rabu (20/9/2008), pukul 01.35 Wita dini hari di P'arunk, Jalan Raya Parung Kilometer 40 Parung-Bogor.

Perjalanan panjang itu, bukan karena tim tidak berpengalaman menghafal seluk beluknya jalur transportasi menuju Jakarta atau Depok. Pilihan jalur angkutan umum dengan menggunakan bus berdasarkan kesepakatan bersama anggota dan ketua tim studi banding, yang juga Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang, Drs. Adrianus Lusi.

Bus yang ditumpangi bergerak dari Bandara Juanda menuju Terminal Pasar Minggu, saat matahari mulai merebah di ufuk barat. Hati mulai terasa mual karena sejak siang hari belum ada sarapan yang mengganjal perut. Rombongan yang tiba pukul 19.00 Wita di Terminal Pasar Minggu, sempat menarik perhatian warga setempat.

Betapa tidak. Rombongan yang tampil necis itu justru hiruk pikuk turun dari bus sambil menarik koper kemudian bergegas mencari tumpangan bus menuju Terminal Depok.

Ledekan dari pemilik warung tempat tim mengisi kampung tengah tidak bisa dielak lagi. Dengan bahasa Jawa yang medok, para pemilik warung itu berkomentar kalau rombongan pemkot itu kelihatan aneh. "Baru menumpang pesawat kok, sekarang tarik koper ke sana ke mari," ujar seorang pemilik warung sambil menunggu pembeli lainnya.

Perut keroncong sejak siang hari lebih kuat untuk menahan olokan itu, lambung yang terasa perih menuntut untuk segera diisi secangkir teh panas untuk mengusir angin di dalam lambung. Paling tidak, minuman panas itu bisa mengusir rasa mual dan memberi tenaga baru menuju Depok lebih menyenangkan.

Tepat pukul 09.00 Wita, rombongan tiba di Terminal Depok. Sambil menunggu utusan dari Dinas Kebersihan Kota Kupang datang menjemput, saya dan anggota tim lainnya duduk di pinggiran terminal sambil memeluk tas masing-masing.

Tawaran para sopir angkot di Terminal Depok yang masih ramai tidak digubris lagi. Hati kian gerah karena malam kian merangkak menjemput malam. Sebuah angkota pun bersedia mengantar ke penginapan yang sudah disiapkan oleh tim pendahulu. Lobi dengan petugas Pol PP Depok mencari tumpangan, pun berakhir. Tim duduk berdesakan di atas angkota lalu melaju ke Taman Wisata Buana, di perbatasan Kota Depok, tepat pukul 11.06 Wita.

Rasa lelah dan kantuk membuat hati galau dan bergegas mencari kamar tidur. Tiga ofice boy yang berada di lokasi penginapan mengantar rombongan pemkot yang membawa tas masing-masing.

Penginapan yang disebut Taman Wisata Buana itu memiliki beberapa kamar tidur. Kamar berukuran 2 x 2 meter itu hanya diisi kasur selebar luas kamar yang ada. Ditutup dengan dua pintu dorong, mirip pintu rumah penduduk di Jepang dalam Film Oshin.

Dua lembar pintu itu terbuat dari kayu dengan kaca persegi empat, keempat sisi kacanya tampak bening. Siapa saja dengan mudah menatap ke dalam kamar itu. Kamar wisata, dilengkapi dengan kamar mandi dan water closed. Sementara musik keras, terpantul dari salah satu kamar lokasi penginapan. Para gadis mengenakan rok mini dengan atasan bertali satu, nongkrong sambil menarik sebatang rokok.

Jarum jam mendekati pukul 12.00 Wita, rasa lelah setelah menempuh perjalan darat dan udara tidak tertahankan lagi. Sayangnya, penginapan yang disiapkan sangat terbatas, tidak memiliki kunci pintu kamar. Pagar pengaman yang terbuat dari besi setinggi satu meter, sebagai pembatas kamar satu dan lainnya tidak digembok.

Kondisi fisik penginapan itu membuat enam anggota tim studi banding memutuskan angkat kaki dari penginapan Taman Wisata Buana menuju jantung Kota Depok mencari penginapan baru. Empat anggota lainnya memilih bertahan menginap di Wisata Buana.

Rombongan pun seolah-olah dibagi menjadi tiga kelompok. Empat angggota bertahan di Wisata Buana, enam anggota lainnya mencari penginapan dalam Kota Depok yang dipimpin Kadis Kebersihan. Tim lainnya, anggota DPRD Kota Kupang memilih menginap di Jakarta.

Malam itu disepakati pemilihan penginapan baru di Kota Depok harus dekat Kantor Walikota Depok agar tidak telat beraudiens dengan Walikota Depok, H Nur Mahmudi Ismail, yang jadwalkan esok hari, Rabu, 20 Agustus 2008, pukul 09.00 Wita.

Upaya pencarian hotel pun membutuhkan waktu lama karena tiga hotel yang didatangi sekitar Kantor Walikota Depok dinyatakan penuh oleh resepsionis. Enam anggota tim ini pun tidak kecil hati. Dengan tetap menggunakan jasa kebaikan sopir angkota, kembali melaju menyisir hampir seluruh arah Kota Depok untuk mencari hotel.

Tim baru mendapatkan hotel pada Rabu (20/8/2009) dini hari, pukul 01.35 Wita, di Hotel P'arunk, Jalan Raya Parung, Kilometer 40 Parung-Bogor. Hotel yang baru berusia dua tahun itu memiliki 100 lebih kamar. Saat tim pemkot menempati hotel berbintang itu, masih puluhan kamar belum berpenghuni.

Rasa gerah dan kantuk membuat anggota tim studi banding terlelap setelah menempuh waktu 12 jam dari Kupang ke Kota Depok-Jakarta Barat. Awal yang menantang dan melelahkan. Lalu, ilmu penanganan sampah yang bagaimanakah yang ditimba tim pemkot selama di Kota Depok? (bersambung)


Butuh yang Ceriwis (2)

LANTAI lima Kantor Walikota Depok, tempat berlangsungnya dialog antara tim studi banding Pemkot Kupang dan Depok, masih kosong. Dua gadis penerima tamu tampak tersenyum, sambil mempersilahkan semua yang hadir memasuki ruangan.

Meski tidak disambut oleh Walikota Depok, H Nur Mahmudi Ismail, pimpinan unit dari Dinas Kebersihan, Bappeda, serta Dinas Tata Kota Depok, bermunculan menempati ruangan pertemuan.

Asisten Tata Praja Setda Kota Depok, Drs. H Bambang Wahyudi, MM, yang mewakili Walikota Depok, bertutur banyak tentang bagaimana kinerjanya meredam volume sampah yang selalu bertambah dari tahun ke tahun.

Wahyudi melitanikan sejumlah kiatnya untuk menutup 'rasa malu' pemerintahannya yang dinobatkan sebagai kota terkotor. Predikat itu diberikan saat terjadi kevakuman pemerintahan tahun 2005/2006 karena walikota definitif belum terpilih. Warga Kota Depok harus urut dada ketika pemerintah pusat melalui tim penilai mengetuk palu bahwa Depok sebagai kota terkotor se-Jakarta.

Penilaian itu menjadi cambuk bagi pemerintahan masa kini, membebaskan kotanya dari masalah sampah. Berbagai kiat dilakukan seperti memberikan kebebasan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Selain itu, Depok menyiapkan dana yang dikelola Dinas Kebersihan untuk mengelola sampah hampir separuh dari sumber anggaran murni Pemkot Kupang tahun 2008.

Tekad untuk membebaskan Kota Depok dari masalah sampah ditempuh dengan berbagai cara. Pengangkatan 470 pesakon, orang-orang ditugaskan untuk membersihkan sampah di jalan-jalan, ditangani langsung oleh Dinas Kebersihan. Selain memberdayakan pesakon, Dinas Kebersihan menerapkan sistem penanganan sampah mulai dari hilir (rumah penduduk).

Upaya pemilahan sampah dari hilir dilakukan dengan cara memilahkan sampah dari jenisnya. Ibu rumah tangga harus menjadi pemilah utama karena merekalah yang paling banyak mendatangkan sampah ke rumah melalui belanjaan sehari-hari. Maksudnya, setiap RT dan RW harus memilih seorang ibu rumah tangga yang dianggap paling ceriwis (cerewet) untuk mengingatkan tuan rumah agar tidak membuang sampah di sembarang tempat.

Para ibu dinobatkan sebagai duta lingkungan RT dan RW dalam satu Unit Penanganan Sampah (UPS) di 10 kelurahan. Tugas duta sampah ini sudah diketahui oleh seluruh warga dalam satu RT dan RW agar lingkungan menjadi 'klinis.'

Sampah yang keluar dari dapur langsung dipilah berdasarkan jenisnya, seperti sampah plastik, botol, kertas, besi, aluminium serta dedaunan. Sampah disimpan rapi lalu diangkut petugas untuk dibawa ke 10 UPS yang berada di sepuluh kelurahan.

Upaya pemilahan sampah dari hilir dengan menghadirkan ibu yang ceriwis, belum mampu menobatkan Kota Depok sebagai calon penerima kalpataru. Lambang supremasi kota terbersih itu, sampai saat ini belum diraih karena penilaian merebut kalpataru bukan hanya dari aspek penanganan sampah.

Meski belum mengantongi kalpataru, terobosan Dinas Kebersihan Depok untuk menangani sampah dari RT dan RW kini berbuah hasil dan pantas ditiru. Sepuluh UPS yang sudah dibangun dari total 63 yang direncanakan, disadari warga bahwa sampah bukan hal yang menjijikkan dan menggelikan. Sampah bisa dijadikan peluang bisnis baru yang mampu mengepulkan asap dapur rumah tangga.

Kesadaran warga yang tumbuh pesat itu muncul karena sejak tiga tahun terakhir petugas kebersihan secara itens melakukan penyuluhan ke setiap kelurahan.

Upaya sosialisasi dilakukan untuk meredam aliran sampah dari hilir untuk tidak membentuk gunung sampah di TPA Cipayung. Lokasi yang memiliki luas lahan 10.000 ha, diprediksi Pemkot Depok tidak mampu menampung sampah sepuluh tahun mendatang.

Awal tahun 2008, Dinas Kebersihan Depok kewalahan memenuhi permintaan RT dan RW dari 63 kelurahan yang rindu mendapatkan ilmu pengelolaan sampah. Tingginya permintaan mendapat penyuluhan karena warga telah sadar akan manfaat mendaur ulang sampah.

Para kader lingkungan yang terdiri dari para ibu ceriwis, bisa meraup uang Rp 140.000/minggu hasil menjual sampah karena pemerintah telah menetapkan harga setiap jenis sampah.

Satu lokasi UPS mampu memroduksi beraneka jenis sampah 30 meter kubik/hari. Sampah itu, ditetapkan dengan harga bervariasi, seperti sampah kertas, ditimbang dengan harga Rp 300/kg, botol plastik Rp 8000-12.000/kg dan botol atau gelas Rp 150-Rp 200/buah.

Sedangkan jenis sampah gelas plastik atau botol plastik Rp 5.000/kg, beling Rp 50/kg, alumunium 4.000/kg, kaleng Rp 150/kg, besi Rp 200/kg, ban luar Rp 500/ kg dan ban dalam Rp 150/kg. Kenyataannya, setiap jenis sampah itu memiliki nilai rupiah yang bisa memperpanjang hidup manusia.

Ilmu tentang sistem pengelolaan sampah yang baik telah dipahami tim studi banding. Ilmu yang ditimba dengan dana APBD itu, hendaknya tidak diibaratkan membuang garam di laut. Bagaimana seharusnya Pemkot Kupang menyikapi pengelolaan sampah di TPA Alak, Kecamatan Alak, yang saat ini menggunakan teknologi sederhana (open dumping)? (bersambung)


Mengadopsi Sanitary Landfill (3)

LAHAN seluas 10.000 hektar di Cipayung-Depok, Jakarta Barat, terbentang tak bertepi. Agar mata bisa menjelajahi areal itu, kita harus berada di ketinggian. Maklum, lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung telah disulap jadi 'gunung sampah'. Menjulang nyaris menyamai atap bangunan rumah pengawas dengan menyebarkan bau tidak sedap.

Aroma minor dari lokasi TPA Cipayung, tidak membuat warga yang bermukim di sekitarnya menjadi tidak nyaman. Mereka tetap tinggal di lokasi dan secara rutin mengunjungi puskesmas terdekat untuk memeriksa kesehatan.

Setiap bulan, petugas kebersihan melakukan pemantauan terhadap hasil air bawah tanah yang dibangun 50 meter dari lokasi TPA. Sumur yang dibor itu menjadi alat ukur apakah warga sekitar masih layak mendiami lokasi TPA dan mengonsumsi air yang disiapkan. Air bawah tanah yang dikonsumsi warga bisa terkontaminasi oleh tumpukan aneka jenis sampah puluhan tahun silam.

Warga sekitar lokasi secara langsung menangani sampah di lokasi TPA yang diangkut dengan 40 armada truk sampah dari kota menuju lokasi akhir. Sebelum sampah masuk ke lokasi, sampah ditimbang oleh petugas di pintu masuk timbangan untuk mengetahui jumlah sampah yang diperoleh per hari.

Maklum, Pemerintah Kota Depok, Jakarta Barat, menerapkan sistem sanitary landfill yakni mendaur ulang kembali sampah di TPA Cipayung dan 10 Unit Pelayanan Sampah (UPS) kelurahan. Upaya ini guna meredam produksi sampah sebanyak 3.445 meter kubik/hari.

Penerapan sistem sanitary landfill lebih efektif dibandingkan dua sistem lainnya, yakni open dumping (membuang sampah di TPA dan membiarkan pemulung melakukan pemilahan) serta controled landfill (sampah di lokasi TPA ditimbun dengan tanah urukan).

Guna mendukung sistem sanitary landfill dalam pengelolaan sampah, Pemkot Depok mengalokasikan dana sebesar Rp 38 miliar kepada Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup untuk menangani masalah sampah. Dari dana yang ada, dialokasikan Rp 3,5 miliar kepada 10 UPS sebagai perangsang untuk membangkitkan kinerja. Sebab, ke depannya, UPS harus mandiri dalam mendaur ulang sampah.

Selain dana operasional di 10 UPS, seksi pengangkutan dan pengolahan sampah mendapat kucuran dana sebesar Rp 6,9 milar/tahun guna memperlancar pengangkutan dan pengelolaan sampah setiap hari.

Kepedulian Pemkot Depok mengucurkan dana ke UPS telah membuahkan hasil. Kini, 10 UPS bisa mandiri mengelola sampah di sekitarnya. Sampah kering dan basah dipilahkan berdasarkan jenisnya seperti dedaunan hijau, daun kering, kertas, plastik, botol dan besi. Jenis sampah ini langsung dipilah sebelum memasuki mesin daur ulang sampah.

Sampah basah seperti dedaunan, didaur ulang untuk dijadikan kompos dan laris manis dibeli para pengusaha bunga di Kota Depok. Selain dijadikan pupuk dasar tanaman bunga, kompos karya UPS ini juga diserbu petani buah-buahan. Bahkan buah belimbing dipilih Walikota Depok sebagai tanaman untuk dijadikan 'ikon' Depok saat ini.

UPS yang dibentuk di kelurahan bukan hanya mendaur ulang sampah di sekitarnya. Kehadiran UPS di 10 kelurahan itu telah banyak membantu membuka lapangan kerja.

Pemkot Depok yang dinakhodai Walikota H Nur Mahmudi Ismail telah menetapkan target untuk membangun UPS di 63 kelurahan dan empat kecamatan sampai tahun 2010. Program ini telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Kota Depok.

Alasannya, sepuluh tahun mendatang, TPA Cipayung tidak bisa menampung lagi sampah dari Kota Depok. Harus ada lahan baru sebagai penyanggah sampah yang kini disiapkan untuk membangun lokasi penyanggah TPA baru.

Meski saat ini Kota Depok telah memiliki 10 UPS untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, sampah di Kota Depok tetap menjadi masalah serius dan menjadi perhatian pemerintah karena volumenya terus bertambah.

Keseriusan Pemkot Depok dalam menangani masalah sampah itu dengan cara tidak membebankan Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup sebagai satu-satunya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bertanggung jawab menangani masalah sampah di kota yang memiliki luas 20.029 hektar itu.

Dinas Tata Kota dan Kimpraswil Depok juga diberikan keleluasaan untuk memiliki truk sampah sendiri. Pemilikan truk sampah itu untuk memudahkan dua dinas yang ada dalam menangani sampah di lingkungan kerjanya masing-masing.

Selain dinas, ada pihak lain seperti Universitas Indonesia (UI) memiliki armada sendiri untuk menangani masalah sampah di seputar kampus. Sampah yang ada dipilah-pilah berdasarkan jenisnya sebelum diangkut ke lokasi UPS atau TPA.

Pengelolaan sampah menggunakan sistem sanitary landfill lebih efektif dan perlu diadopsi Pemkot Kupang untuk menekan volume sampah di TPA Alak yang kian menggunung. (habis/Pos Kupang Edisi 10, 11 dan 12 September 2008, hal 1) Selanjutnya...